Olahraga 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bila Liga Eropa Rasa Amerika

Belitan utang membuat 12 klub elite sepak bola Eropa menggagas Liga Super Eropa menggantikan Liga Champions. Dikhawatirkan menurunkan kualitas Piala Dunia.

i Presiden Real Madrid Florentino Perez, tiba di stasiun radio kota Madrid, di Spanyol, 21 April 2021. REUTERS/Sergio Perez
Presiden Real Madrid Florentino Perez, tiba di stasiun radio kota Madrid, di Spanyol, 21 April 2021. REUTERS/Sergio Perez
  • European Super League yang dibentuk oleh 12 klub elite sepak bola Eropa dibatalkan karena para pendirinya mengundurkan diri. .
  • UEFA mengancam klub-klub yang bergabung dengan Liga Super Eropa akan dilarang mengikuti kompetisi lain di tingkat domestik, Eropa, ataupun dunia.
  • Klub-klub pembentuk Liga Super Eropa mengalami kondisi finansial yang sangat buruk. Delapan klub memiliki utang bersih lebih dari 100 juta euro. .

PEMBENTUKAN European Super League oleh 12 klub elite Eropa itu muncul di situs Liverpool FC pada Ahad, 18 April lalu. “Dua belas klub sepak bola terkemuka di Eropa hari ini berkumpul untuk mengumumkan persetujuan membentuk kompetisi tengah minggu yang baru, Liga Super, yang diatur oleh Klub Pendirinya,” begitu menurut pengumuman itu. Selain Liverpool, Klub Pendiri yang dimaksud adalah AC Milan, Arsenal FC, Atletico Madrid, FC Barcelona, Chelsea FC, FC Internazionale Milano, Juventus FC, Manchester City, Manchester United, Real Madrid CF, dan Tottenham Hotspur.

Presiden Real Madrid Florentino Perez menjadi Ketua European Super League yang pertama. Perez, taipan Spanyol berusia 74 tahun, mengatakan, “Sepak bola adalah satu-satunya olahraga global dengan lebih dari 4 miliar penggemar dan tanggung jawab kami merespons keinginan mereka.” Menurut dia, liga sepak bola Eropa itu akan makin banyak ditonton penggemar bila yang bertanding adalah klub terbaik versus klub terbaik—yang kerap tak terjadi di Liga Champions.

Ini kedua kalinya Perez menggaungkan gagasan European Super League (ESL) sebagai sempalan Liga Champions, setelah yang pertama pada 2009. Menurut Financial Times, Perez dan para pendukung ESL percaya, dengan lebih sering digelarnya pertandingan di antara klub-klub elite, pendapatan dari tontonan televisi global senilai lebih dari 4 miliar euro setahun—kira-kira dua kali lipat jumlah yang diperoleh Liga Champions—bisa diraih.


Spanduk bernada penolakan terhadap rencana penyelanggaraan European Super League, saat laga Leed vs Liverpool di Elland Road, Leeds, Inggris, 19 April 2021. REUTERS/Paul Ellis

162366260221

Selain pendapatan yang dibagi di antara Klub Pendiri, daya tarik ESL adalah adanya suntikan dana awal. Bank Amerika Serikat, JP Morgan Chase, bersedia memberi utang 4 miliar euro (US$ 4,8 miliar) untuk membiayai ESL. Dari total utang itu, sebesar 3,25 miliar euro akan dibagi ke 12 Klub Pendiri. Tiap klub mendapat sekitar 271 juta euro, yang bisa digunakan untuk menanggulangi kerugian akibat pandemi Covid-19 dan mendukung investasi infrastruktur.

Dalam wawancara dengan program televisi Spanyol El Chiringuito de Jugones, Perez menyampaikan bahwa klub-klub membutuhkan solusi atas masalah keuangan yang buruk akibat pandemi. “Banyak klub penting di Spanyol, Italia, dan Inggris ingin menemukan solusi untuk kondisi finansial yang sangat buruk. Satu-satunya cara adalah dengan memainkan lebih banyak pertandingan kompetitif,” ucapnya.

Pundi-pundi uang klub-klub elite itu memang sangat buruk. Menurut laporan Bloomberg yang mengutip firma akuntansi KPMG, ada 8 dari 12 Klub Pendiri ESL yang memiliki utang bersih lebih dari 100 juta euro. Tottenham berutang paling besar, yakni 685 juta euro. Menurut KPMG Football Benchmark itu—data per akhir Juni 2020—hanya Chelsea yang tidak punya utang. Adapun Arsenal berutang 77 juta euro dan Manchester City 52 juta euro. Untuk Liverpool, KPMG tak memiliki data.

