Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Srawung di Kaki Borobudur

Tokoh meditasi gerak, Suprapto Suryodarmo, menggagas acara yang mempertemukan dunia arkeologi, spiritual, dan seni pertunjukan di Borobudur.

i

Kukuluyukk...
Kriikkk… krikkk
Oooaa… eeooo….

Tomoko Momiyama, komponis asal Jepang, tampak bingung. Ia membawa puluhan anak balita desa di Borobudur ke atas panggung Aksobya, yang berada di pelataran timur Candi Borobudur. Dia ingin menyajikan onomatope suara-suara binatang. Tapi anak-anak itu susah diatur.

"Saya mewawancarai orang-orang tua di sini, menggali kenangan mereka bagaimana suasana Borobudur sebelum diberi pagar," kata Tomoko. Dia agaknya terkesan mendengar cerita bagaimana pada 1970-an, saat Borobudur masih belum sepadat sekarang, banyak binatang berkeliaran di sekitar candi. Maka ia tinggal selama beberapa bulan di kawasan Borobudur, melatih anak-anak usia 4 tahun menirukan suara jangkrik, macan, ayam jago, dan kambing. Tomoko memimpin anak-anak itu membawa topeng kertas burung hantu, kambing, dan harimau ke panggung.

Meski amburadul, pentas itu lucu. Suara cadel anak-anak yang tak kompak berebutan menirukan kerbau atau harimau, "Hauww… hauwww", menggelitik perasaan kita. Pentas Tomoko itu merupakan bagian dari acara yang digagas Suprapto Suryodarmo, tokoh seni gerak dari Padepokan Lemah Putih Solo. Pada 20-29 April lalu di Borobudur, dalam acara "Sharing Art Garden", ia mengundang siapa saja untuk berpentas dan berbicara seputar masalah arkeologi, tari, dan ketuhanan.


Setelah Tomoko, misalnya, tampil etnomusikolog Rizaldi Siagian. Ia memainkan gitar gambus dan memperkenalkan gitar gambus bambu buatan etnomusikolog Endo Suanda bersama murid-muridnya dari lembaga Pendidikan Seni Nusantara. Sebelumnya, Madrasah Borobudur maju ke panggung teater. "Kok, kayak acara 17 Agustusan, ya?" ujar seorang penonton. Memang ini pentas campur baur—antara yang tingkat kampung dan yang serius. "Kami sengaja menggabungkan seniman profesional dari Indonesia dan luar negeri dengan seniman pedesaan," ujar Ciptono Hadi, ketua panitia pelaksana.

161835292615

Para peserta berdatangan dengan biaya sendiri. Mereka juga mencari penginapan sendiri. Ada yang spontan berkolaborasi dengan komunitas kesenian setempat. Faturrahman Said, seniman dari Republic Polytechnic Malay Cultural Group Singapura, misalnya, menampilkan silat tradisional dengan iringan belasan penari topeng ireng dan jathilan dari desa sekitar Borobudur.

Pukul 4 sore pada 28 April lalu, penari alusan Sulistyo Tirtokusumo, Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta Profesor Dr Hermin Kusmayati, Suprapto Suryodarmo, dan Sitras Anjalin dari Desa Tutup Ngisor di lereng Gunung Merapi menarikan Umbul Donga Joged Mangenjali, meski penonton tak banyak. Setiap malam, jumlah penonton memang tak tentu. Perupa Arahmaiani pada hari kelima—dengan menggemerincingkan sebuah genta kecil—tampak tenang membacakan puisinya tentang Doi Suthep, sebuah kuil di Chiang Mai, Thailand, meski penonton tinggal hitungan jari. Juga saat aktivis tari dan teater dari Solo, Jarot Budi Darsono, pada malam berikutnya menyajikan repertoar Kunjarakarna. Dia menari dengan bambu-bambu panjang berbendera yang diikatkan ke punggungnya, yang mengingatkan kita pada prajurit perang dalam film Akira Kurosawa.

Pada pagi hari, beberapa pelaku spiritual memimpin pradaksina—berjalan mengelilingi Borobudur. Sayang, acara ini tidak banyak diikuti peserta. Tatkala Agus Bimo Prayitno dari Teater Mantra Klaten melakukan pradasikna sembari menggumamkan bagian dari Sang Hyang Kamahayanikan—kitab suci Buddha dari zaman Majapahit—juga hanya sedikit peserta yang turut serta. Bahkan pada Minggu, karena begitu banyaknya pengunjung di Borobudur, ia urung melakukan pradaksina yang telah dijadwalkan. "Rame banget. Saya enggak bisa berkonsentrasi," katanya.

