Kesehatan 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menjadi cantik dari salon ke salon

Klinik bedah kosmetik tumbuh subur, sementara dokter ahli plastik masih kurang. beberapa kasus akibat bedah kosmetik. sama halnya dengan klinik bedah plastik di bangkok dan tokyo.

i
BAGI Pelawak Iskak, hidung pesek dijadikan bahan lelucon dan mendatangkan duit. Tapi, bagi Nyonya Tjoan dari Bandung, hidung yang pesek justru malapetaka. Karena ia bukan pelawak. Tapi pemilik salon kecantikan sang membutuhkan penampilan menarik. Maka, ia lalu mendatangi seorang dokter ahli THT di bilangan Menteng, Jakarta. Ia pikir, pesek atau mancung, tetap urusan hidung, urusan dokter THT (telinga, hidung, dan tengorokan). Dan, benar. Di klinik THT itu, Tjoan langsung disodori pertanyaan: mau hidung model Jepang atau Arab atau Barat? Tjoan tak sempat memperhatikan bagaimana bentuk hidung orang Jepang, karena itu tak bisa menjawab. Ia langsung saja menunjuk model hidung dari sejumlah gambar yang disodorkan. Dan, ia langsung dioperasi. "Prosesnya cepat, kok," kata Tjoan. Yang lama adalah perawatan setelah operasi. Selama dua minggu Tjoan terbaring terus dengan kepala tegak menghadap ke atas. Tak boleh menengok kiri kanan. Setelah itu, selama tiga bulan ia harus hati-hati terhadap hidungnya. Digaruk pun tak boleh. Begitu merasa dirinya cantik, musibah pun datang. Tjoan terpeleset. Hidungnya kebentur di bangku. Penyok dan sedikit miring. Ia mendatangi lagi dokter yang di Menteng itu. Ternyata, tak bisa diperbaiki lagi "Sampai sekarang hidung saya tetap miring dan penyok," katanya. Apa boleh buat. Wanita tak cuma punya hidung. Tapi juga punya mata. Maka, dari indria yang lain ini, Tjoan ingin mendapatkan nilai tambah. Ia pergi ke Singapura untuk menjalani operasi kelopak mata. Ke Singapura bukan sekadar gengsi, tapi masalahnya adalah mutu. Sekarang, walau hidungnya tak beres benar, Tjoan, yang kini berusia 38 tahun dan beranak tiga, tetap saja merasa dirinya cantik. Kini, kecantikan bisa dibeli. Di semua kota besar, terdapat "kedai-kedai" untuk membeli kecantikan itu. Di Yogyakarta, dokter ahli bedah Bayu Nugraha sampai kewalahan menerima pasien yang ingin mempercantik wajahnya. "Sedikit saja yang memperbesar payudara," kata dokter lulusan UGM yang memperoleh keahlian bedah plastik di Inggris ini. Kedai kecantikan tak cuma ladang para ahli bedah plastik. Salon kecantikan yang tersebar di berbagai kota besar sudah lama berdwifungsi, melakukan pembedahan. Di Medan, umpamanya. Hampir sebagian besar beauty salon berfungsi sebagai beauty clinic. "Sejak klinik ini dibuka, sudah ratusan pasien yang dimancungkan hidungnya, atau dipotong kelopak matanya," kata Nyonya Cory S, pemilik Salon Nusa Indah. Salon ini bahkan gencar berpromosi di media massa Medan untuk urusan memancungkan hidung, membentuk kelopak mata, membentuk dagu, dan memperbesar payudara. Pada koran Analisa terbitan 8 Maret lalu, iklannya menyebutkan, Salon Nusa Indah sudah mengadakan operasi plastik hidung dan kelopak mata dalam jumlah seratus lebih selama tiga bulan terakhir. Anehnya, ketika heboh kasus Klinik Asih Trisna, Nyonya Cory mengatakan sebaliknya, di salonnya tak pernah ada pembedahan plastik. "Sebenarnya saya bisa melakukan operasi plastik