Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Karena Investasi Berbeda dari Asuransi

Keputusan pemerintah merestrukturisasi polis Jiwasraya merupakan win-win solution bagi nasabah, perusahaan, dan negara. Perlu peningkatan kesadaran soal risiko investasi.

i Karena Investasi Berbeda dari Asuransi
Karena Investasi Berbeda dari Asuransi

PEMERINTAH telah berada di jalur yang benar dalam menangani prahara Jiwasraya. Restrukturisasi polis merupakan langkah terbaik bagi nasabah dan negara. Semua pihak, termasuk nasabah, memang harus bersama-sama merugi akibat kejahatan korporasi ini. Tapi, lewat skema ini, kerugian diyakini yang paling kecil.

Kementerian Keuangan dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara berupaya menyelamatkan uang milik 2,59 juta nasabah Jiwasraya dengan membentuk Indonesia Financial Group (IFG), perusahaan baru di bawah PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, holding perusahaan asuransi dan penjaminan negara. IFG Life, anak perusahaan IFG, akan mengambil alih polis hasil restrukturisasi Jiwasraya. Sejak mulai gagal bayar pada dua tahun lalu, perusahaan asuransi negara ini menunggak Rp 16,8 triliun milik 17.452 peserta program bancassurance. Ada juga utang pembayaran polis tradisional sebanyak Rp 1,5 triliun. Ibarat kapal karam, penumpang dipindahkan ke kapal penyelamat.

Masalah muncul ketika sekelompok nasabah menolak rencana tersebut karena merasa dirugikan. Mereka merupakan peserta JS Saving Plan, program bancassurance, asuransi berbalut investasi yang dipasarkan bersama bank mitra. Mereka keberatan karena rentang pencairan dana butuh 15 tahun. Kalau mau dipersingkat jadi lima tahun, mereka kena potongan 29-31 persen dari nilai polis.


Nasabah seharusnya lebih realistis. Skema penyelamatan ini adalah bail-in, berupa kucuran Rp 22 triliun berbentuk penyertaan modal negara di PT Bahana. IFG Life menggunakan kapital itu untuk beroperasi layaknya perusahaan lain mulai awal tahun depan. Butuh waktu panjang sampai mereka bisa menghasilkan pendapatan guna pembayaran klaim dan mengembalikan modal pemerintah. Metode ini berbeda dengan bailout, yang memungkinkan Jiwasraya langsung menggunakan dana suntikan tersebut untuk membayar klaim nasabah. Namun kita tentu tak menginginkan triliunan rupiah menguap begitu saja dari kas negara.

161880109440

Pemegang polis bancassurance selayaknya sadar sejak awal bahwa uang yang mereka setorkan itu merupakan investasi. Dipasarkan sejak 2013, JS Saving Plan mengiming-imingi nasabah bunga 9-13 persen. Angka tersebut jauh di atas deposito perbankan, yang saat itu 5-7 persen.

Dalam bentuk apa pun, penanaman uang bisa merugi. Terlebih tawaran yang menjanjikan hasil yang kelewat menggiurkan. JS Saving Plan manajemen tempatkan pada saham berkualitas rendah. Akibatnya, perusahaan kehilangan Rp 16,8 triliun dan terhitung sebagai kerugian negara. Enam petinggi Jiwasraya dan perusahaan perekayasa saham divonis hukuman penjara seumur hidup akibat kejahatan korporasi ini.

JS Plan berkontribusi terhadap 92 persen dari utang klaim Jiwasraya. Meski ditawarkan lewat bank, bancassurance bukan merupakan produk perbankan sehingga tidak dijamin negara lewat Lembaga Penjamin Simpanan. Maka tuntutan agar negara mengembalikan seluruh investasi nasabah dalam waktu singkat ibarat jauh panggang dari api.

Tim Restrukturisasi Jiwasraya sebaiknya jalan terus dengan skema ini. Toh, mereka yang menolak pindah ke IFG Life tetap tercatat sebagai nasabah Jiwasraya. Polis mereka, yang bernilai sampai miliaran rupiah, akan dibayarkan saat perusahaan berusia 161 tahun ini menjual aset, termasuk pusat belanja Cilandak Town Square di Jakarta Selatan. Namun, mengingat sebagian besar aset mereka tidak likuid, entah kapan pencairan dana itu tercapai.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161880109440


Skandal Jiwasraya

Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.