Wawancara Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan: Prestasi Tim Nasional Bagian Saya - Olahraga - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Olahraga 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Banyak Mafia Lama yang Mau Kembali

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia tengah menyiapkan skenario melanjutkan kompetisi profesional di tengah tekanan pandemi Covid-19. Tim nasional Indonesia juga tengah berkejaran dengan waktu untuk bersiap mengikuti Piala Dunia U-20 tahun depan. Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan menyatakan kompetisi harus terus berjalan sekaligus sebagai ajang pemanasan para pemain tim nasional.

i Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan berpose di Jakarta, 10 Juli 2020./ TEMPO/Hilman Fathurrahman W
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan berpose di Jakarta, 10 Juli 2020./ TEMPO/Hilman Fathurrahman W

PANDEMI akibat virus SARS-CoV-2 alias Covid-19 yang terdeteksi di Indonesia sejak awal Maret lalu memaksa kompetisi sepak bola Liga 1 dan Liga 2 musim 2020 berhenti. Kompetisi Liga 1, yang dimulai pada 29 Februari lalu, bahkan baru berjalan tiga pekan saat Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia memutuskan untuk menyetopnya.

PSSI menyiapkan kompetisi yang bakal digelar kembali pada Oktober nanti. Agenda ini memicu pro-kontra di antara peserta kompetisi karena sejumlah alasan, antara lain soal keselamatan pemain dan kondisi keuangan klub yang tiris. Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan mengatakan kompetisi harus terus berjalan. “Tidak mungkin menunggu sampai Covid-19 berhenti,” kata pria yang akrab disapa Iwan Bule itu pada Jumat, 10 Juli lalu.

Dalam pertemuan di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, kepada wartawan Tempo, Gabriel Wahyu Titiyoga, Mahardika Satria Hadi, dan Irsyan Hasyim, Iriawan berbicara tentang kelanjutan kompetisi, persiapan tim nasional menuju Piala Dunia U-20 tahun depan, hingga dinamika di tubuh PSSI. Pensiunan polisi dengan pangkat terakhir komisaris jenderal itu pun menjelaskan soal status penunjukan adik iparnya, Maaike Ira Puspita, sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PSSI. “Saya kan profesional saja,” ujarnya.


Kompetisi sepak bola akan dimulai pada Oktober nanti dan dipusatkan di Yogyakarta sementara belum ada kejelasan status akhir pandemi Covid-19.

Kenapa pemerintah melonggarkan pembatasan sosial berskala besar padahal pandemi masih ada? Artinya kehidupan harus berjalan. Saya juga sama. Kompetisi juga harus berjalan. Tentu harus ada komunikasi dengan pemilik klub Liga 1 dan Liga 2 serta Asosiasi Provinsi PSSI.

Kita perlu sampaikan kepada dunia bahwa new normal ada di Indonesia dan kita harus menyesuaikan. Kita harus berdampingan dengan Covid-19 ini karena belum tahu akhirnya.

Pemilihan Yogyakarta sudah dihitung. Lima klub dari luar Jawa nanti bisa menetap di sana. Hotel-hotel sudah dikontak dan mau membantu, bahkan ada yang bisa dibayar cuma 25 persen. Simulasi sudah dibuat hingga jatuh (keputusan) Oktober itu.

Ada dasar lain untuk menggelar kompetisi di tengah pandemi?

Tim nasional juga harus dipanaskan, dan itu melalui kompetisi. Ekonomi juga bersinggungan dengan hidupnya kembali kompetisi. Kami pernah berdiskusi dengan Lembaga Pengkajian Ekonomi Universitas Indonesia bahwa ketika kompetisi hilang, ada uang sekitar Rp 3 triliun yang tidak berjalan. Itu kajian mereka. Jadi dengan dibuka lagi kompetisi, hotel, konsumsi, UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), sampai transportasi hidup lagi. Tentu protokol kesehatan nomor satu, untuk sementara (pertandingan) tanpa penonton.

Kompetisi di negara lain, seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia, juga sudah dimulai. Masak, kita mau ketinggalan dari mereka? Kurang bagus juga nanti di mata dunia ketika yang lain bisa, kok Indonesia malah enggak bisa.