itu, tetapi karena belum mendapat izin Departemen Kesehatan, saya tak melakukannya," kata Cory. Ia bukan dokter, tetapi ahli kecantikan lulusan Jujin Clinic Taipei, 1981. "Yang saya lakukan selama ini untuk memancungkan hidung adalah menyuntikkan cairan silycon yang bernama collagen," tambahnya. Salon lain yang juga laris di Medan adalah Juwita Beauty Salon. "Datang saja langsung kemari, kalau mau operasi," kata dr. Arief Hermansyah, pelaksana operasi di salon itu, menjawab lewat telepon. Ketika yang menelepon tadi datang, Arief ternyata masih sibuk. "Ia masih mengoperasi dua pasien yang hendak dimancungkan hidungnya dan memperindah kelopak matanya," kata petugas salon itu. Belakangan kepada TEMPO, Arief membantah melakukan operasi plastik. "Saya tak ada melakukan itu. Saya bukan dokter ahli bedah, saya dokter umum," katanya. Menurut sumber TEMPO di Medan, banyak salon lagi yang menerima pasien bedah plastik. Bahkan ada menawarkan usahanya dengan cara-cara kelewat berani. "Royal Holland Beauty pernah melakukan bedah plastik di Lubukpakam, Pematangsiantar, Tanjungbalai, dan Binjei. Caranya, salon itu mengumpulkan pasien sebelumnya, lalu ditentukan tanggal operasinya," kata sumber itu. Praktek seperti itu, tentu saja, membuat berang para dokter ahli bedah plastik yang tergabung dalam Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi). "Banyak orang tak ahli mengaku ahli dan melakukan operasi plastik," kata Ketua Perapi dr. Johansyah, yang buka praktek di Surabaya. Ia menyebutkan, profesi bedah plastik ini memang banyak diincar orang. Sementara itu, untuk menjadi ahli seperti itu diperlukan berbagai tahap. Setelah seseorang lulus dokter umum, lalu belajar untuk keahlian bedah umum. Sesudah itu baru mempelajari bedah plastik. "Syarat ini tak mudah memang," kata Johansyah. Mungkin karena sulit atau lamanya proses itu, di Indonesia baru ada 20 dokter bedah plastik. Tiga di Surabaya, masing-masing seorang di Semarang, Yogya, Medan, Jambi, dan sisanya menumpuk di Jakarta. Bagaimana dengan dokter yang mengoperasi Almarhumah Nyonya Sri Sulastri Subandi? "Mereka itu bukan dokter bedah plastik," kata Johansyah. "Operasi seperti itu mestinya dilakukan di rumah sakit, bukan di klinik. Anehnya lagi, dokter yang mengoperasi itu kok pakai atas nama dokter lain. Itu namanya dokter hantu." Entah sudah berapa banyak "dokter hantu" di sini. Johansyah sendiri pernah menerima pasien, tahun lalu, bernama Nyonya Poppy. Ia mengoperasikan kelopak matanya pada klinik dokter umum di Surabaya. Tiga hari setelah operasi itu, matanya memang elok. Tapi setelah itu, satu biji matanya seperti mencelat keluar, satu laginya mengecil. Persis mata kuntilanak, dalam dongeng. Karena dokter yang mengoperasi sebelumnya tak mampu membenahi mata itu lagi, sementara mengembalikan ke bentuk aslinya juga tak mungkin, Nyonya Poppy mendatangi Johansyah. "Ia datang terlambat. Saya tak bisa berbuat apa-apa lagi, matanya sudah rusak," tutur dokter yang belajar bedah plastik di Belanda ini. Akhir hidup Nyonya Poppy lebih tragis. Beberapa hari kemudian, Johansyah mendengar, nyonya itu mati: bunuh diri. Dokter ahli bedah plastik seperti Johansyah atau Bayu Nugraha memang banyak menerima pasien yang sudah rusak oleh dokter atau tabib