Ibukota Pesta Air - Kota - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Kota 6/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ibukota Pesta Air

40% wilayah DKI Jakarta tergenang banjir. Jalan-jalan rusak. Warga DKI menganggap usaha pemda DKI kurang bermanfaat. Menurut gubernur Ali Sadikin perlu biaya $ 1 milyar untuk mengatasinya.

i
AWAL tahun ini Jakarta pesta air. Bila permulaan tahun lalu air bah hanya menenggelamkan sekitar 17% kawasan Ibukota ini, 19 dan 20 Januari lalu wilayah DKI yang tergenang air sampai 40%. Yang menarik dari peristiwa banjir baru lalu itu barangkali hanya kecekatan petugas-petugas DKI menyelamatkan para korban sehingga tak menderita lebih parah. Mungkin karena sudah cukup pengalaman dari peristiwa-peristiwa serupa sebelumnya. Tapi lebih dari semua itu tampaknya Pemda DKI juga yang tetap risau. Terutama pasal kerusakan jalan-jalan akibat musibah itu. Belum lagi karena tudingan warga Ibukota yang akibat banjir hampir setiap tahun itu menganggap usaha-usaha Pemda DKI membenahi Jakarta selama ini sebagai kurang bermanfaat. Bahkan peninggian beberapa jalur jalan secara langsung dirasakan penduduk malahan makin memberi kemungkinan mereka dikurung banjir. Di Kelurahan Tanah Tinggi (Senen) misalnya, menurut penduduk setempat tahun lalu tinggi air yang masuk ke dalam rumah mereka hanya 20 cm, sedangkan baru-baru ini - setelah jalan di sana ditinggikan rumah mereka tenggelam sampai hampir 1 meter. Namun peninggian jalan-jalan rupanya memang tidak dimaksudkan Pemda DKI sebagai usaha untuk mencegah banjir. Seperti peninggian (lagi) jalan Thamrin yang sampai sekarang belum juga terlaksana, "tak lebih dari usaha untuk menyelamatkan jalan itu dari kerusakan", seperti diucapkan Syariful Alam Humas DKI. Sehingga resep satu-satunya untuk membebaskan Jakarta dari banjir agaknya cuma satu: "sediakan biaya $ 1 milyar" seperti diucapkan Gubernur Ali Sadikin lagi pekan lalu, sama dengan yang dikatakannya ketika Jakarta tergenang banjir awal tahun 1976. Sebagai yang juga pernah diungkapkan Gubernur DKI itu, di antara biaya itu sekitar Rp 207,5 milyar adalah untuk membuat banjir-banjir kanal waduk-waduk dan rumah-rumah pompa. Sedang untuk membuat drainase dan sanitasi di dalam kota memerlukan biaya sekitar Rp 242 milyar. Dan, kata Ali Sadikin lagi, kalau biaya itu harus dibebankan kepada DKI, sampai kiamat tak akan ada uangnya. Padahal dengan banjir baru-baru ini warga ibukota sudah merasa seperti kiamat sudah datang.
2020-08-11 13:00:15


Kota 6/6

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.