Tapi, sekali lagi, protokol kesehatan itu nomor satu. Ada panduannya. Masih ada waktu untuk menyamakan persepsi. Nanti ada rapid test segala macam, dihitung mana yang ditanggung oleh PT Liga Indonesia Baru dan pemerintah daerah.

Kalender kompetisinya akan disamakan dengan agenda kompetisi Eropa?

Ya, selesainya 28 Februari. Akan kami rapatkan lagi, termasuk dengan Gugus Tugas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan. Kementerian sudah menyampaikan bahwa 30 persen kapasitas stadion bisa untuk penonton.

Bagaimana tanggapan klub soal kelanjutan kompetisi ini?

Rata-rata mereka mau kompetisi lagi.

Tim nasional punya agenda sendiri. Salah satunya Piala AFF pada akhir tahun nanti. Kompetisi tetap berjalan?

Akan kami sesuaikan jadwal kompetisi dengan tim nasional. Kepentingan nasional harus diutamakan. Nanti dikomunikasikan dengan klub. Ketika pemain di klub nanti sedang berkompetisi lalu timnas memanggil, maka dengan segala hormat harus diserahkan karena itu kepentingan nasional.

Nanti kompetisi juga ada waktu jeda, toh jadwalnya belum keluar. Sudah saya sampaikan ke klub, itu juga sebabnya ada opsi tidak degradasi. Kalau saja, amit-amit, ada klub nanti kena corona lalu berhenti main, kasihan dia. Nilainya jatuh. Memang ini diperdebatkan. Toh, Jepang sudah lakukan.

Indonesia juga menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun depan. Seperti apa persiapan PSSI?

Piala Dunia ini adalah golden moment. Selama PSSI ada, baru sekarang ada Piala Dunia di Indonesia. Ini jelas pekerjaan besar, tapi harus dilakukan sehingga beres. Kalau soal beban, ya ada, lah. Tapi kan harus diambil karena inginnya sukses di penyelenggaraan, prestasi, dan venue. Makanya dibagi-bagi. Urusan penyelenggaraan ada di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Prestasi tim nasional bagian saya. Soal venue itu urusan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang membangun, kami enggak usah ikut-ikutan pusing.

Bagaimana perkembangan tim yang nanti disiapkan untuk Piala Dunia U-20?

Tim nasional U-19 yang disiapkan untuk Piala Dunia U-20 itu sudah ada list namanya dari pelatih. Semua urusan timnas itu hak pelatih. Tidak boleh ada yang intervensi. Ini menjadi kewajiban bagi seluruhnya di PSSI, siapa pun juga, termasuk saya.

Kami menunggu kehadiran pelatih timnas Shin Tae-yong kembali ke Indonesia. Saya beberapa kali melakukan surat-menyurat dan komunikasi virtual. Dalam pertemuan virtual dan surat terakhirnya, dia bilang akan kembali. Saya ingin dia kembali untuk melihat 44 pemain yang ada di daftar dia. Tentu tidak semua ikut di timnas, paling hanya 23-30 pemain.

Anda belum setahun menjabat Ketua Umum PSSI tapi sudah banyak dirundung berbagai isu, termasuk soal kabar ketidakharmonisan di antara pengurus PSSI hingga posisi Anda terjepit.

Sepak bola ini seksi dan banyak sekali orang punya kepentingan di sini. Tapi sampai sekarang saya tidak merasa di posisi terjepit. Saya enjoy saja. Saya rapat dengan presiden. Dengan FIFA (badan sepak bola dunia) pun jalan terus.

Banyak sempalan dan mafia sepak bola lama yang ingin masuk lagi ke PSSI. Yang kayak begini kan tidak perlu diakomodasi. Mereka ini yang menghantam saya. Buat saya enggak ada masalah. Kalau cuma kayak begitu, kecil buat saya. Hidup saya dari dulu sebagai polisi selalu dalam pressure situasi yang luar biasa. Jadi, kalau cuma tekanan dan fitnahan, saya enggak ambil, lah.


