Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dalam Kuasa Bahasa

Kita dicecar lambang suatu produk yang dikemas dalam bahasa sugestif.

i

Caleg, Selebritas, Kekerasan & Korupsi; Menelusuri Tanda dalam Dinamika Budaya
Penulis: Benny H. Hoed
Penerbit: Komunitas Bambu
Tahun: November 2011, 104 halaman

Kita semua menggunakan bahasa dan cukup sering menyebut kata "budaya". Umpamanya kalau ada yang mempertanyakan cara kita berbuat sesuatu, kita akan menjawab, "Itu memang budaya kita." Namun coba tanyakan apa pendapat orang tentang ilmu pengetahuan budaya, tak semua menganggap ilmu ini ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari mereka. Begitu juga halnya dengan bahasa. "Menganalisis bahasa? Kami terlalu sibuk. Itu kan tugas pakar bahasa," begitu biasanya orang berkilah. Sampai di sini memang bisa dibenarkan, tapi pernyataan lanjutannya yang tak diutarakan biasanya, "Itu bukan urusan kami. Kami hanya menggunakan."

Bahasa adalah bagian penting dari budaya dan sangat erat kaitannya dengan perilaku, cara berkomunikasi, emosi, dan kesadaran identitas. Karena itu, bahasa terbuka pada manipulasi oleh pihak-pihak tertentu. Di sinilah Caleg, Selebritas, Kekerasan, & Korupsi tulisan Benny H. Hoed, cendekiawan pengamat budaya yang tak pernah lengah, berperan krusial. Buku ini adalah kompilasi esai yang dipilih Benny dari tulisan-tulisannya mulai 1969 sampai 2011. Dari 26 yang masuk ke buku ini, 20 sudah pernah dimuat di berbagai media.

Benny menyorot apa yang memotori dan mewarnai bahasa yang kita gunakan dan budaya yang kita hayati dalam kehidupan sehari-hari, bukan berteori-teori di awang-awang. Dan selayaknyalah kita menyimak, apa yang mendorong kita berperilaku begini atau begitu. Kalau tidak, kita cenderung mengikuti arus, mengangkat slogan yang disorongkan di depan hidung karena bunyinya kebetulan enak dan kocak atau membuat kita merasa penting. Padahal secara tidak sadar kita sudah menjadi "corong propaganda" pihak-pihak tertentu.


Simak muatan dalam bahasa iklan. Secara sublimatif kita dicecar lambang suatu produk yang dikemas dalam sugesti keseluruhan yang membentuk perilaku: apa yang kita butuhkan, bagaimana "memajangnya" pada diri kita, dan bagaimana harus bertingkah laku untuk membuktikan kita layak memakai produk itu. Dan, lucunya, kita tidak hanya dengan senang hati "menuruti arahan" pengiklan, tapi juga bangga dalam "menunaikan tugas" ini.

161835668415

Suntikan sublimatif seperti ini juga dilakukan kelompok-kelompok penguasa. Tentu taraf keberhasilannya sangat bergantung pada berapa tajam kesadaran akan apa yang terjadi di sekitar kita. Filsuf sosial dan pakar psiko-analisis Erich Fromm pernah mengatakan, "Sejarah manusia adalah kuburan dari berbagai budaya besar yang terkapar tak berdaya ditimpa bencana, karena mereka tak mampu menghadapi tantangan dengan cara terencana, rasional, dan tanpa paksaan."

Apakah kita secara kolektif bersikap demokratis dan inklusif dalam berbangsa? Benny menujukan lampu sorotnya ke luar dan ke dalam, menempatkan perkembangan bahasa dan budaya Indonesia dalam konteks lebih luas. Dalam esai "Ketahanan Nasional dan Kebudayaan: Sebuah Piramida tanpa Dasar, Sebuah Lagi tanpa Puncak", umpamanya, kita melihat perbandingan pengalaman bangsa Prancis dan pengalaman kita sendiri.

Pemusatan kekuasaan pada zaman Louis XIV (1685-1715) di Prancis melahirkan tatanan sosial-budaya yang meremehkan budaya daerah. Sampai medio abad ke-20, bahasa Prancis dengan lafal Parislah yang dianggap baku dan benar, sedangkan lafal-lafal daerah dianggap lebih rendah. Bahkan guru dari daerah harus "menghilangkan" lafal daerahnya sebelum bisa mendapat pekerjaan mengajar di sekolah. Namun ini tak sempat membunuh kesadaran budaya berbagai daerah, yang melakukan perjuangannya sendiri untuk mendapatkan pengakuan, melalui penonjolan budaya masing-masing. Justru kiat budaya ini membuahkan hasil. Bandingkan dengan situasi Indonesia, yang menurut pengamatan Benny, dipersatukan dengan konsep-konsep politik—keinginan kolektif untuk melepaskan diri dari kolonisasi kekuatan luar. Namun unsur perekat politik akan pupus seiring dengan waktu. Generasi yang menyusul belum tentu merasakan sentimen persatuan yang sama. Di sini unsur budaya akan sangat kuat bila dimanfaatkan dengan baik. Apakah ini sudah sering kita upayakan dan kita lakukan?

Benny juga mengajak melongok pada kekurangan dan kelebihan dari sejumlah aspek budaya dan bahasa, karena tiap unsur tak hitam-putih semata. Namun yang penting, ketika mengambil keputusan bersama, kita paham benar di mana pijakan yang padat dan di mana yang keropos. Cendekiawan yang sudah biasa menulis di media massa ini menuangkan pikirannya dalam bahasa yang enak dibaca sekaligus menggugah pikiran kita.

Dewi Anggraeni


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835668415



Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.