Metropolitan dari Masa Silam - Selingan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan 4/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Metropolitan dari Masa Silam

Situs Buni diyakini pernah menjadi kota yang mapan serta titik penting perniagaan internasional di Pulau Jawa pada akhir zaman prasejarah dan pada masa Kerajaan Tarumanegara.

i
Berpadu dengan terik matahari, obor raksasa di sumur-sumur minyak itu memanggang Babelan pada sebuah siang bulan April yang terik. Tapi belasan bocah yang berkerumun di sebuah lapangan di dekat situ tak peduli oleh sengatan hawa panas yang berpendar-pendar. Mereka asyik bermain dampuh dengan riang. Ini sejenis permainan yang menggunakan batu pipih persegi dari gamping, agat, yasper, dan batu kali. Warna batu itu indah dan bervariasi. Putih, kuning gading, kelabu, dan hitam. Dalam benak anak-anak Babelan, batu-batu itu hanyalah benda yang dibumbui dongeng tentang raksasa bergigi besar. ”Kata engkong saya, ini gigi geledek (halilintar—Red.),” kata Wahyu, 9 tahun, sambil menunjuk batu berwarna kuning gading yang mirip gigi berukuran raksasa. Di mata para arkeolog, benda-benda itu tak ada hubungannya dengan halilintar, apalagi raksasa. Ini beliung persegi masa Neolitikum yang digunakan para leluhur penduduk Babelan sebagai pemahat dan penghalus kayu sejak 2.000 tahun sebelum Masehi. ”Itulah teknologi pertama masa bercocok tanam orang Babelan,” kata R.P. Soejono, arkeolog senior, kepada wartawan TEMPO Ali Anwar. Terletak di pesisir utara Jawa Barat, Babelan bukan hanya kaya beliung persegi, tetapi juga benda prasejarah lain seperti gerabah berbentuk periuk, kendi, dan botol, manik-manik, dan perhiasan emas. Semuanya ditemukan di Kampung Buni, Babelan, yang terletak di tepi Kali Bekasi pada 1958-1960-an. ”Kami menamakannya Situs Buni,” Soejono melanjutkan. Belakangan diketahui bahwa kompleks Situs Buni sejatinya melebar hingga ke Jakarta, Banten, dan Karawang (lihat Cendera mata dari Buni). Di daerah-daerah ini pula berbagai temuan masa awal sejarah sampai Kerajaan Tarumanegara pada abad 5-7 Masehi dapat ditelusuri. Umpamanya, prasasti Tugu di Cilincing dan kompleks percandian di Batu Jaya, Karawang. ”Kompleks percandian itu tertua di Pulau Jawa dan jauh lebih luas dari Borobudur,” ujar Hasan Djafar, arkeolog Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Gejala ini, kata Hasan, memperlihatkan bahwa di Babelan, dan sepanjang pesisir utara Pulau Jawa ba-gian barat, pernah menjadi daerah hunian purbakala yang ramai, tatkala muka laut berada pada ketinggian 4-5 meter di atas muka laut sekarang. Pada 4500 sebelum Masehi, garis pantainya terletak di wilayah Pantai Makmur di sebelah utara Babelan, utara Teluk Naga, Rawa Burung, dan utara Kapuk. Daratan ini amat subur akibat proses erosi dan pengendapan tanah aluvial dari Gunung Pangrango, Gunung Gede, dan Gunung Salak. Aliran sungai yang lebar, didukung tanah yang subur, membuat masyarakat Babelan, yang tadinya hidup nomaden, mulai menetap dan bercocok tanam pada 2.000-500 tahun sebelum Masehi. Dalam buletin Manusia Indonesia (1975), arkeolog I Made Sutayasa menulis bahwa hadirnya beliung di Buni yang amat beragam adalah hasil barter dengan pusat perbengkelan beliung di kawasan