Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Si Buyung Kena Diabetes

Di luar dugaan, kasus diabetes tipe 1 pada anak meroket tajam. Dokter masih sering salah mendiagnosis.

i

SI kecil M. Faizcenna Dyota harus bersahabat dengan jarum suntik. Sejak September tahun lalu—sejak ia dinyatakan dokter mengidap diabetes melitus tipe satu—tubuhnya mendapat empat suntikan setiap hari: pagi, siang, sore sebelum makan, dan malam sebelum tidur.

Tak hanya itu. Sebelum dan setelah makan, anak bungsu pasangan M. Arif Novianto dan Sudarwati itu juga harus ”dicolek” jarinya sampai darahnya menitik guna pengecekan kadar gula darahnya. Hasil kadar gula ini akan menentukan dosis insulin yang diperlukan tubuh Faiz.

Selasa siang pekan lalu, sepulang sekolah dari Sekolah Dasar Cipulir 05, Jakarta Selatan, sembari memegang pistol mainan yang baru saja dibeli, Faiz disuntik insulin dengan pena insulin di lengan kanan oleh ayahnya. Tak terdengar jerit atau rintihan. ”Rasanya seperti digigit nyamuk,” kata Faiz.


Selepas insulin diberikan, Faiz pun menyantap makan siangnya. Menu bagi penyuka sepak bola ini adalah nasi putih, sayur bayam, serta lauk berupa sepotong tempe dan telur dadar. Porsinya semua terukur. Tujuannya jelas, agar gula darah Faiz tak melonjak. Lonjakan kadar gula pada akhirnya bisa memicu komplikasi.

161835272020

Bagi sebagian orang, mengungkap kondisi anaknya yang tak biasa, termasuk mengidap diabetes, mungkin dianggap tabu. Tapi pasangan Arif-Sudarwati mau berbagi pengalaman agar orang tua lain yang memiliki anak serupa tak menyerah—meski, harus diakui, biaya untuk menangani anak diabetes tak murah. Untuk insulin dan peranti pengecekan gula darah, sehari bisa habis Rp 50 ribu.

Cerita soal riwayat Faiz itu pula yang disampaikan Arif dalam seminar ”Pentingnya Deteksi Dini Diabetes pada Anak” di Jakarta, Kamis dua pekan lalu. Dalam hajatan yang diadakan Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan World Diabetes Foundation itu, testimoni juga diberikan Arman Maulana Azhar, 18 tahun, yang ketahuan mengidap diabetes tipe 1 sejak 2003.

”Diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang kejadiannya semakin meningkat,” kata dokter Badriul Hegar, Ketua Umum IDAI. Aman B. Pulungan, dokter spesialis endokrinologi anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengiyakan hal itu. Bahkan manajer program World Diabetes Foundation ”Integrated and Comprehensive Management of Type 1 Diabetes Mellitus in Indonesia” ini menegaskan, ”Diabetes pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling serius di abad ini.”

Diabetes tipe 1 adalah kelainan sistemik yang terjadi akibat gangguan metabolisme glukosa yang ditandai penyusutan kadar gula darah. Ini terjadi akibat rusaknya sel penghasil insulin di kelenjar liur lambung (pankreas) sehingga mengurangi—bahkan menghentikan—produksi insulin.

Penyebab pasti diabetes—akrab disebut penyakit gula—tipe ini masih belum sepenuhnya dipahami oleh para ahli. Namun sebagian ahli yakin penyebabnya adalah autoimun (sistem pertahanan tubuh menghancurkan bagian tubuh yang lain). Dalam kasus ini, sistem tubuh menyerang dan merusak sel-sel yang memproduksi hormon insulin sehingga pankreas tak dapat memproduksi hormon insulin. Pada umumnya, gejala baru muncul setelah kerusakan sel pankreas mencapai 90 persen atau lebih.

Secara umum, ada dua faktor yang dapat menyebabkan diabetes tipe 1 pada anak: faktor genetik (kerusakan gen dalam tubuh anak tersebut) dan faktor lingkungan, seperti paparan zat kimia atau infeksi virus tertentu. Tak seperti diabetes tipe 2 yang sebagian besar disebabkan oleh faktor keturunan, diabetes tipe 1 bisa menclok ke tubuh anak yang orang tuanya tak memiliki riwayat diabetes, seperti dialami Faiz.

Hingga saat ini, jumlah pengidap diabetes tipe 1 pada anak di Indonesia—usia hingga 18 tahun, sesuai dengan undang-undang anak—belum memiliki angka yang pasti. Namun data yang dikumpulkan Unit Kelompok Kerja Endokrinologi Anak IDAI selama dua tahun terakhir, hingga Juli 2011, tercatat ada 684 kasus. Angka ini melonjak pesat dari 2008, yang hanya 156 kasus. ”Tak ada di dunia data penyakit yang bisa naik hingga 400 persen dalam dua tahun, kecuali diabetes tipe 1 di Indonesia,” kata Aman.

Ibarat gunung es, angka itu pun diyakini belum menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Di luar itu, mungkin ada banyak anak penyandang diabetes yang tak terdiagnosis, bahkan mati sebelum terdeteksi. Maklum, pengetahuan berbagai pihak ihwal penyakit ini, dari dokter, perawat, tenaga kesehatan, sampai masyarakat, masih kurang.

Ketidaktahuan itu pula yang sempat dijumpai Arif saat memeriksakan Faiz ke dokter umum tahun lalu. Berat badannya turun meski volume makan dan minumnya meningkat, sering pipis, dan cepat lelah—gejala yang kerap membuat dokter mengira flek paru belaka. Alasan sang dokter, seperti ditirukan Arif, ”Saya belum pernah menemukan kasus anak terkena diabetes.”

Untuk memastikan, dokter itu meminta uji gula darah dilakukan. Setelah hasil didapat, gula darah sebelum makan 207 miligram per desiliter (normalnya kurang dari 126 mg/dl) dan gula darah setelah makan 465 mg/dl (normalnya di bawah 200 mg/dl), barulah sang dokter kaget.

Ekspresi serupa ditunjukkan dokter spesialis anak yang didatangi keluarga Arif. Sebab, selama 10 tahun berpraktek, dokter itu belum pernah menemukan kasus serupa. Itu sebabnya ia tak berani memberikan terapi. Walhasil, Faiz baru mendapat penanganan setelah dirujuk ke bagian endokrinologi anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Penting dicatat, Aman mengingatkan, anak dengan diabetes tipe 1 rentan mengalami komplikasi. Salah satunya adalah ketoasidosis diabetikum, yakni tubuh mengalami kelebihan gula terlalu berat sehingga terbentuk zat sampingan berupa keton. Zat ini mengakibatkan darah menjadi asam dan dapat meracuni otak sehingga kesadaran pasien menurun. Tanpa penanganan yang tepat, si anak dapat mengalami koma diabetik, bahkan meninggal.

Gejala-gejala ketoasidosis adalah sesak napas, mual dan muntah, sakit perut, dan kesadaran menurun atau koma. Nah, lantaran gejalanya mirip usus buntu, infeksi, atau asma, acap kali dokter salah memberikan terapi. Buntutnya, bukan kesembuhan yang didapat, melainkan kematian. Setelah operasi usus buntu, pasien justru meninggal. ”Berbeda dengan pasien usus buntu, napas anak penderita diabetes tipe 1 berbau asam atau aseton. Itu ciri khasnya,” katanya.

Menurut data Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, pada Januari 2002-Mei 2006, tercatat 62 pasien mengalami ketoasidosis dan 12 pasien meninggal. Belakangan, angka ketoasidosis menurun. Pada Juni 2006-Maret 2010, tercatat 40 pasien mengalami ketoasidosis, dan hanya satu pasien yang meninggal. Menurut Aman, penurunan itu terjadi lantaran ada perbaikan edukasi soal diabetes di kalangan tenaga medis, edukator atau penyuluh diabetes, serta pasien dan keluarganya.

Toh, Aman belum puas. Sebab, edukasi merupakan salah satu pilar keberhasilan penanganan diabetes, selain pemberian insulin, pemantauan gula darah, pengaturan makan, dan olahraga. Untuk itu, Yayasan Diabetes bersama IDAI akan terus menggenjot program pelatihan sehingga tak ada salah diagnosis, deteksi dini lebih akurat, dan ketoasidosis bisa ditekan. ”Tak boleh ada anak Indonesia meninggal karena ketoasidosis,” ujar Aman.

Harapan itu senapas dengan keinginan pemerintah. Salah satu caranya, menurut Ekowati Rahajeng, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, mulai tahun ini, pemerintah akan menyediakan insulin bagi penyandang diabetes tipe 1 di pusat kesehatan masyarakat. Dengan begitu, mereka bisa mengontrol gula darah dengan biaya miring. ”Dosa besar kalau pemerintah membiarkan hal ini,” katanya.

Dwi Wiyana


Menyuntik Insulin Sendiri

Insulin adalah senjata andalan seumur hidup bagi penyandang diabetes tipe 1. Untuk menyuntikkannya ke tubuh, anak di bawah 12 tahun memang perlu bantuan orang tua. Namun, jika umurnya sudah melewati 12 tahun, ada baiknya menyuntik sendiri. Suntik bisa dilakukan di daerah perut, bagian belakang lengan atas, atau bagian samping luar paha.

Insulin: hormon yang berfungsi untuk mengontrol kadar gula (glukosa) di dalam tubuh. Hormon ini diperlukan untuk mengolah gula darah yang didapat melalui makanan sehari-hari agar menjadi sumber energi bagi sel-sel di tubuh.

NB

Cara menyuntik:

  1. Bersihkan daerah yang akan disuntik dengan kapas beralkohol. Tunggu hingga kering.
  2. Cubit sedikit lipatan kulit dan masukkan jarum dengan cepat dengan arah tegak lurus terhadap permukaan kulit (sudut 90 derajat). Tetap cubit kulit agar jarum tidak masuk terlalu dalam hingga ke otot.
  3. Dorong jempol hingga cairan insulin masuk dengan sempurna. Tahan selama 5 detik.
  4. Lepaskan cubitan dan cabut jarum dari kulit.
  5. Jika terlihat darah atau cairan bening di tempat suntikan, tekan daerah tersebut selama 5-8 detik, dan jangan digosok.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835272020



Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.