Kemenangan Indonesia di Panggung Fisika - Opini - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Opini 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kemenangan Indonesia di Panggung Fisika

Kemenangan murid Indonesia di panggung fisika internasional membuat kita percaya masih ada yang baik di negeri ini.

i

Yohanes Surya percaya pada mimpi. Pada keajaiban. Pada cita-cita besar. Dan tentu saja pada kerja keras. Semua itu terlihat nyata dengan kemenangan anak didiknya, Septinus George Saa, yang berhasil meraih medali emas dalam lomba fisika internasional "First Step to Nobel Prize in Physics".

Untuk negeri yang tak habis-habisnya dicerca di panggung internasional karena dianggap punya angka korupsi yang tinggi, karena tak becus menangani hak asasi manusia yang lemah, karena peradilannya tidak adil, karena tak beres menangani penderita HIV dan berbagai penyakit lain yang beberapa bulan terakhir menyerbu dan mematikan penduduknya, berita kemenangan George sungguh sebuah kejutan yang menyenangkan. Ternyata masih ada matahari setelah kegelapan malam yang begitu lama. Ternyata masih ada Yohanes Surya yang menghasilkan begitu banyak jago fisika Indonesia.

Septinus George Saa adalah pelajar Sekolah Menengah Umum 3 Jayapura, Papua, yang mengajukan penelitian berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor yang dinilai oleh fisikawan dari 30 negara sebagai karya yang luar biasa (lihat rubrik Pendidikan: Tukang Bolos itu ke Polandia). Dia dianggap berhasil membawakan sebuah topik yang menarik dan jalan keluar yang kreatif. Bahkan, menurut Yohanes Surya, formula yang ditemukan George layak disebut "George Saa Formula" karena dia memperkenalkan formula yang orisinal.


Selain kehebatan George, sebetulnya yang layak diperhatikan dan ditiru adalah semangat Yohanes yang begitu inspiratif di tengah pesimisme, apatisme, dan sinisme yang semakin lama menjadi bahasa yang dominan di Indonesia. Bersama Roy Sembel, Yohanes Surya mendirikan Yayasan TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia), yang kerjanya menjaring murid berbakat fisika di seluruh Indonesia.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTE6NDg6NTkiXQ

Mereka kemudian digembleng untuk bisa mengikuti salah satu dari dua macam kompetisi. Yang pertama adalah Olimpiade Fisika yang selama ini kita kenal dan hampir setiap tahun membuahkan berbagai medali. Inilah perlombaan fisika yang pesertanya diwajibkan mengerjakan soal-soal fisika dalam waktu yang sudah ditentukan di bawah pengawasan juri. Sedangkan kompetisi "First Step to Nobel Prize in Physics", yang ditemukan Waldemar Gorzkowski 10 tahun silam, adalah lomba fisika untuk anak-anak SMU?tahun ini diikuti 73 negara?yang mewajibkan pesertanya melakukan dan menuliskan penelitian apa saja di bidang fisika, kemudian hasil penelitian itu dikirimkan dalam bahasa Inggris ke juri internasional di Polandia. Meski bentuknya berbeda, menurut Yohanes, tingkat kesulitannya sama. George Saa meraih medali emas tanpa bantahan apa pun dari 30 juri yang menilainya, meski banyak penelitian lain yang belum selesai diperiksa (maklum, pemenang medali emas bisa berjumlah lebih dari tiga orang).

Kemenangan George bukanlah kemenangan murid Indonesia yang pertama. Lima tahun lalu, I Made Agus Wirawan dari Bali meraih emas pada kompetisi serupa. Begitu pula dalam Olimpiade Fisika, murid-murid Indonesia lazim membawa medali emas, perak, atau perunggu.

Apakah artinya pendidikan fisika, matematika, atau biologi di sekolah menengah Indonesia memang sudah hebat? Sayangnya, tidak. Andi Hakim Nasution (almarhum), guru besar Institut Pertanian Bogor, yang pernah memimpin kontingen Indonesia ke Olimpiade Matematika, mengatakan bahwa pengajaran matematika di sekolah kita salah jalan karena seharusnya guru memberikannya sebagai ilmu penguraian dan pembuktian. Yohanes Surya mengaku harus menggembleng dan memoles paradigma murid-murid fisika asuhannya karena kelemahan teknik mengajak para guru fisika. Sebagai perbandingan, menurut salah seorang pendidik, satu rumus fisika di sekolah internasional harus dipelajari selama enam bulan agar muridnya memahami proses, bukan menghafal rumus, sementara di sekolah nasional, seorang murid harus menghafal puluhan rumus.

Itulah sebabnya, daripada mengeluh, marah-marah, atau sinis, lagi-lagi Yohanes Surya dan timnya berbuat sesuatu. Tidak semua murid di Indonesia beruntung bisa masuk dalam kawasan Tim Olimpiade. Ada yang pingin jadi dokter, seniman, atau wartawan. Tapi mereka tetap harus mampu memahami ilmu dasar fisika, kimia, biologi, dan matematika. Bagi para murid yang lebih berbakat di bidang lain tapi harus mempelajari ilmu dasar ini, Yohanes Surya telah mengembangkan sebuah metode belajar dan pengajaran fisika yang mudah. Artinya, dengan memahami rumus dasar, para murid bisa memecahkan berbagai soal. Menurut dia, metode ini perlahan sudah diterapkan di berbagai provinsi dan tanggapannya luar biasa.

Saudara-Saudara, sosok seperti Yohanes Surya dan timnya membuat kita tak jadi berpindah warga negara. Kita masih bisa belajar untuk percaya.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 11:48:59


Opini 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB