Film Diam & Dengarkan, Sebuah Jeda di Tengah Pandemi - Selingan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mereka Berbicara tentang Bumi

Film Diam & Dengarkan diproduksi dan dirilis di masa pandemi. Sebuah upaya kolektif untuk memperlambat laju kerusakan alam. 

i Film Diam & Dengarkan diproduksi dan dirilis di masa pandemi. Sebuah upaya kolektif untuk memperlambat laju kerusakan alam./Tempo/Jati Mahatmaji
Film Diam & Dengarkan diproduksi dan dirilis di masa pandemi. Sebuah upaya kolektif untuk memperlambat laju kerusakan alam./Tempo/Jati Mahatmaji

SAAT Prajna Murdaya berbicara, kilasan potongan koran yang menjelaskan latar belakang dirinya muncul di layar. “Murdaya Poo: Kaya dari Jual Koran sampai Bangun Pondok Indah”, lalu “Siti Hartati Murdaya: 5 Perempuan Terkaya di Indonesia”. Prajna adalah anak lelaki tertua dari pasangan konglomerat pemilik grup Central Cipta Murdaya itu. Grup ini mengelola usaha real estate, manufaktur, teknologi informasi, hingga agrobisnis. Privilese menyertai Prajna sejak lahir walau dia baru menyadari itu pada usia 20 tahun. “Jika orang tua saya ingin membeli rumah, mereka langsung tanda tangan cek dan membelinya. Jika ingin mobil, mereka bayar dengan uang tunai,” ujar Prajna dalam salah satu segmen film dokumenter Diam & Dengarkan

Namun, saat sesi wawancara virtual itu, Prajna, yang kini berusia 44 tahun, terlihat tertunduk dan bermuka kuyu. “Banyak orang mungkin menganggap saya sangat beruntung. Seharusnya saya senang,” ucap Prajna, yang selalu berbicara dalam bahasa Inggris. “Namun saya tidak merasa senang.” 

Wawancara Prajna disertakan pada bab keenam sekaligus terakhir film dokumenter tentang krisis bumi yang dibuat oleh Mahatma Putra dan Anatman Pictures itu. Bagian ini hendak menyampaikan bagaimana anggapan bahwa uang dan materi dapat menyelesaikan hampir semua masalah di muka planet ternyata tak terbukti. Setelah dua dekade menjadi penerus raksasa bisnis keluarga, Prajna hanya merasa sebagai boneka kedua orang tuanya. Di titik terendah dalam hidupnya, Prajna bisa jatuh sakit dua minggu sekali. Dia sakit lever hingga terancam terkena sirosis dan kanker. Lalu, suatu hari, lulusan Stanford University itu memutuskan berhenti begitu saja dari perusahaan keluarga. “Saya hanya diam di rumah dan tidak menunjukkan diri,” katanya. 


Bagian Pertama, Kiamat yang Tak Terhindarkan dari Film Diam dan Dengarkan , produksi Anatman Picture./Youtube/Anatman Picture

Suara penyanyi Andien Aisyah sebagai narator kemudian mengisi jeda di antara kisah Prajna. “Uang hanya bisa membawa kebahagiaan sampai level tertentu,” tutur Andien. Tentu kita bisa berdebat tentang premis yang menyederhanakan masalah ini. Namun poin yang disampaikan selanjutnya cukup dapat disetujui. Mengutip Hans Rosling, ahli statistik Swedia, Andien menarasikan bagaimana makin tinggi tingkat kesejahteraan manusia, makin meningkat pula konsumsi, jejak karbon, dan kerusakan lingkungan yang diciptakannya. Kesimpulan akhir film dokumenter ini seklise perubahan harus dimulai dari diri sendiri, tapi disampaikan dengan lebih sastrawi dan menyentuh hati. 

Sebelum sampai ke bab terakhir, Diam & Dengarkan menuntun kita kepada macam-macam persoalan bumi yang dibagi dalam enam bagian. Tiap bab diantarkan oleh suara narator yang berbeda. Sebagai pembuka adalah Christine Hakim, yang suara lirihnya dapat menggugah perhatian sejak detik pertama. Lalu ada Dennis Adhiswara, Arifin Putra, Eva Celia, Nadine Alexandra, dan Andien Aisyah. Sebelumnya, tiap chapter dikeluarkan bergiliran di kanal YouTube Anatman Pictures. Lantas film utuh yang menggabungkan semua bab dirilis pada 28 Juni lalu. Hingga Jumat pagi, 17 Juli lalu, Diam & Dengarkan telah ditonton lebih dari 660 ribu kali dan dikomentari lebih dari 4.000 pengguna. 

