Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pilihan Panggung Para Komedian

Pembatasan kegiatan masyarakat akibat pandemi Covid-19 mengubah cara orang bekerja, termasuk para komika. Tanpa interaksi dengan penonton langsung, mereka kesulitan melakukan stand up comedy. Sebagian beradaptasi dengan merekam karya mereka, meski tanpa derai tawa penonton. Yang lain memilih tetap membuka panggung tatap muka dengan berbagai persyaratan.

i Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo di Kelapa Gading, Jakarta. TEMPO/Ilham Fikri
Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo di Kelapa Gading, Jakarta. TEMPO/Ilham Fikri
  • Pandji Pragiwaksono memilih membuka panggung tatap muka dengan persyaratan protokol kesehatan yang ketat selama pandemi. .
  • Sakdiyah Ma'ruf melakukan rekaman berulang kali agar humor yang ia ciptakan tersampaikan.
  • Andi Wijaya menjual rekaman yang telah diedit ketimbang melakukan pertunjukan siaran langsung. .

Pandji Pragiwaksono

PANDEMI membuyarkan rencana Pandji Pragiwaksono untuk menggelar berbagai acara, termasuk stand up comedy mingguannya, “Comika Monday Markette”, dan tur tahunan yang kali ini bertajuk “Komoidoumenoi”. Pandji awalnya berencana menyelenggarakan “Komoidoumenoi” pada April 2020, tapi tur dunia itu diundur beberapa kali akibat pagebluk. “Awalnya April, ke Juni, lalu ke Desember, sampai akhirnya tahun ini,” katanya, Senin, 18 Januari lalu.

Pandji, 41 tahun, sudah mengikhlaskan beberapa acara tersebut diundur, bahkan dibatalkan, ketika pandemi mulai menghantam. Ia tidak manggung sampai waktu yang tak pasti. Ia mengisi waktunya, antara lain, dengan menggelar acara komedi lewat Instagram Live bertajuk #LYLAshow di akunnya. Ia juga mengisi beberapa acara secara virtual. Namun lama-lama ia tak tahan. “Ternyata sebagai seniman saya enggak mampu untuk diam,” ujarnya.

Ia dan kawan-kawannya akhirnya mengkonsep pertunjukan yang aman ditonton secara langsung. Pementasan yang juga bisa dilihat secara daring atau online itu dilakukan di luar ruangan dengan kapasitas sangat terbatas dan dengan protokol kesehatan yang ketat. Baik panitia maupun penonton yang melihat langsung harus dites usap terlebih dulu, menggunakan masker, dan dicek suhu tubuhnya. 


Acara berjudul “Keadaan Kahar” itu akhirnya bisa terselenggara pada 20 Desember 2020, ditonton secara langsung oleh 66 orang dan 1.000 lebih tiket untuk menonton secara daring terjual. “Dengan segala inovasi, akhirnya terlaksana, dan sampai sekarang belum ada kabar bahwa yang menonton positif Covid-19,” tuturnya.

162038264452


Sakdiyah Ma’ruf

Komika wanita, Sakdiyah Ma'ruf, di rumahnya, Yogyakarta. TEMPO/STR/Pius Erlangga

PAGEBLUK benar-benar memukul Sakdiyah Ma’ruf. Selama ini ia lebih nyaman tampil langsung di depan penonton untuk mendengar respons langsung mereka terhadap banyolannya. “Saya ini anak live show banget, saya bahkan enggak bikin (akun) YouTube,” ucapnya, Jumat, 22 Januari lalu. 

Namun, karena pemberlakuan aturan pembatasan pertemuan, para klien memintanya tampil via daring atau online. Sakdiyah, 38 tahun, harus menghibur penonton lewat Zoom, dengan kondisi mikrofon bahkan kamera para peserta dimatikan. Jadi ia tak bisa melihat atau mendengar reaksi penonton terhadap leluconnya. “Saya enggak tahu mereka ketawa atau enggak,” ujar Sakdiyah, yang masuk dalam 100 BBC Women atau perempuan paling berpengaruh dan penginspirasi versi BBC pada 2018.

Ada pula klien yang meminta Sakdiyah merekam penampilannya untuk mengantisipasi gangguan jaringan Internet. Hal ini lebih sulit lagi karena ia harus berpura-pura ada penonton di depannya. Ia harus merekam berulang kali agar lawakan yang ia sampaikan membuat penonton tertawa dan pesan yang dibungkus dalam komedi itu sebisa mungkin sampai ke penonton. “Untuk rekaman 15 menit saja, kadang saya butuh waktu tiga jam untuk merekam,” tuturnya.

Sakdiyah melakukan banyak adaptasi karena perubahan cara bekerja ini. Ia antara lain lebih mengembangkan isu yang ia bawakan, termasuk yang relevan dengan pandemi, mematangkan proses penulisan materi, belajar membuat konten, dan memperluas jejaring pekerjaan. Beberapa kali, misalnya, ia diminta tampil dalam acara yang diselenggarakan di negara lain. “Pernah open mic di Malaysia dan Meulborne lewat Zoom,” ucapnya.


Andi Wijaya

Andi Wijaya, komika yang akrab dengan nama panggung Awwe saat ditemui di sela kesibukannya di Jakarta, Kamis 21 Januari 2021. TEMPO/ Nurdiansah

ANDI Wijaya alias Awwe memutuskan mengambil pekerjaan via daring sejak pandemi melanda. Beberapa kali ia diundang memberi hiburan, seperti untuk acara seminar atau rapat yang diselenggarakan oleh perusahaan. Awwe diminta melawak di depan kamera yang sudah diatur oleh panitia. “Penontonnya ada di rumah masing-masing,” katanya, Senin, 18 Januari lalu.

Awwe, 35 tahun, juga membuat acara podcast yang bisa ditonton secara langsung. Jumlah penontonnya hanya setengah dari kapasitas ruangan. Rekaman tersebut dapat diunduh dengan cara membayar. Ia juga membuat show sendiri yang rekamannya dijual di platform digital.

Ia pun membikin konten video sendiri dari rumah. Awwe, yang semula hanya memikirkan materi jokes di depan penonton, kini belajar membuat video, dari membuat latar belakang, menata kamera, pencahayaan, sampai mengedit video. “Ternyata sangat menyenangkan,” tutur Awwe, yang berperan dalam Cek Toko Sebelah The Serries.

Sampai kini ia menolak melakukan pertunjukan yang disiarkan langsung. Menurut Awwe, nuansa stand up pertunjukan langsung kurang terasa lantaran ia tak bisa mendengar tawa atau melihat reaksi penonton secara langsung. “Mending penonton beli rekamannya saja, sudah diedit rapi,” ucapnya. 


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=162038264452


Kabar Pandemi PSBB Covid-19 Virus Corona Pelawak

Pokok dan Tokoh 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.