Acara diskusi lesehan tiap pagi yang diselenggarakan di Museum Kapal Samudraraksa, Borobudur, menampilkan beberapa pembicara. Mulai Dr Paul Stange, peneliti kepercayaan dan aliran kebatinan asal Australia, sampai Swami Nityamuktananda, pengajar yoga dari Jerman. Sesungguhnya diskusi ini menarik bila dikemas dengan baik. Misalnya presentasi Dr Lydia Kieven dari Universitas Goethe, Frankfurt, Jerman, yang membicarakan pengaruh besar Candi Penataran pada penyebaran kisah cinta Panji dan Chandrakirana.

Yang paling menarik adalah ceramah Elizabeth Inandiak, wartawati asal Prancis yang tinggal di Yogyakarta dan dikenal sebagai penerjemah Serat Centhini. Ia menceritakan perjalanannya ke Ladakh, Tibet, pada 1990-an. Setelah sepuluh hari melakukan perjalanan, antara terjaga dan tidur, Elizabeth mendengar suara berbisik bahwa suasana di Ladakh seperti di Jawa. Ia kaget dan penasaran.

"Saat di Yogya, Dr Paul Stange memberi tahu saya memang lebih seribu tahun lalu ada hubungan antara Tibet dan Indonesia. Atisha, guru besar Tibet, pernah belajar di Sumatera," katanya. Sejak saat itu, Elizabeth memburu informasi soal sang Guru Besar. Atisha (982-1054) adalah seorang rahib asal Bangladesh yang melakukan studi di institut agama Buddha, Nalanda. Lalu ia selama 12 tahun belajar konsep bodhicitta kepada Guru Serlingpa Dharmakitri di Sumatera. "Saya yakin ia belajar Muaro Jambi," kata Elizabeth.

Dari biksu Pannavaro Thera, wihara Mendut, Elizabeth mendengar abu Atisha berada di sebuah wihara di Bangladesh. Abu itu mulanya disimpan di Tibet. Saat pemerintah Cina menginvasi Tibet, abu itu dibawa ke Cina. Saat abu itu dipamerkan di salah satu museum di Cina, pemerintah Bangladesh meminta Chou En Lai, Perdana Menteri Cina saat itu, mengembalikan abu tersebut ke tanah kelahiran Atisha. Pada 1978, abu itu dibawa ke Dharmarajika Bauddha Vihara, Bangladesh. Biksu Pannavaro Thera pernah datang dan menyaksikan abu itu di Bangladesh. "Dengan surat rekomendasi dari biksu Pannavaro, saya lalu berangkat ke Bangladesh untuk melihat abu itu," kata Elizabeth. Di sana, dia diberi abu Atisha oleh pengelola wihara. "Saya lalu menyerahkan abu Atisha kepada Dalai Lama," kata Elizabeth.

Seluruh acara terkesan mengalir. Suprap­to Suryodarmo tampak selalu yakin. Gagal atau tidak, ia tampak siap. Di acara apa pun, Suprapto selalu terjun—ikut bergerak, menari bebas, sembari melafalkan mantra-mantra Buddhis. Banyak yang mengharap sesungguhnya acara ini bisa menjadi peristiwa budaya alternatif yang lain daripada yang lain. Para pegiat kesenian mengharap ada pentas-pentas yang mengejutkan dan berenergi kuat. Tapi hal itu tak terjadi. Pertunjukan umumnya biasa-biasa saja. Selama ini Suprapto sering mengadakan acara seperti itu di Candi Sukuh, Karanganyar. Di sana, suasana terasa lebih intim. Di Borobudur, acara dibuat jauh lebih besar sampai susunan kepanitiaan melibatkan aktivis dari Jakarta. Suprapto berharap srawung ini berlangsung sampai ke situs-situs arkeologi luar Jawa.

Tengok penampilan sekelompok pembaca mantra dari Kabupaten Sigi dan Palu. Mereka duduk bersimpuh, mengeluarkan bunyi yang menimbulkan suara disonan yang aneh. "Ya, tahun depan kami akan meneruskan acara ini di gua-gua situs Megalitikum Sulawesi Tengah," kata Toton Hutomi dari Quantum Convex International, yang ikut terlibat mendesain acara ini.

Seno Joko Suyono, Addi Mawahibun Idhom


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835292615



Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.