lain yang mengaku bisa bedah plastik. Padahal, tugas pokok dokter ahli bedah plastik bukan itu -- walau memang, siapa sih yang menampik uang? Dokter bedah plastik sebenarnya menangani pembedahan untuk mereka yang cacat bawaan atau karena kecelakaan, misalnya sumbing atau luka terbakar. Sedang untuk masalah kecantikan, operasi itu hernama bedah kosmetik. Di rumah sakit pemerintah, tempat ahli bedah plastik ini bertugas, para dokter itu hampir tak pernah melakukan operasi plastik kecantikan (kosmetik). Lihat saja, misalnya, di Rumah Sakit Umum Pirngadi, Medan. "Pasien bedah plastik terbanyak datang dari kalangan masyarakat kelas bawah, masyarakat pedesaan yang berekonomi lemah. Mereka datang membawa cacat tubuh sejak lahir," kata dr. Buchari Kasim, 49, Kepala Bagian Bedah dan Bedah Plastik di rumah sakit itu. "Operasi plastik itu, untuk sumbing misalnya, memang tak sempurna betul. Tapi pasien sudah lega karena tubuhnya disempurnakan." Buchari, yang memperoleh keahlian bedah plastik dari Jerman Barat (1972), kadang juga menerima pasien yang ingin bedah plastik estetik istilah dia untuk kecantikan. "Cuma untuk pasien jenis ini, saya selalu minta pertanggungjawaban suami atau orangtuanya. Dan ini penting. "Karena ada suami yang tak suka istrinya cantik, menarik, aduhai tetapi semuanya palsu," kata dokter ini sambil ketawa. "Orang Timur itu umumnya menginginkan yang asli, kan." Rumah Sakit Umum Syamsudin, Sukabumi, selama ini juga hanya melaksanakan operasi plastik murni, yakni untuk cacat bawaan itu. Itu pun baru tiga tahun belakangan ini, dan dengan mendatangkan doker ahli bedah plastik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Tapi, sementara itu, juga sudah menjadi rahasia umum, salon-salon kecantikan di Sukabumi menyelenggarakan bedah kosmetik. Menang, selama ini tak ada kasus yang memuat. Namun, dr. Mochammad Gusti Husaini, Direktur RSU Syamsudin, cukup waswas. Langkah pengamanannya sudah ditempuh. Rabu pekan lalu, misalnya, di rumah sakit ini diselenggarakan ceramah tentang operasi plastik yang mengkhususkan diri pada kecantikan. Yang memberi ceramah dr. Suminta B. Jaya, dr. Chaula Sukasah, dr. Herwardar Sastra Supena, dan dr. Wagino, semuanya dari RSCM. Pendengarnya meluap, terutama para pengelola salon kecantikan. Di Sukabumi sendiri memang hanya terdaftar 40 salon kecantikan. Tetapi, menurut Hussaini, salon kecantikan yang tidak terdaftar lebih banyak lagi. Ia memperkirakan, di Sukabumi, Bogor, dan Cianjur terdapat lebih dari 500 salon kecantikan. Kekhawatiran Hussaini adalah, "Salon-salon itu melakukan kegiatan operasi secara sembunyi-sembunyi hanya karena gengsi, dan melakukan kesalahan." Belum sehari ceramah itu lewat, hasilnya sudah tampak -- mudah-mudahan ini bukan karena masih hangat saja. Nyonya Hidayah Dewi, pemilik Salon Kecantikan Dewi Sartika, langsung "mengirim pasiennya" ke RSU Syamsudin karena pasiennya itu minta dioperasi pada kelopak mata. Adakah kebijaksanaan "versi Sukabumi" ini akan dipraktekkan di kota lain? Tampaknya, sulit. Setidak-tidaknya akan banyak menemui hambatan. Contohnya salon-salon kecantikan di Jakarta. Mereka umumnya punya dokter yang sudah dikontrak untuk menangani operasi plastik ini. Kalau dokter bedah plastik turun tangan, hambatannya