Chapter pertama dengan judul “Kiamat yang Tak Terhindarkan” berperan sebagai jangkar argumen film dokumenter ini. Bab ini membahas hakikat manusia dan posisi kita di alam semesta. Lewat wawancara virtual dengan pakar neurologi, Ryu Hasan, film ini menawarkan pandangan bahwa sejak mula peradabannya, manusia telah menjadi pemantik kiamat bagi spesies lain. Namun spesies manusia pun bisa terancam punah dengan sama mudahnya. Pandemi Covid-19 yang sedang mengacak-acak seluruh tatanan sistem dunia adalah pengingat dan bukti atas hal ini. Agar tak menjadi akhir bagi satu sama lain, pandemi patut dijadikan momentum agar manusia kembali menyadari posisinya di semesta. “Akhirnya ada jeda, untuk dunia berhenti, untuk manusia berhenti dan merenung. Melahirkan cinta bagi sesama, sesama makhluk hidup lain,” ucap Christine. 

Masih dengan narasumber yang sama, episode kedua segera menawarkan solusi: spiritualitas. Dalam bab berjudul “Mens Sana in Corpore Sano” ini dikemukakan gagasan bahwa spiritualisme adalah temuan terbesar yang memungkinkan manusia berefleksi dan memberi arti pada hidup, hal yang dibutuhkan untuk berharmoni dengan alam. Solusi tersebut terkesan tak praktis, tapi menegaskan bahwa film ini memang memilih arah narasi tertutup. Satu-satunya jawaban yang ditawarkan adalah bahwa tiap individu manusialah, bukan politik elite atau kerakusan korporasi atau hal lain, yang menjadi biang keladi hancurnya bumi.  

Kerajaan Plastik, salah satu bagian dari film dokumenter Diam dan Dengarkan yang dinarasikan oleh Arifin Putra produksi Anatman Picture./Anatman Picture

Bab-bab selanjutnya menyinggung apa saja persoalan lingkungan hidup yang makin buruk di sekitar kita. Ini tergambar dari judul-judulnya, yaitu “Kerajaan Plastik”, “Air Sumber (Gaya) Hidup”, dan “Kehutanan Yang Maha Esa”. Ada tiga-empat narasumber dari beragam latar belakang yang dihadirkan untuk membicarakan setiap topik, antara lain Muhammad Reza Cordova (peneliti oseanografi), Didiet Maulana (desainer), Butet Manurung (guru Sokola Rimba), Max Mandias dan Helga Angelina (pemilik bisnis kuliner berbasis tanaman Burgreens), serta Salsabila Khairunisa (pelajar yang menginisiasi gerakan mogok sekolah untuk lingkungan ala Greta Thunberg).  

Membahas semua aspek krisis lingkungan dalam satu film adalah sebuah proyek ambisius. Satu permasalahan saja, industri fast fashion misalnya, belum tentu tuntas dibahas dalam satu film panjang sebagaimana yang dicoba dilakukan oleh Andrew Morgan dalam The True Cost (2015) atau Mark Angelo lewat River Blue (2017). Kreator Diam & Dengarkan, Mahatma Putra, mengamini bahwa film ini tak dimaksudkan untuk menjadi film yang membahas isu lingkungan secara spesifik dan dalam, pun tak banyak memberikan informasi baru tentang isu tersebut. “Informasi yang ada dalam film ini sudah bertebaran di mana-mana. Diam & Dengarkan hanya merangkum pengetahuan dan fenomena yang terjadi,” ujarnya lewat wawancara tertulis, Rabu, 15 Juli lalu.

• • •

FILM dokumenter yang menyuarakan topik aktivisme lingkungan bukanlah hal baru. Sejarah produksinya dapat ditelusuri hingga pada 1930-an. Pare Lorentz membuat The Plow That Broke the Plains (1936), tentang kesalahan pengelolaan lahan pertanian di Amerika Utara yang memicu badai debu besar. Dalam buku The Environmental Documentary: Cinema Activism in the 21st Century, John A. Duvall juga telah mengatalogkan hampir semua film dokumenter lingkungan yang dibuat pada abad ke-21, dari yang paling terkenal seperti An Inconvenient Truth (2006) hingga yang kurang didengar. Buku setebal 320 halaman itu juga mencetuskan istilah “ekosinema” untuk gerakan aktivisme lingkungan yang dilakukan lewat film. Menurut Duvall, pembuat film bertema lingkungan menunjukkan peran ganda sebagai peneliti, praktisi film, dan aktivis lingkungan untuk menghasilkan karya yang dapat menginspirasi perubahan nyata pada level personal, lokal, dan global. 