Badan Sepak Bola Eropa (UEFA) pun bersikap tegas terhadap para “pemberontak” ini. Dalam pernyataan resmi pada hari yang sama dengan pengumuman pembentukan ESL, UEFA bersama Asosiasi Sepak Bola Inggris (EFA), Liga Primer, Federasi Sepak Bola Spanyol (RSFF), La Liga, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), dan Lega Serie A menyatakan, “Akan tetap bersatu dalam upaya menghentikan proyek sinis ini.”

UEFA juga mengancam klub-klub yang tergabung dalam ESL tidak dapat bermain di kompetisi lain di tingkat domestik, Eropa, atau dunia. “Pemain-pemain yang bermain di tim-tim dalam liga tertutup itu akan dilarang mengikuti Piala Dunia dan Piala Eropa,” ujar Presiden UEFA Aleksander Ceferin, dikutip Goal International. Ancaman serupa diumumkan sebelumnya oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dan enam konfederasi.

Menuai kecaman, nyali klub pencetus ESL pun ciut. Satu per satu klub asal Inggris yang dikenal dengan julukan Big Six menarik diri dari turnamen tandingan Liga Champions itu. Manchester City, Manchester United, Chelsea, Arsenal, Liverpool, dan Tottenham Hotspur memutuskan mundur dari ESL pada Rabu, 21 April lalu. Manchester City yang pertama merilis pernyataan mundur.

Mundurnya Big Six membuat rencana penyelenggaraan ESL pada Agustus mendatang menjadi berantakan. Sampai Jumat, 23 April lalu, tersisa dua klub yang secara terang-terangan mendukung ESL, yakni Real Madrid dan Barcelona. Adapun Juventus dan AC Milan, meski tak eksplisit menyatakan keluar dari ESL, ragu terhadap berjalannya proyek ini. “Terus terang dan jujur tidak (bisa dilanjutkan) lagi,” tutur Presiden Juventus Andrea Agnelli kepada BBC.

Direktur Kompetisi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia periode 2013-2016, Tommy Welly, mengatakan liga tandingan ini menjadi sesuatu yang miris jika motivasi utamanya adalah uang atau pembayaran yang lebih besar. Meski sepak bola modern telah menjelma menjadi industri, kata dia, ada nilai sportivitas yang harus tetap dijaga. “Saya sepakat perlu dilakukan koreksi terhadap Liga Champions UEFA, termasuk pembagian jatah keuntungan hak siar dan sponsor,” ucap Tommy, Kamis, 22 April lalu.

Ihwal perubahan format Liga Champions, UEFA telah mengumumkan pemberlakuan format baru mulai musim 2024/2025. Perubahan itu diumumkan UEFA sehari setelah pengumuman ESL. Dalam format baru Liga Champions itu, jumlah peserta menjadi 36 dari 32 tim. Babak grup dihapuskan. Setiap peserta memainkan lima pertandingan yang ditentukan dengan sistem peringkat. Delapan tim yang ada di peringkat teratas otomatis maju ke babak 16 besar. Sedangkan 16 tim lain akan berlaga di playoff untuk memperebutkan delapan tiket ke 16 besar.

Menurut Tommy, koreksi yang dilakukan dengan membentuk liga sendiri itu sudah melenceng. Ketika ESL bergulir, kata dia, reputasi dan tatanan sepak bola melalui Liga Champions kehilangan bobot. Seluruh sejarah yang dimulai sejak 1950 bakal runtuh. Dampak paling fatal, menurut Tommy, bobot Piala Dunia yang bakal jeblok. Kompetisi antarnegara itu bakal kehilangan kualitas ketika pemain terbaik tidak bisa tampil karena bermain di ESL.

Tommy mencontohkan, jika ESL benar-benar digelar, kondisinya persis seperti Kejuaraan Dunia Basket dengan kompetisi Asosiasi Bola Basket Nasional (NBA) Amerika Serikat. Kompetisi NBA mengklaim klub terbaik otomatis dianggap sebagai juara dunia. Hal ini otomatis menurunkan derajat Kejuaraan Dunia Basket, yang diadakan Federasi Basket Internasional (FIBA). “Contoh di Kejuaraan Dunia kemarin, Spanyol juara mengalahkan Argentina. Amerika Serikat tidak mengirimkan pemain terbaik, tapi yang beberapa level di bawahnya,” ujarnya.

IRSYAN HASYIM (UEFA, LIVERPOOL FC, FT, BBC, GOAL, THE NEW YORK TIMES, MIRROR, REUTERS)

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=162366260221


Sepak Bola Liga Champions Real Madrid UEFA

Olahraga 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.