Olahraga 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kaus kaki merah hasoloan

Petinju hasoloan pardede dari sasana garuda medan tewas kena pukulan di atas ring. thn 1965, pontas situmorang meninggal karena pukulan sewaktu latihan. petinju lain yang tewas: aceng jim & ricky huang.

i
"SAYA ingin menang, Mak," kata Hasoloan Pardede, 16, merengek kepada ibunya. Terpaksa, malam itu juga, Sorta Simanjuntak, sang ibu, membelikan sepasang kaus kaki warna merah untuk dipakai anaknya esok harinya bertanding tinju. Hasiholan Pardede, 49, ayahnya, turut pula mempersiapkan Hasoloan, anak ketlga dari enam bersaudara itu. "Ingat, perhatikan, kau harus menyerang terus. Jangan kasih kesempatan kepada lawan," katanya memberi petuah. Betul saja. Dalam pertandingan di Taman Ria, Medan, 6 Maret yang lalu, dengan kaus kaki merahnya, siswa kelas I SMP Muhammadiyah itu terus menyerang. Lawannya, Andika Nirwanda, 18, pelajar kelas I SMA, sempat terdesak. Petinju sasana Marabunta itu sempat pula terduduk oleh pukulan Hasoloan, sampai wasit menghitung 4. Tapi, menjelang akhir ronde kedua, beberapa pukulan lurus lawan mendarat di rahang dan rusuknya. Hasoloan terjatuh. Wasit Syarifuddin Kit menyetop pertandingan dan menghitung sampai 10. Tetapi Hasoloan, yang bertanding mewakili sasana Garuda, Medan, cuma merintih "Kaki saya keram, tak bisa berdiri." Anak itu ditandu ke kamar kesehatan Taman Ria. Di sana, dia kedengaran menjerit, "Aduh, Mak, perut ini sangat sakit. Aduh, ... sakitnya sudah sampai di kepala ...." Ia pingsan, lalu dibawa ke RS dr. Pirngadi, Medan. Ternyata, Hasoloan tak pernah sadar. Ia meninggal enam hari kemudian, Kamis pekan lalu. Dokter di rumah sakit itu menyebutkan, kematian petinju itu disebabkan gegar otak, akibat pukulan di kepala. Berkulit hitam, tinggi 1,63 m, berat 50 kg, sebagai petinju kelas terbang, Hasoloan memiliki kuda-kuda yang kukuh. Maka, dia disuruh pelatih memainkan gaya menyerang. Menurut Paruhum Siregar, pemimpin sasana Garuda, "Sebetulnya, Hasoloan petinju andalan yang diharapkan merebut gelar juara." Ternyata, bukan hanya kalah, petinjunya juga meninggal dunia. Paruhum dikenal sebagai keluarga petinju di Medan. Selain merajai kelas ringan-berat nasional, dia pemegang medali perak di kelas yang sama, di Asian Games Jakarta, 1962. Adiknya, Rudy, Satyagraha, dan Firman Siregar, juga bekas petinju nasional. Kemudian anaknya, Sony Siregar dan Liston Siregar, selain juara nasional, juga pernah meraih medali emas turnamen Piala Presiden dan medali emas kelas ringan-berat SEA Games 1985, di Bangkok. Adik Liston Damanhur Siregar, tahun lalu, menjadi petinju terbaik nasional yunior. Musibah seperti ini yang kedua dialami Paruhum. Pada 1965, seorang anggota sasananya, Pontas Situmorang, meninggal dunia karena pukulan yang diterimanya sewaktu latihan. Anggota ABRI itu juga gegar otak. "Saya pikir, pukulan saya itu pelan. Tak dinyana, kepala Pontas retak," kata Paruhum. Tapi, menurut Paruhum, minat orang Medan kepada olah raga keras itu tak pernah turun. Di Medan, sekarang, ada 17 sasana yang aktif dengan 500-an petinju. "Anak-anak Medan memang lebih berhasil dalam olah raga keras seperti tinju dan sepak bola," kata pengurus Pertina Cabang Medan itu. Dalam kejuaraan tinju nasional di Palembang, akhir tahun lalu, Sum-Ut keluar sebagai juara umum. Pertandingan maut, yang diikuti 100-an petinju dari 15 sasana 6 Maret lalu, itu termasuk dalam kalender Pertina setempat, dimaksudkan untuk mencari bibit petinju guna menghadapi kejuaraan nasional yunior, pertengahan tahun ini. "Kami kehilangan satu petinju berbakat. Dia itu berani," kata Mayor Pol Jacky Uly, Ketua Umum Pertina Medan. Sebelum bertanding, semua petinju sudah diperiksa kesehatannya. "Jadi, Hasoloan celaka bukan karena tidak fit," kata Paruhum. "Wasit juga jeli dalam pertandingan. Dia cepat melerai, pada saat Hasoloan tak berdaya," kata Yan Paruhum Lubis, pimpinan sasana Marabunta. Selain dua kasus di Medan, setidaknya, ada dua petinju lain yang mati karena gegar otak. Aceng Jim, 22, petinju pro dari Bandung, meninggal pada 1979 setelah dipukul KO oleh petinju Surabaya, Kai Siong. Sebelumnya, sekitar 1959, Ricky Huang mengalami nasib yang sama setelah KO dari Vic Suatman. Keluarga Hasoloan menerima semacam uang duka Rp 350.000 dari Pertina dan KONI setempat. Organisasi tinju itu juga membayar biaya perawatan Mendiang di rumah sakit. Ayah korban, Hasiholan Pardede, karyawan sebuah perusahaan swasta, tampak tegar. Malah Hasudungan, kakak korban, dan juga petinju, tak dilarangnya terus bertinju.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819824534



Olahraga 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.