Nasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Calon Penghuni Sel Ketiga

Setelah Angelina Sondakh diterungku, sejumlah nama antre jadi tersangka. Yang paling dekat Wayan Koster.

i

KERTAS berukuran satu kali dua meter itu dibentangkan. Sekilas, gambar di kertas itu mirip pohon keluarga. Nama Muhammad Nazaruddin, yang baru dihukum dalam perkara suap Wisma Atlet SEA Games Palembang, bertengger di pucuk. "Ini peta seluruh kasus dia," kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto di ruang kerjanya, di lantai tiga kantor komisi itu, Rabu pekan lalu.

Di bawah Nazaruddin, ada banyak nama dan sejumlah catatan-peran dalam kasus dan kedudukan di pekerjaannya. Nazaruddin dan nama-nama tersebut dihubungkan garis. Tempo mendekat ke arah kertas, tapi Bambang segera melipatnya. "Jangan dicatat dulu," ujarnya mewanti-wanti. Kertas tersebut, kata Bambang, merupakan "manual" untuk mengusut kasus-kasus yang melibatkan Nazaruddin.

Dua dari sekian nama yang terhubung ke Nazaruddin di kertas adalah Mindo Rosalina Manulang dan Angelina Sondakh. Perkara keduanya lumayan terang-benderang. Rosa dihukum karena menjadi perantara suap Wisma Atlet. Adapun Angelina disangka sebagai salah seorang yang disogok dalam kasus itu. Berbeda kamar, keduanya kini sama-sama menghuni Rumah Tahanan KPK.


Sebelum diterungku, Angelina dan Rosa berkarib. Dipertemukan Nazaruddin di Restoran Nippon Kan, Hotel Sultan, pada awal 2010, mereka selanjutnya kerap bertemu untuk membicarakan proyek. Lain waktu, untuk mengobrolkan proyek, keduanya cukup bercakap-cakap lewat pesan BlackBerry. "Berarti belum ada yang aman dong, termasuk yang 400?" kata Rosa kepada Angie dalam pesan BlackBerry pada 1 Mei 2010. "Yang baru kayaknya hanya bisa 300. Mudah-mudahan," Angie membalas pesan tersebut.

161862954217

Ketika diperiksa KPK pada Oktober 2011, Rosa menjelaskan maksud percakapan tersebut. Ia dan Angie sedang membicarakan pembahasan anggaran proyek di Kementerian Pemuda dan Olahraga sebesar Rp 400 miliar. Tapi Dewan Perwakilan Rakyat hanya mengabulkan Rp 300 miliar. Proyek yang dimaksud adalah pembangunan Wisma Atlet. Belakangan anggaran yang cair menyusut jadi Rp 191,6 miliar.

Duduk di Komisi X DPR, yang membidangi olahraga dan pendidikan, Angie banyak mengurusi anggaran proyek di Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Pendidikan. Di Komisi, ia tak bekerja sendirian. Dalam banyak percakapan via BlackBerry Messenger antara Rosa-Nazaruddin dan Rosa-Angie, tercetuslah nama I Wayan Koster, kolega Angie di Komisi Olahraga.

Dalam suatu percakapan, misalnya, Nazaruddin berang ketika dikabari bahwa proyek rumah sakit senilai Rp 116 miliar di Universitas Sumatera Utara tak bisa dimenangi Grup Permai. "Kita bayar aja ke siapa?" kata Nazaruddin. Rosa menjawab, "Saya sudah minta kepada Bu Artis dan Pak Bali." "Ibu Artis" maksudnya Angelina, sedangkan "Pak Bali" adalah sebutan untuk Wayan Koster.

Duet Angie-Koster terbukti efektif mengamankan proyek. Menurut Yulianis, Wakil Direktur Keuangan Grup Permai, sepanjang 2010, perusahaan-perusahaan Nazaruddin memperoleh proyek pembangunan rumah sakit di tiga universitas yang anggarannya berasal dari Kementerian Pendidikan. Ketiganya adalah Universitas Udayana senilai Rp 91,2 miliar, Universitas Mataram (Rp 58,8 miliar), dan Universitas Jambi (Rp 37 miliar).

Menurut Rosa ketika diperiksa KPK, Angelina pernah mengatakan ada biaya komitmen sebesar tujuh persen dari total anggaran yang mengucur, yang menjadi jatah anggota DPR. Catatan keuangan Yulianis memperlihatkan setoran ke sejumlah anggota DPR terkait dengan proyek yang dimenangi Grup Permai.

Dalam catatan tersebut, sedikitnya ada 17 setoran kepada Angelina dan Koster terkait dengan proyek di Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Pendidikan. Mereka berdua diduga menerima duit US$ 500 ribu pada 3 November 2010 lewat Rosa. Duit diberikan terkait dengan proyek di sejumlah universitas, yang akan dilaksanakan pada 2011.

Lain waktu, duit diberikan untuk Angelina saja atau Koster saja. Pada 18 Februari 2011, Koster, misalnya, disangka mendapat tambahan duit Rp 50 juta lewat Gerhana Sianipar, juga pegawai di Grup Permai, untuk pembangunan pura. Sebulan kemudian, pada 3 Maret 2011, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini juga diduga menerima Rp 500 juta dari pegawai Grup Permai bernama Dewi. Dalam catatan itu ditulis, "Komitmen Wayan Koster 2011".

Di sidang Nazaruddin, Luthfi Ardiansyah, sopir Yulianis, juga menyatakan pernah menyetorkan duit Rp 5 miliar untuk Angie dan Koster. Pada Mei 2010 itu, ia dua kali mendatangi ruangan Wayan Koster-masing-masing membawa Rp 3 miliar dan Rp 2 miliar. Luthfi mengaku menyerahkan duit dalam kardus printer itu kepada anggota staf Koster yang ia lupa namanya. Meski melihat Angelina masuk ke ruangan Koster sesaat setelah ia mengantar duit, belum dipastikan Angelina masuk untuk mengambil fulus itu.

Apakah duit sampai ke tangan Koster dan Angelina, ini yang masih samar-samar. Yang pasti, Yulianis mencatat pengeluaran duit tersebut. Dalam laporan keuangan Grup Permai itu, pemberian uang tersebut terjadi pada 5 Mei 2010. Yulianis mencatatnya dengan kode MK1/10/05/0601 dan MK2/10/05/0501. Duit dikeluarkan untuk membayari pengurusan anggaran proyek di "Menpora".

Komisi antirasuah yakin setoran tersebut berkaitan erat dengan kasus Wisma Atlet. Bukan kebetulan waktu pembahasan anggaran di DPR dengan penyerahan duit amat dekat. Sejauh ini, baru Nazaruddin dan Angelina yang tersandung Wisma Atlet. Membantah menerima duit, Nazaruddin di persidangan mengatakan duit Wisma Atlet diguyurkan ke Senayan melalui Angelina.

Menurut Nazaruddin, dari Angie, duit kemudian berpindah tangan ke Wakil Ketua Badan Anggaran Mirwan Amir. Duit juga dinikmati oleh Mahyuddin, Ketua Komisi Olahraga. Mereka berdua rekan Nazaruddin di Partai Demokrat. Nazaruddin mendengar hal itu ketika ia bersama Angie, Mirwan, dan Mahyuddin diinterogasi tim pencari fakta Demokrat pada awal-awal kasus Wisma Atlet mencuat. Mirwan dan Mahyuddin telah membantah tudingan Nazaruddin.

Sementara keterlibatan Mirwan dan Mahyuddin masih minim bukti, lain halnya dengan Koster. Tanpa pengakuan Angelina pun Koster bisa dijerat. Dengan setumpuk bukti tadi, Koster adalah calon terkuat penghuni ketiga sel KPK. Itulah sebabnya, meski baru Angie yang diumumkan sebagai tersangka, Koster ikut dicegah pelesiran ke luar negeri. Menurut seorang pejabat KPK, nasib Koster tinggal menunggu waktu.

Koster sepanjang pekan lalu tak ada di ruangannya di lantai enam Gedung Nusantara I DPR. Tapi ia pernah membantah menerima duit Nazaruddin. Kepada Tempo beberapa waktu lalu, anggota staf Koster yang bernama Budi Priatna mengatakan tak pernah menerima bingkisan dari Luthfi untuk Koster ataupun Angie. "Saya tidak tahu," katanya. Adapun Yulianis tak mau berkomentar soal catatan duit untuk Koster ataupun Angie. "Semua telah diserahkan ke KPK," kata dia, Jumat pekan lalu.

Angelina sendiri masih enggan blak-blakan soal kasusnya. Pada Rabu pekan lalu, mukanya tampak cerah ketika menciumi putranya yang datang mengunjungi penjara bersama anggota keluarga yang lain. Tapi ia tak mendekat ke arah wartawan, yang tertahan di pintu menuju ruang tahanan. Meski begitu, saat bersaksi di pengadilan, Angelina membantah terlibat dalam kasus Nazaruddin.

Dalam sebuah percakapan BlackBerry antara Rosa dan Angelina pada 16 April 2010, Rosa meminta segera bertemu dengan Angelina. Tapi Angelina menolak ditemui. "Bu Rosa, kondisi di DPR kayaknya tak memungkinkan untuk bertemu. Maaf, ya, karena dinding bertelinga." Kini, setelah di dalam bui, sebelum ada penghuni ketiga, keduanya punya banyak waktu bercakap-cakap.

Anton Septian


KodeTanggalPenerimaProyekJumlah
MK2/10/03/120412 Maret 2010Komisi X lewat AngelinaUniversitas 2010Rp 70 juta
-13 April 2010Angelina-US$ 100 ribu
-19 April 2010Angelina/KosterUniversitas 2010Rp 2,5 miliar
MK2/10/05/04014 Mei 2010AngelinaUniversitas 2009Rp 3 miliar
MK2/10/05/05015 Mei 2010Angelina/KosterKemenporaRp 3 miliar
MK1/10/05/06015 Mei 2010Angelina/KosterKemenporaRp 2 miliar
-19 Juni 2010Angelina/KosterUniversitas 2010US$ 100 ribu
MK2/10/09/02012 September 2010AngelinaUniversitas 2010US$ 150 ribu
MK2/10/10/140114 Oktober 2010Angelina/KosterUniversitas 2010US$ 300 ribu
MK2/10/10/140114 Oktober 2010Angelina/KosterUniversitas 2010US$ 200 ribu
MK2/10/10/170117 Oktober 2010Angelina/KosterUniversitas 2010US$ 400 ribu
-26 Oktober 2010Angelina/KosterUniversitas 2010US$ 500 ribu
MK2/10/11/03013 November 2010Angelina/KosterUniversitas 2010US$ 500 ribu
MK2/10/11/220122 November 2010Angelina untuk
sumbangan Merapi
Universitas 2010Rp 10 juta
MK2/11/02/180218 Februari 2011Pembangunan
pura Koster
Universitas 2011Rp 50 juta
MK2/11/03/01021 Maret 2011Komisi X lewat AngelinaUniversitas 2011US$ 100 ribu
MK2/11/03/03023 Maret 2011KosterUniversitas 2011Rp 500 juta

Naskah: Anton Septian, Sumber: Wawancara, Laporan keuangan Grup Permai


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161862954217



Nasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.