pedalaman, antara lain daerah Pasir Kuda dekat Ciawi, Bogor, Klapadua, Purwakarta, dan Tasikmalaya. ”Rupa-rupanya kampung pertanian yang lebih kompleks sudah mulai terbentuk di masa itu,” tulis Sutayasa. Dia memperkirakan, pada masa itu penduduk Babelan sudah berniaga antarpulau dan memiliki ritual penguburan jenazah. Hasan Djafar menambahkan, saat itu Babelan dan sekitarnya telah menjadi sebuah komunitas masyarakat yang mapan, mampu berkomunikasi dan menerima unsur luar. Buktinya, tatkala orang India berdatangan pada akhir prasejarah dan awal sejarah, mereka diterima dengan baik oleh penduduk asli pantai utara. Pengaruh kebudayaan India ikut mewarnai karya seni gerabah dan perhiasan masyarakat asli. Hal ini bisa dilihat pada gerabah Arikamedu—gerabah berbentuk piring dengan tepian agak tinggi asal India Selatan. Gerabah serupa ditemukan di Bali bagian utara. ”Istilah arkeologinya Romano-Indian rouletted pottery,” kata Hasan. Hubungan harmonis dengan kebudayaan India bercorak Hindu-Buddha itu mencapai puncaknya dengan berdirinya Kerajaan Tarumanegara. ”Mustahil sebuah kerajaan berdiri kalau masyarakatnya tidak mapan.” Candi di Karawang, yang berjarak 30 kilometer dari Babelan, dipastikan sebagai pusat religi Tarumanegara. Sedangkan pusat pemerintahan diyakini terletak di sepanjang Cilincing, Bekasi, dan Karawang. Selama berabad-abad, ”Babelan dan sekitarnya menjadi kawasan metropolitan masa lampau,” Hasan menjelaskan. Pada abad ke-7, sekonyong-konyong nama Tarumanegara hilang dari peredaran. Diduga, Tarumanegara runtuh karena diserang Kerajaan Sriwijaya. Setelah itu, kerajaan yang dikenal di Jawa Barat adalah Kerajaan Sunda. ”Kerajaan Sunda adalah penerus dari Tarumanegara,” kata Hasan. Pengelana Tome Pires mencatat, pada tahun 1500, Kerajaan Sunda memiliki lima pelabuhan penting, yakni Tanghara (Tangerang), Kalapa, Cigede, Pontang, sampai Indramayu. Tapi yang terbesar adalah Kalapa, dengan ibu kotanya di pedalaman, Pakuan Pajajaran. Bagaimana dengan Babelan dan peran Kali Bekasi? ”Praktis mengalami kemunduran,” ujar Hasan. Nama Bekasi mencuat kembali pada 1626-1628, ketika pasukan Sultan Agung dari Mataram menjadikan Bekasi sebagai basis pertahanan untuk menyerang benteng VOC di Batavia. Ketika kaum kapitalis menguasai tanah Bekasi pada awal abad ke-20, kehidupan penduduk kian terpuruk dari segi ekonomi dan pendidikan. Proklamasi kemerdekaan sempat mengangkat harkat dan martabat penduduk Babelan, ketika pejuang dan ulama K.H. Noer Alie mendirikan pesantren terbesar di sana, At-taqwa. Sayangnya, pembangunan pemerintah, yang lebih berpihak kepada sektor ekonomi kapitalis, menggilas harapan masyarakat yang masih bercita-cita memelihara jejak-jejak peradaban masa silam. Lihat saja pembangunan Canal Bekasi Laut (CBL), yang membelah Babelan, kini malah menjadi saluran pembuangan limbah industri, dan menjadi got raksasa. Terakhir, pengeboran minyak, yang tak didahului oleh analisis dampak lingkungan, menimbulkan pencemaran dan dikhawatirkan merusak situs Buni. Dan melenyapkan gigi-gigi halilintar yang menjadi mainan Wahyu dan para bocah di kampung-kampung Babelan.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 11:50:19


Selingan 4/6

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB