We Are One: Festival Film untuk Semua - Layar - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Layar 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tak Ada Karpet Merah di Cannes

Di tengah pandemi Covid-19, festival film di seluruh dunia terpaksa mengurungkan pergelaran masing-masing. We Are One hadir sebagai festival film daring bersejarah yang menyatukan sinema dan seluruh dunia.

i Tak Ada Karpet Merah di Cannes./Tempo
Tak Ada Karpet Merah di Cannes./Tempo

AKHIR musim semi di Eropa biasanya menjadi penanda bagi pencinta sinema untuk mengarahkan mata ke Palais des Festivals et des Congrès di Cannes, Prancis, tempat salah satu festival film terbesar sejagat, Festival de Cannes, biasa digelar. Baru saja tahun lalu festival ini memberikan kemenangan penting kepada film Parasite (Bong Joon-ho), yang akhirnya melaju mulus menjadi film terbaik Academy Awards. Namun, berselang beberapa pekan saja setelah Bong mengangkat Piala Oscar, penyelenggara festival Cannes mengumumkan pembatalan acara yang sedianya bergulir pada 12-23 Mei tahun ini. Sepanjang 72 tahun sejarahnya, baru sekali saja penghentian seperti ini terjadi, yaitu pada Paris Riots 1968. Kali ini karpet merah Cannes urung digelar karena pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19.

Terpisah di belahan bumi lain, Sydney Film Festival yang biasa berlangsung pada awal Juni juga tak bisa terlaksana. Di New York, Amerika Serikat, Tribeca Film Festival—yang telah menetapkan 15-26 April sebagai waktu acara—turut mengumumkan pembatalan. Sementara itu, festival-festival yang berlangsung pada akhir tahun, seperti Venice dan Toronto International Film Festival, masih menunda keputusan untuk membatalkan agenda. Namun penyelenggara memastikan, jika pun festival terlaksana, protokol kesehatan ketat akan diterapkan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Awan kelabu yang menutupi komunitas sinema dunia itu akhirnya sedikit terkuak ketika produser Jane Rosenthal dan aktor Robert De Niro—keduanya adalah penggagas Tribeca Film Festival—mengupayakan sebuah festival film daring (online) yang dapat diakses siapa saja dari rumah. Pada 29 Mei-7 Juni lalu, We Are One: A Global Film Festival terwujud. Rosenthal dan De Niro menggandeng YouTube sebagai saluran penayang film-film terpilih dan melibatkan 21 film festival sedunia sebagai kurator bersama dalam festival tersebut.


Adegan dari film Beyond The Mountain./imdb

Dalam sebuah siaran pers, Rosenthal mengatakan semangat We Are One sama dengan semangat Tribeca Film Festival yang dia mulai seusai peristiwa 11 September 2001, yaitu menyatukan kembali komunitas yang luluh-lantak karena tragedi. “Saat ini kita semua berhadapan dengan macam-macam kehilangan. Robert De Niro dan saya kemudian menghubungi Cannes, Venice, Toronto, Mumbai, London, dan Tokyo Film Festival, semuanya berkata, ‘Ya’,” tutur produser The Irishman ini. “Lalu kami mengajak YouTube dan lima pekan kemudian kami sudah punya 100 jam konten serta program untuk ditayangkan di festival. Sungguh ajaib.”

Keajaiban lain yang diciptakan Rosenthal adalah membuat festival film yang biasanya lekat dengan citra penayangan eksklusif justru bekerja sama dengan platform video seakbar YouTube. Chief Business Officer YouTube Robert Kyncl menyatakan YouTube mendukung penuh We Are One karena festival ini memiliki kemampuan super untuk mengumpulkan penduduk dunia di sebuah momen istimewa dalam sejarah lewat film. “Salah satu hal indah tentang film dan konten visual lainnya adalah kemampuan bercerita dan menyatukan orang-orang di mana pun mereka berada,” kata Kyncl dalam siaran pers. “Kami di YouTube melihat fenomena ini setiap hari, tapi apa yang terjadi belakangan membuat kebutuhan untuk terhubung dan mencari hiburan makin intens.”

Laporan setelah We Are One rampung menyebutkan festival ini ditonton lebih dari 1,6 juta pengunjung unik. Penonton terbanyak berasal dari Jepang, India, Amerika Serikat, Brasil, dan Meksiko. Dalam sebuah jajak pendapat yang digelar festival ini di laman komunitas YouTube, sebanyak 77 persen penonton mengatakan tak pernah menghadiri festival film sehingga We Are One adalah pengalaman pertama mereka menyaksikan film-film yang biasanya tak dapat diakses dengan mudah.

Adegan dalam film Nasir./imdb

Festival ini sepenuhnya gratis, tapi penonton diundang untuk berdonasi lewat tautan Donate Button pada setiap penayangan program. Donasi akan disalurkan antara lain ke Badan Kesehatan Dunia (WHO); badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani anak-anak, UNICEF; Save the Children; dan Doctors Without Borders untuk membantu penanganan pandemi Covid-19 di seluruh dunia. We Are One memamerkan diri sebagai “pergelaran festival film bersejarah yang tak pernah terjadi sebelumnya”. Dan memang begitu adanya.

Selama sepuluh hari, lebih dari seratus judul dari pembuat film seluruh dunia dapat diakses secara bergantian di kanal We Are One di YouTube. Sebagian besar film tak pernah tayang secara resmi di saluran daring apa pun sehingga We Are One menjadi kesempatan langka untuk menikmati karya tersebut tanpa perlu mengangkat tubuh dari kasur. Bahkan 13 film di antaranya baru ditayangkan pertama kali. Film tertentu hanya dapat ditonton satu kali sebelum ditarik kembali oleh YouTube. Namun lebih banyak yang dapat terus ditonton hingga berhari-hari setelah festival berakhir. Ada juga sesi wawancara langsung dan rekaman temu wicara atau diskusi dengan pembuat film seperti Claire Denis, Guillermo del Torro, Jackie Chan, Bong Joon-ho, Francis Ford Coppola, dan Alejandro Iñárritu.

Berkat We Are One, untuk pertama kalinya festival-festival patron seperti Cannes, Sundance, Berlin, Toronto, dan Venice, yang biasanya menjadi rival, malah duduk bersama untuk menghadirkan kumpulan tontonan yang dapat dinikmati semua orang. Yang istimewa juga dari We Are One adalah festival-festival yang belum begitu bergaung namanya di dunia turut mendapat lampu sorot layaknya mereka yang telah mapan. Penonton dapat menikmati beragam film dengan warna-warni unik dari Jio MAMI Mumbai Film Festival, Jerusalem Film Festival, Festival Internacional de Cine en Guadalajara, Festival International Du Film de Marrakech, hingga Karlovy Vary International Film Festival dari Republik Cek. “Aku sama sekali tak pernah menonton film dari Maroko. Bagus sekali! Terima kasih, We Are One,” begitu komentar seorang penonton asal Brasil di bawah film Volubilis yang dihadirkan oleh festival film Marrakech.

Poster film Eeb Allay Ooo! dan Poster film Nasir./Imdb

Terbukti festival-festival pinggiran ini dapat menghadirkan film dengan kualitas narasi dan produksi yang tinggi. Salah satu film yang paling banyak ditonton sepanjang pergelaran ini dibawa oleh Mumbai Film Festival, yaitu Eeb Allay Ooo!, yang disutradarai Prateek Vats. Film ini menceritakan kisah jenaka yang memilin hati tentang seorang pawang monyet yang baru saja merantau ke New Delhi, India. Anjani (Shardul Bhardwaj) bertugas mengamankan gedung-gedung pemerintah dan tempat umum dari serangan monyet. Di balik kelucuan upaya Anjani mengusir hewan liar itu dengan menggunakan bahasa monyet seperti “eeb”, “allay”, dan “ooo” sembari mengenakan kostum monyet, ada keperihan tentang pekerja migran yang berusaha menyambung hidup dengan keahlian pas-pasan. Film ini adalah bagian dari seleksi India Gold yang akhirnya memenangi Golden Gateway Award dan Young Critics Choice Award.

Film panjang lain yang dibawa Mumbai juga amat layak dipuji. Nasir arahan sutradara Arun Karthick dimulai dengan tangkapan amat dekat dari kehidupan Nasir, seorang muslim di India. Khartick dengan lembut menghadirkan Nasir ke pusat perhatian kita, melihatnya berinteraksi dengan anak dan istri, bersiap bekerja di toko pakaian yang ramai, beribadah. Nasir adalah laki-laki biasa yang dapat kita temui sehari-hari, hingga kita tak menyadari sesuatu yang besar akan terjadi kepadanya. Ketidaksadaran yang disengaja Karthick dengan samar-samar saja menghadirkan tanda-tanda propaganda antimuslim yang memanas di India. Ketika di akhir film Nasir menjadi korban kekejian kelompok antimuslim itu, kekagetan akan tinggal begitu lama menyadari kehidupan yang biasa dapat berakhir begitu saja karena kebencian tak masuk akal.

