maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Peran Orang Tua Mencegah Wabah Pornografi Anak

Kejahatan pornografi anak terus meluas. Pelaku bisa beroperasi dari dalam penjara.

arsip tempo : 171888388641.

Abai Negara Menangkal Pornografi Anak. tempo : 171888388641.

INDONESIA bagaikan lahan subur berkembangnya pornografi anak. Jaringan kejahatan yang menyasar bocah ini terbongkar dan salah satunya dikendalikan seorang pelaku bernama Muhammad Shobur dari dalam penjara. Ia berjejaring hingga ke luar negeri, memperdayai para korban selama bertahun-tahun. Orang tua sebaiknya tak lagi mengandalkan peran negara dalam menangkal kejahatan ini.

Pengungkapan jaringan pornografi anak pada akhir Februari 2024 bermula dari informasi Satuan Tugas Pencegahan Kekerasan terhadap Anak Internasional Biro Penyelidikan Federal Amerika Serikat (FBI). Lembaga itu menemukan ribuan konten porno yang sebagian diperankan anak-anak berusia 7-16 tahun asal Indonesia. Konten tersebut tersebar melalui aplikasi Telegram ke berbagai negara. Dari informasi itu, Kepolisian Republik Indonesia baru mencokok sejumlah pelaku. Tanpa informasi dari negara lain itu, sangat mungkin para pelaku kejahatan pornografi anak bakal beroperasi lebih lama.

Polri sesungguhnya punya kemampuan mendeteksi jaringan tersebut. Dengan peralatan canggih yang dimilikinya, mudah bagi mereka membongkar kasus pornografi anak. Menyelusup ke grup Telegram, yang anggotanya hanya membayar puluhan ribu rupiah untuk dapat bergabung, bukan perkara sulit. Mereka biasa melakukannya untuk menangani perkara terorisme. Namun, untuk perkara pornografi anak yang merupakan kejahatan luar biasa ini, kepolisian seolah-olah tidur dan baru terbangun setelah mendapat sentilan dari Amerika Serikat.

Minimnya perhatian penegak hukum pada kejahatan pornografi anak membuat para pelaku bisa terus membuat dan mengedarkan kontennya. Indonesia bahkan menempati peringkat kelima negara produsen pornografi anak terbesar di dunia pada 2022 dengan 1,87 juta konten. Nilai transaksinya, seperti diungkap Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, mencapai Rp 114,26 miliar. PPATK memperkirakan nilainya lebih besar dari yang terungkap di permukaan.

Para pelaku kejahatan pornografi anak bisa berada di mana saja dan menyasar siapa pun. Dari dalam penjara, Muhammad Shobur bisa menginstruksikan anak buahnya melalui telepon seluler untuk terus membuat konten. Inilah buntut bobroknya tata kelola lembaga pemasyarakatan di Indonesia, persoalan yang tak pernah bisa diselesaikan pemerintah. Jangankan penggunaan telepon seluler, narkotik saja bisa diproduksi dan diedarkan ke luar bui.

Dengan kondisi itu, pencegahan peredaran konten pornografi anak tak perlu lagi dipercayakan sepenuhnya kepada negara. Kunci mengatasi persoalan itu ada pada orang tua yang harus lebih peduli terhadap aktivitas anak-anaknya. Mereka harus mengingatkan anak-anak agar tak mudah percaya kepada orang lain. Jaringan Shobur, misalnya, menyasar anak-anak yang aktif di komunitas online game di media sosial, seperti Facebook. Perhatian yang sama harus diberikan oleh sekolah.

Orang tua hendaknya tak menganggap remeh kejahatan yang menyasar anak-anak. Mereka harus membatasi secara ketat akses anak-anak terhadap Internet sesuai dengan usianya guna menutup celah masuk pelaku kejahatan pornografi. Orang tua pun perlu berjejaring dengan sekolah agar kegiatan anak bisa lebih terawasi. Tanpa pencegahan dini, para predator akan lebih mudah memangsa anak-anak.

Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Abai Negara Menangkal Pornografi Anak"

Konten Eksklusif Lainnya

  • 16 Juni 2024

  • 9 Juni 2024

  • 2 Juni 2024

  • 26 Mei 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan