Selingan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Trauma Perang Menjadikan Romo Pembela Wong Cilik

Wawancara dengan sutradara film "Sang Manyar: Nyanyian Pinggir Kali", Sergius Sutanto, soal pilihan cerita dalam film soal rohaniawan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya alias Romo Mangun.

i Sergius Sutanto, Sutradara film dokumenter Sang Manyar. Dok. Pribadi
Sergius Sutanto, Sutradara film dokumenter Sang Manyar. Dok. Pribadi

SANG Manyar: Nyanyian Pinggir Kali adalah satu dari segelintir film yang lahir di tengah pandemi tahun ini. Runyamnya proses produksi film arahan Sergius Sutanto ini segaris dengan lika-liku kehidupan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya alias Romo Mangun, yang menjadi figur sentral cerita, baik saat Romo memperjuangkan kaum marginal di permukiman Kali Code, Yogyakarta, maupun di Kedung Ombo, Jawa Tengah.

Di balik kerja kemanusiaan itu, Romo Mangun sejatinya tersangkut trauma yang ia alami saat menjadi personel Tentara Keamanan Rakyat. Sergius menjelaskan, sisi lain itulah yang hendak ia ekspos dalam filmnya, yang didanai Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Film ini adalah ruang yang enak untuk sedikit liar (menginterpretasi peristiwa). Namun tetap saja saya tidak mau menyudutkan pihak tertentu,” ujar Sergius, yang juga penulis novel Mangun, saat dihubungi melalui telepon, Sabtu, 19 Desember lalu. Berikut ini petikannya:


Kenapa Anda memilih format dokudrama untuk film ini?


Kalau saya membuat dokumenter, itu hanya akan menjadi pengulangan dari banyak yang sudah ada. Saya juga enggak mau filmnya sekadar memadukan foto-foto karena footage Romo Mangun enggak banyak. Saya ingin berada ada di tengah, memadukan dokumen yang ada dan merekonstruksi sejumlah peristiwa dengan treatment layar lebar.

161876472494

Romo Mangun mempunyai banyak fragmen dalam hidupnya yang menarik. Mana yang paling hendak Anda angkat?

Saya ingin menaikkan satu pertanyaan ke permukaan: apa sih yang membuat Romo Mangun sangat gigih membela rakyat cilik? Ternyata trauma masa lalulah yang membuat dia punya semangat besar. Meminjam istilah Romo Mangun, beliau ingin membayar utangnya kepada rakyat. Trauma ini terkait dengan sejarah beliau saat menjadi personel Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Rasanya ngeri-ngeri sedap karena di film ini saya menunjukkan sisi lain perang, tapi dengan cara yang soft. Selama ini kita hanya memahami bahwa Belanda dan Jepang-lah yang melakukan kekerasan terhadap rakyat. Padahal TKR pun ikut melakukannya. Romo Mangun merasa ikut ambil bagian di situ. Karena itu, pengalaman tersebut menjadi katalisator besar yang mengubah pandangannya. Tentu saya juga menyoroti sosok Romo Mangun yang multitalenta.

Dari riset praproduksi, adakah hal baru soal Romo Mangun yang baru Anda dapati?

Tidak ada, karena kebetulan saya sebelumnya menulis novel soal beliau yang berjudul Mangun. Narasumber saya untuk buku itu kembali saya wawancarai untuk film. Walau memang masih ada kecolongan sedikit. Misalnya, film tak mengeksplorasi sosok Romo Mangun yang galak dan nyinyir. Warna vespa Romo di film itu biru, padahal sebenarnya putih. Itu karena kami sudah nyari ke mana-mana tapi enggak ketemu. Oh, iya, saya ngotot memasukkan adegan pertemuan Romo dengan B.J. Habibie di sebuah gereja di Jerman karena kebinekaan keduanya menggetarkan. Saya ingin menyuntikkan semangat yang sama ke penonton. Walau, ya, saya tahu tak mudah menggerakkan hati masyarakat kita di situasi seperti sekarang.

Berapa lama proses produksinya?

Total dua bulanan, termasuk reading naskah dan syuting 12 hari. Film ini harus rampung akhir November sesuai dengan tenggat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebab, dana pembuatan film ini dari Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kemendikbud yang mengusung tema “Harmoni dalam Kebinekaan”.

Film ini diproduksi di tengah pandemi. Bagaimana mengakalinya?

Harus ekstrasabar walau pada prinsipnya kami tunduk pada aturan, he-he-he.... Soalnya, kami syuting di Yogyakarta, sementara kru datang dari Jakarta. Ketika masuk Yogyakarta, kami kayak pengidap kusta yang ditakuti. Karena enggak bisa syuting di tengah kota, kami pun ke Girimulyo (Kabupaten Kulon Progo). Di sana sekitar 60 orang kru menjalani rapid test. Kami juga mematuhi protokol kesehatan, tak membuat kerumunan yang berisi lebih dari sepuluh orang.

Saat casting, susahkah menemukan pemeran Romo Mangun?

Casting adalah tahap yang paling menguras waktu. Hampir sebulan kami mencari pemeran Romo, tapi belum ada yang cocok. Sampai-sampai saya berniat pending dulu produksinya. Namun akhirnya H-1 kami ketemu orang yang secara penampilan mendekati Romo Mangun. Belum lagi kami keteteran menyeleksi pemain yang jumlahnya banyak. Saya sampai diledekin teman-teman, sebenarnya ini lagi bikin dokudrama atau layar lebar?

Selain kemiripan fisik, apa yang membuat Anda memilih Ojing Raharjo memerankan Romo Mangun?

Basic-nya dia itu kru, tapi juga seorang pemain teater di Yogyakarta. Saya meminta Ojing tidak usah berusaha menjadi Romo Mangun. Cukup dapatkan rohnya. Saya memberinya buku-buku terkait dengan Romo Mangun untuk bacaan risetnya.

ISMA SAVITRI

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161876472494


Film

Selingan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.