Kurator Jio MAMl Mumbai untuk We Are One, Smriti Kiran, mengatakan dia memilih film-film yang dapat menggambarkan keberagaman India sekaligus dapat dipahami siapa pun di seluruh dunia. “Apatisme terhadap pekerja migran, kekerasan komunal yang tak masuk akal, patriarki yang mengakar kuat, serta ide tentang cinta dan kepemilikan dapat dipahami siapa saja,” ucap Kiran lewat situs MAMI Mumbai.

Adegan dalam film Eeb Allay Ooo!/Imdb

Kiran juga menyampaikan kebanggaan Jio MAMI Mumbai Film Festival karena menjadi satu-satunya festival film India yang turut serta dalam We Are One. “Ini adalah pencapaian bagi kami karena dapat berdiri bersama komunitas film global dan berkesempatan menyampaikan suara sinematik terbaik India kepada dunia,” ujarnya. 

Dari Guadalajara di Meksiko, datang film-film berbahasa Spanyol pemenang penghargaan. Guadalajara International Film Festival (FICG), yang berlangsung sejak 1986 dan dipandang sebagai festival film paling prestisius di Amerika Latin serta salah satu festival berbahasa Spanyol terpenting di dunia. Salah satu film kurasi FICG yang ditayangkan di festival We Are One adalah Beyond the Mountain arahan sutradara David R. Romay yang memenangi top prize di Lleida Latin-American Film Festival tahun lalu. Beyond the Mountain mengisahkan perjalanan Miguel (Benny Emmanuel) mencari ayahnya yang telah lama meninggalkan dia dan ibunya. Pencarian Miguel penuh dengan dendam, tapi Romay memberi kontras kesunyian yang monoton di sepanjang film. Gesekan ketegangan ini membuat belokan di akhir cerita terasa lebih menohok.

Selain memberikan kesempatan menikmati film dari beragam tradisi dan bahasa, We Are One memberikan kesempatan menonton film lama yang telah direstorasi secara digital. Karlovy Vary International Film Festival membawa film dari tahun 1978 yang membuat sinema Cekoslovakia diperbincangkan dunia berjudul Adéla ještě nevečeřela (Adela Has Not Had Her Supper Yet) bikinan sutradara Oldřich Lipský dan penulis Jiří Brdečka. Film ini adalah parodi kasus kriminal ketika detektif swasta asal New York, Nick Carter (Michal Docolomansky), diundang ke Praha oleh seorang putri bangsawan untuk mencari anjingnya yang hilang. Film ini direstorasi oleh Hungarian Filmlab pada 2015 sehingga memiliki kualitas gambar dan suara yang tak jauh berbeda dengan saat pertama kali ditayangkan.

Jane Rosenthal dan Robert De Niro saat pemutaran film “Remembering the Artist” di Sundance Film Festival, Utah, Amerika Serikat, Januari 2014./REUTERS/Jim Urquhart

BFI London Film Festival dari Inggris turut membawa dua film hasil restorasi arsip dari tahun yang jauh lebih lama. Dua film itu adalah The Epic of Everest (J.B.L. Noel, 1924) dan Shiraz: A Romance of India (F. Osten, 1928).

The Epic of Everest adalah film penting yang mendokumentasikan ekspedisi pendaki gunung Inggris ke Everest. Ekspedisi yang kini banyak diingat sebagai ekspedisi Mallory dan Irvine karena merenggut nyawa kedua orang itu diabadikan oleh fotografer Noel dalam kumpulan foto dan video yang detail dari setiap momen perjalanan mereka tanpa suara. Noel juga merekam dengan baik tradisi masyarakat lokal Nepal pada masa itu dan menulis catatan etnografi hasil pengamatannya di sela-sela gambar. Film ini direstorasi saat peringatan keseratus tahunnya, enam tahun lalu. “Kami ingin berfokus pada dua kekuatan yang dapat menyatukan dunia, yaitu film dan musik. Kami menghadirkan film sunyi Shiraz dan The Epic of Everest yang direstorasi oleh BFI National Archive dengan suara baru yang kaya dari musikus kontemporer Anoushkan Shankar dan Simon Fisher Turner,” ucap Direktur BFI London Film Festival Tricia Tuttle dalam keterangan di situsnya.

Untuk penonton yang mencari film pendek, We Are One menghadirkan lebih dari 70 judul. Cannes Film Festival menjadi salah satu penyedia film pendek terbaik dengan menayangkan karya-karya yang masuk seleksi kompetisi film pendek tahun lalu. Pemenang Short Film Palme d'Or 2019, The Distance Between Us and The Sky, turut dibawa serta. Film berdurasi 9 menit dari Yunani ini menyampaikan ide sederhana tentang percakapan dua orang asing di malam hari dengan kekuatan close-up kamera yang menangkap setiap emosi dengan intens dan diakhiri kilasan momen intim yang menoreh dalam.

 


 

Berkat We Are One, untuk pertama kalinya festival-festival patron seperti Cannes, Sundance, Berlin, Toronto, dan Venice, yang biasanya menjadi rival, malah duduk bersama untuk menghadirkan kumpulan tontonan yang dapat dinikmati semua orang. Yang istimewa juga dari We Are One adalah festival-festival yang belum begitu bergaung namanya di dunia turut mendapat lampu sorot layaknya mereka yang telah mapan.

 


 

Film pendek lain yang populer selama We Are One digelar adalah Anna bikinan sutradara Ukraina, Dekel Berenson. Anna (Svetlana Alekseevna Barandich) adalah ibu tunggal paruh baya yang bekerja di rumah pemotongan hewan. Tertarik pada iklan radio, Anna mendatangi ajang pencarian jodoh dengan pria Amerika. Dalam waktu 15 menit saja, film ini memberi pengalaman sinematik yang kaya dengan memperlihatkan kontrasnya keseharian Anna. “We Are One memberi kesempatan untuk film kami ditonton banyak orang. Siapa sangka kami akan ditonton lebih dari 60 ribu kali?” ujar Dekel Berenson lewat akun Instagram AnnaFilm19.

Adapun kurasi Annecy International Film Festival menjadi tontonan paling ringan dan menghibur di sepanjang festival karena menyediakan film animasi pendek keluarga. Bird Karma, Bilby, dan Marooned masuk kategori ini yang mengangkat karakter hewan menggemaskan dan robot lucu.

Tampilan YouTube festival film We Are One./Youtube

Menjawab kemajuan teknologi sinema yang didukung oleh platform menonton lewat YouTube, We Are One membuat bagian khusus untuk film yang dapat ditonton dalam format 360 VR. Format ini memungkinkan penonton terlibat langsung dengan apa yang sedang ditampilkan di layar cukup dengan menggeser gawai masing-masing. Dalam film stop motion pendek Passengers arahan sutradara Isobel Knowles dan Van Sowerwine, penonton adalah pemeran utama. Saat memutar film ini, kita akan menemukan diri sedang duduk di bangku belakang sebuah taksi yang dikendarai oleh sopir berwujud burung hantu. Gawai berfungsi sebagai mata. Jika gawai diarahkan ke bawah, kita dapat melihat tangan kita sendiri yang berbulu seperti kucing. Bila gawai diputar ke sekeliling, kita akan melihat pemandangan di sekitar saat taksi berkelebat melewati jalan yang terlihat seperti adegan dalam impian. Sesekali si burung hantu berputar dan berbicara kepada kita. Sungguh sebuah pengalaman menonton yang tak biasa.

Sesuai dengan namanya, We Are One memang sebuah festival yang dapat menyatukan semua orang. Tak berhenti sampai di situ, festival ini menggunakan platformnya untuk menarik perhatian kelompok yang biasa menjadi minoritas. Salah satunya membuat daftar putar khusus dengan kategori seperti Black Voices untuk karya tentang atau oleh komunitas kulit hitam, Female First buat karya sutradara perempuan, dan Indigenous Short Programs untuk film tentang masyarakat adat yang dikurasi oleh Sundance Film Festival. Menonton film berdasarkan urutan putar khusus ini dapat memberi perspektif berbeda yang mungkin tak kentara di tengah ketimpangan sistematis berdasarkan ras dan gender yang mengakar di sekitar kita.

MOYANG KASIH DEWIMERDEKA
2020-07-10 01:00:20

Cannes Film Festival YouTube Festival Film

Layar 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.