An Inconvenient Truth yang dibuat oleh mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore, disebut sebagai pionir film dokumenter lingkungan milenium ketiga. Film ini salah satu film dokumenter terlaris sepanjang masa dan memenangi piala Oscar kategori Best Documentary Feature pada 2006. Lewat pidato dan tampilan gambar-gambar mengerikan ramalan kehancuran dunia akibat pemanasan global, Al Gore berupaya menggerakkan perubahan. Film ini juga membawa Al Gore meraih Hadiah Nobel Perdamaian setahun kemudian. Satu dekade setelahnya, sekuel film ini dibuat. Kabar buruknya, tak ada perbaikan berarti yang terjadi pada bumi dalam rentang waktu tersebut. 

Memanfaatkan pengaruh besar figur publik terus menjadi salah satu tren pembuatan film dokumenter lingkungan. Aktor Hollywood, Harrison Ford dan Leonardo DiCaprio, termasuk yang turut serta dalam proyek turun langsung ke berbagai sudut bumi untuk melihat dampak perubahan iklim. Indonesia menjadi salah satu tempat mereka mampir. Ford berpartisipasi dalam proyek Years of Living Dangerously (2014) yang mengangkat soal deforestasi di Indonesia akibat industri sawit. DiCaprio merilis serangkaian dokumentasi bencana iklim lewat Before the Flood (2016) dan Ice on Fire (2019). 

Bagian ke-4 Air Sumber (Gaya) Hidup yang dianarasikan Eva Celia dalam Diam dan Dengarkan produksi Anatman Picture./Anatman Picture

Di Indonesia sendiri, selain Anatman Pictures, Watchdoc yang didirikan Dandhy Laksono telah menangguhkan diri sebagai produsen film dokumenter bertema advokasi lingkungan. Di bawah judul Ekspedisi Indonesia Biru, Watchdoc mendokumentasikan berbagai kearifan lokal suku-suku kita dalam menjaga bumi yang makin terdesak akibat krisis lingkungan dan konflik kepentingan. Satu karya Watchdoc yang paling fenomenal tentu Sexy Killers, yang meledak tepat sebelum pemilihan presiden tahun lalu. Saat tulisan ini disusun, video Sexy Killers di YouTube telah ditonton 32 juta kali. Tak ada film dokumenter lain (atau film apa pun) di Indonesia yang menyamai rekor ini. 

Seperti Diam & Dengarkan, Sexy Killers memberikan narasi tertutup. Meminjam kalimat peneliti Eric Sasono dalam ulasan tentang film-film Watchdoc, semua informasi yang dibutuhkan penonton untuk memahami persoalan telah dihidangkan dalam Sexy Killers. Bahkan film itu sekalian memilihkan jawaban bagi penonton tentang kepada siapa harus berpihak. Namun, berbeda dengan Diam & Dengarkan yang menyasar kesadaran individu untuk mengubah perilaku pribadi, pendekatan Dandhy Laksono dan tim Watchdoc adalah advokasi kebijakan ekonomi-politik. 

Yang baru-baru ini juga mendapat perhatian dalam ranah dokumenter lingkungan Indonesia adalah film Semes7a yang diproduseri aktor Nicholas Saputra. Film tentang tujuh figur penyelamat bumi di berbagai tempat di Nusantara ini dapat diputar di bioskop meski dengan layar terbatas. Ini langkah besar untuk film dokumenter Indonesia yang umumnya cukup disalurkan lewat YouTube atau pemutaran di komunitas lokal.  

Wawancara Butet Manurung pada bagian Kehutanan yang Maha Esa dalam Diam dan Dengarkan, produksi Anatman Picture./Anatman Picture

Jika dibandingkan dengan film berbahasa asing yang menyasar audiens global, memang film dokumenter lingkungan yang dekat dengan penonton Indonesia masih sedikit sekali. Diam & Dengarkan mengisi ceruk ini, dan dijalankan pada waktu yang paling tepat, yakni di tengah situasi pandemi. Film ini memberikan bahan untuk dipikirkan dan didiskusikan tentang ketidakpastian yang sedang kita hadapi. Diam & Dengarkan dapat dilihat sebagai sebuah buku saku yang memuat semua informasi penting tentang krisis lingkungan dalam satu tempat, lewat format sederhana, dan tetap punya kekuatan untuk menyentuh tanpa terlalu banyak menakut-nakuti. 

Formula yang dipakai Mahatma Putra untuk film ini tak jauh berbeda dengan film dokumenter ekspositoris umumnya. Alur argumen dibangun lewat teks, gambar, dan suara dengan narator sebagai pengarah. Yang berbeda adalah film ini diproduksi sepenuhnya pada masa pandemi sehingga seluruh kebutuhan materi untuk film hanya dapat dipenuhi lewat Internet. “Pertama kali dapat ide ini, saya langsung bagi jadi enam chapter. Lalu saya ajak semua anggota tim Anatman berdiskusi lewat Zoom dan mencari cara recording wawancara online,” kata Putra, yang menulis kerangka dasar film tersebut dalam waktu 30 menit saja. 

Tim Anatman bekerja dari rumah masing-masing yang tersebar di Mojokerto dan Malang, Jawa Timur, serta Yogyakarta. Putra sendiri sedang di kampung halaman istrinya di Cowes, Victoria, Australia, sejak April lalu dan tak bisa kembali ke Indonesia karena pembatasan sosial. Narator dan narasumber juga cukup dihubungi secara virtual. Kondisi ini ternyata malah memudahkan Putra untuk mendapatkan waktu wawancara dengan narasumber, termasuk yang sedang berada di luar negeri. 

The Plow That Broke The Plains garapan Papa Lorentz tahun 1936./coloradoencyclopedia.org

Putra mengungkapkan, banyak yang sukarela membantu terwujudnya film ini. Salah satu yang paling tak diduga adalah kesediaan Christine Hakim menjadi narator. Christine langsung mengiyakan saat pertama kali diminta melalui pesan WhatsApp. “Saya tak ada alasan untuk menolak. Ini persoalan kita bersama dan siapa pun punya kewajiban menyebarluaskan pesan film ini,” tutur Christine saat dihubungi lewat telepon. 

Perekaman suara dilakukan di rumah Christine sendiri dengan arahan dari Putra lewat panggilan video. Dia pernah menjadi narator film pendek tentang kampanye lingkungan, Alam Berbicara, produksi Conservation International. Narasi film ini diterjemahkan dari bahasa Inggris dengan narator asli Julia Roberts. Diam & Dengarkan membuat Christine bersemangat karena diproduksi oleh sineas Indonesia. “Sejak dikirimi skrip, saya sudah senang sekali karena sangat informatif dan artikulatif,” ucapnya. “Hasilnya juga bagus secara filmis, tidak didramatisasi, didukung narasumber yang kompeten tapi tidak sok tahu dan menggurui.” 

Beberapa narasumber kadang berbicara atau menyelipkan istilah bahasa asing. Film ini memastikan pesan narasumber tetap tersampaikan dengan selalu menyediakan terjemahan berbahasa Indonesia yang baik di bagian bawah.   

Narasumber yang tepat dan elemen visual yang selalu dapat mengilustrasikan apa yang sedang dinarasikan adalah keunggulan film ini. Penyelarasan ini bukan hal mudah mengingat mereka tak bisa memproduksi sendiri elemen gambar yang dibutuhkan, hanya dapat mencari-cari gambar berdomain publik di lautan Internet. Keterbatasan ini memberikan efek unik pada film karena gambar yang muncul kadang begitu tak terduga. Cuplikan episode Kamen Rider, Charlie Chaplin, hingga Wiro Sableng turut disertakan, tapi dengan penyuntingan yang pas sehingga tak menjadi janggal.  

Sexy Killers (2019) produksi Watch Dooc/Youtube

Anatman Pictures memberikan lisensi Creative Commons pada film ini dan mengundang siapa saja untuk mengunggah ulang atau menyunting lagi setiap bagian film agar pesannya dapat menjangkau lebih banyak orang. Sudah ada beberapa akun di YouTube yang mengunggah ulang potongan-potongan film ini. Menurut Putra, seorang sukarelawan juga telah menawarkan diri untuk menerjemahkan film ini ke bahasa Jerman. 

Hal menarik lain, Anatman Pictures mengembangkan sebuah situs bernama Diamdengarkan.com untuk mendukung film ini. Selain berisi informasi tentang film, situs ini menyediakan daftar tautan untuk menonton film-film dokumenter lain tentang lingkungan. Ada juga bagian yang mendaftar berbagai inisiatif penyelamatan lingkungan dengan tautan untuk berdonasi atau berpartisipasi. “Sejak awal kami berpikir, setelah menonton dan tersentuh, lalu apa?” kata Putra. “Jadi kami beri rekomendasi film dan meneruskan kampanye-kampanye lingkungan yang sudah ada agar tiap orang dapat berbuat sesuatu dengan cara masing-masing.” 

MOYANG KASIH DEWIMERDEKA

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-08-13 04:00:14

Lingkungan Hidup

Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.