tentu soal rezeki. Lagi pula, demam bercantik-cantik di kalangan wanita Indonesia, agaknya, semakin meningkat. Sementara itu, jumlah dokter ahli bedah plastik, cuma 20 orang, tak sebanding dengan jumlah pasien "demam" cantik ini. Tak cuma di Indonesia dokter ahli bedah plastik langka. Di kawasan Asia, keahlian bidang ini juga tak sebanding dengan gairah mempercantik diri. Di Muangthai misalnya -- di sana kecantikan sudah erat kaitannya dengan bisnis, termasuk bisnis seks -- dokter ahli bedah plastik hanya ada 30 orang. Daftar tunggu pasien di tempat praktek dr. Preecha Tiewtranoon, di Bangkok, misalnya, begitu panjang. "Kami belum mampu menangani semua pasien, sementara daya beli masyarakat sudah tinggi dan ada uang untuk mempercantik diri," kata Preecha. Ia hanya bisa menangani 500 pasien setahun. Maka, yang terjadi mirip dengan di sini. Tumbuh klinik-klinik bedah plastik yang liar. Dan kasus salah operasi juga tak terhindarkan. Dari mana saja wanita yang mempercantik diri itu? "Mereka kebanyakan orang Thai, bintang film, peragawati, wanita yang terlibat industri seks, dan beberapa orang asing," kata Preecha. Di Singapura, pencari kecantikan juga berjubel, baik di Rumah Sakit Amerika (American Hospital) maupun di RS Mount Elizabeth. Di RS Mount Elizabeth hanya ada 7 ahli bedah plastik dibanding 457 dokter ahli bidang lain. (Belum diketahui secara jelas berapa dokter bedah plastik di seluruh Singapura). Untuk praktek kecantikan, ketujuh dokter bedah plastik itu membuat klinik tersendiri, yang pengelolaannya terpisah dengan rumah sakit induk. Klinik ini buka 24 jam, seperti klinik gawat darurat. Pasiennya berjubel, dari berbagai bangsa. "Rata-rata 250 pasien tiap tahun yang dioperasi besar di klinik ini," kata Dennis Brown, administrator RS Mount Elizabeth. Operasi besar ini adalah mempermak hampir seluruh tubuh, dari kelopak mata sampai menyedot lemak di paha. Sedangkan operasi kecil, misalnya cuma hidung, atau cuma kelopak mata, jumlahnya lebih banyak. "Sekitar 12 persen pasien di rumah sakit ini berasal dari Indonesia," kata Brown, tanpa mau menyebutkan angka yang pasti. Yang agak menarik, perkembangan bedah plastik di Jepang, khususnya di metropolitan Tokyo. Rumah sakit dan klinik yang khusus menangani kecantikan itu juga didatangi para lelaki. "Lelaki Jepang berkecenderungan ingin tampil manis," kata seorang juru bicara JSAS -- asosiasi dokter ahli bedah plastik Jepang. Dari 50 rumah sakit dan klinik khusus yang menampung pasien operasi plastik ini, yang paling ramai adalah Jujin Hospital, yang terletak di Ginza, Tokyo. Pasiennya banyak orang asing, umumnya wanita, untuk memperbesar payudara, menyedot lemak di perut, dan merapikan vagina. "Setiap tahun, di rumah sakit kami ada sekitar 100 wanita Indonesia yang menjalani operasi," kata juru bicara Jujin Hospital. Apakah wanita Indonesia itu banyak yang merapikan vagina? "Mereka umumnya melakukan operasi mata dan hidung." Adakah semua itu pertanda kesejahteraan yang meningkat atau begitu cara membuat suami atau pacar tak tergoda wanita lain? Hanya mereka yang tahu. Putu Setia, Laporan biro-biro

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831209851



Kesehatan 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.