"Nama itu enggak bisa dibayar, terkenang sepanjang masa."


Anda enggan merespons tudingan miring ke PSSI?

Ngapain? Masih ada pekerjaan lebih besar. Kalau saya ladeni yang begitu, bakal terus ramai. Saya di reserse sudah 38 tahun, ngertilah. Mereka menunggu itu.

Pasti ada yang tidak suka dengan kemajuan sepak bola karena kepentingannya banyak sekali. Yang ikut soal pengaturan skor, pengaturan kompetisi, pengaturan wasit, pasti terganggu. Tidak bisa saya sebutkan orang per orang.

Menjadi Ketua PSSI ini pekerjaan baru bagi saya. Setelah saya pensiun, ada banyak tawaran menjadi komisaris perusahaan. Kalau saya terima, mungkin saya sudah ada di perusahaan mana gitu. Enak, digaji dan kerjanya sebulan sekali.

Tapi saya memilih PSSI buat negara juga agar nanti ada legacy, kebanggaan buat anak-cucu saya juga. Bisa cerita nanti bahwa, saat dipimpin Kakek Iwan Bule, sepak bola bisa begini-begitu. Nama itu enggak bisa dibayar, terkenang sepanjang masa. Hidup saya sudah cukup, tapi tenaga kan masih ada, jadi buat sepak bola.

Sejak Ratu Tisha mengundurkan diri sebagai Sekretaris Jenderal PSSI, posisi itu diisi sementara oleh Yunus Nusi, yang juga anggota Komite Eksekutif PSSI. Mengapa belum menunjuk sekjen baru?

Biarlah berjalan dulu. Penunjukan sekjen itu adalah hak ketua umum. Akan mencari sekjen yang pas. Kalau ketua umum sudah nyaman, kenapa harus diganti? Tidak ada masalah dan sudah kami komunikasikan dengan FIFA. 

Sekarang saya sudah ada sekjen, komunikasi enak. Enggak ada masalah juga dengan AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia). Biarkan bekerja. Sekarang administrasi mulai tertata, komunikasi dengan FIFA soal Piala Dunia pun intensif. Kalau enggak ada Covid-19, mungkin mereka sudah berdatangan.

Bagaimana Anda menjelaskan penunjukan adik ipar Anda, Maaike Ira Puspita, sebagai Wakil Sekjen PSSI?

Yang merasakan itu sekretariat jenderal. Kalau ke saya, orang mungkin sudah apriori. Disebut nepotisme, segala macam. Kalaupun saya jawab penunjukan itu sudah obyektif, orang tetap bilang subyektif karena ada keterkaitan ipar saya. Padahal, dalam kewenangan sebagai ketua umum, itu boleh.

Kalau saya kan profesional saja. Tanyakan orang sekretariat jenderal bagaimana pekerjaan Ira itu. Saya enggak pernah berhubungan sama dia. Yang berhubungan itu orang sekjen.

Pengangkatan wasekjen itu tidak jadi masalah. Kalau dibilang ada yang dirugikan, dialah yang rugi. Istri kapolres, lho. Tapi saya kan perlu menjaga urusan administrasi ini. Ira sekolah di luar negeri, bisa bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Prancis. Jadi menguntungkan sebenarnya. Kebetulan saja dia adik ipar saya.

Benarkah relasi Anda dengan Wakil Ketua Umum PSSI Cucu Somantri merenggang setelah dia mundur dari posisi Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru?

Buktinya, jalan-jalan saja. Presiden memanggil kami untuk rapat juga tidak ada masalah. Soal itu, enggak terlalu penting, lah. Enggak usah meributkan hal yang enggak jelas.

Bukankah Cucu Somantri itu Anda gandeng langsung saat dulu maju mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI?

Saya yang ajak dia. Tidak ada masalah dengan dia, enggak ada pecah kapal itu. Sebetulnya ada yang lebih penting dari itu. Kita mikirin bagaimana ini tim nasional dan kompetisi.

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-08-14 12:43:19

PSSI Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia | PSSI Kisruh PSSI

Olahraga 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.