Menembus Batas Seribu Tahun - Luar Negeri - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Luar Negeri 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menembus Batas Seribu Tahun

Muqtada Sadr berhasil menyatukan perlawanan komunitas Syiah dan Sunni—mencairkan kejumudan selama berabad-abad.

i

Mortir dan granat berseliweran di persimpangan jalan yang padat dan berdebu, di kawasan Adhamiya, Bagdad. Senjata otomatis meraung-raung tak keruan. Sekejap, seorang mujahidin berselempang roket pelontar granat (RPG) meloncat persis di depan tank M1-Abrams yang dikendarai serdadu Amerika..., blaarr. Kendaraan tempur itu meledak, disusul serangkaian teriakan, "Allah Mahabesar!" Perang dadakan itu bertahan sejam. Lalu, senyap.

Pertempuran antara milisi bersenjata Irak dan tentara pendudukan Amerika itu terjadi di perkampungan Sunni, awal pekan lalu. Tapi, yang menarik, para pelakunya bukan hanya milisi bersenjata Sunni, melainkan juga Syiah. "Kami tinggal berganti seragam, sehingga Amerika tidak tahu bahwa kami anggota tentara Mahdi," kata Arkan Aziz, anggota milisi Mahdi pimpinan Muqtada Sadr. Arkan dengan amat taat menjalankan mandat Muqtada Sadr agar bersatu-padu dengan saudara mereka dari kalangan Sunni.

Sekat yang memisahkan Sunni dan Syiah di Irak koyak sudah. Peristiwa besar ini tidak memerlukan konferensi tingkat tinggi di antara para pemimpin spiritual mereka. Cukuplah dengan Muqtada Sadr, keponakan Muhammad Baqir Sadr, pendiri Partai Dakwah—yang pekan silam mengobarkan perlawanan terhadap pasukan pendudukan. Sebagai "hadiahnya", ia diganjar status buron. "Dia (Muqtada) harus digelandang ke pengadilan," kata Jenderal Richard Myers, petinggi serdadu Amerika. Sejatinya, pernyataan ini hanya menegaskan apa yang sudah dirilis Paul Bremer, kepala pemerintahan pendudukan, pekan sebelumnya.


Menanggapi perburuan pemerintah pendudukan, Muqtada "menyepi" di Najaf. Sementara kaum Syiah lain mengirimkan bantuan kepada para pejuang Sunni di Fallujah. Ketika perang beruntun terjadi di Fallujah, dua pekan silam, serdadu Amerika mengisolasi penduduk. Akibatnya, korban perang yang terluka tak bisa tertolong karena keterbatasan obat-obatan. Kelaparan juga bersimaharajalela. Walhasil, ribuan orang Sunni-Syiah di Bagdad "arisan" bahan makanan, minuman, dan obat-obatan, kemudian diangkut ke Fallujah.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTI6MTE6MTAiXQ

"Kita bersatu atas nama Islam, tak ada lagi Sunni dan Syiah," kata Syekh Ahmad Abdul Ghafur, Imam Masjid Umul Qura, di bagian barat Bagdad. Tetua suku dan anggota Komite Petinggi Spiritual Irak ini ikut melepas arak-arakan 90 mobil yang mengangkut sumbangan tersebut. "Ini bukti solidaritas kami yang tak sudi menjual negeri sendiri," Syekh Ahmad menjelaskan. Menurut dia, perbuatan saling membantu itu adalah salah satu bentuk jihad alias berjuang di jalan agama.

Kesadaran kolektif ini tak hanya membentang dari selatan hingga barat Kota Bagdad. Bahkan di kota kecil Khalis, sekitar setengah jam perjalanan ke arah timur Bagdad, seorang guru agama terlihat sibuk menjadi "panitia" sumbangan. Ali Dabagh, guru itu, merasa kinilah saatnya rakyat Irak bangkit. "Betapa kami trenyuh melihat keluarga-keluarga Sunni dari Fallujah ditampung di rumah orang-orang Syiah di Khadimiya," Ali menjelaskan.

Khadimiya, yang terletak di barat daya Bagdad, seusia dengan Adhamiya. Di sini terdapat makam salah satu imam Syiah. Penduduknya pun 100 persen menganut ajaran Syiah. Tapi kini, "Saya menangis bahagia ketika mereka menampung keluarga kami yang mengungsi," kata Bashiar Sattar, penduduk Fallujah. Pasalnya, "Selama ini Amerika berpikir kami saling benci dan bermusuhan."

Boleh jadi tak relevan lagi membicarakan Sunni-Syiah di Irak seusai "penyatuan" yang dirintis oleh Muqtada Sadr. Toh, ada saja pertanyaan pesimistis yang muncul: sampai kapan dua komunitas yang bak minyak dan air ini tetap bisa bergandeng tangan? "Sampai kami semua berhasil mengusir keluar Amerika, tak peduli berapa lama," kata Ahmad, penduduk Adhamiya.

Pasca-pertempuran, Distrik Adhamiya. Di tengah kesunyian, Karrar, pemuda 17 tahun, mengintip dari balik jendela rumahnya. Dan dia bergumam: "Saatnya sudah tiba bagi saya untuk ikut berjuang bagi negeri ini."

Siang sebelumnya pemuda ini hanya menjadi penonton ketika pertempuran di Adhamiya pecah di depan matanya.

Rommy Fibri (Al-Jazeera, Asianews, BBC)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:11:10


Luar Negeri 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB