Intermezzo 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berkontes di Mal

Kedai-kedai kopi khusus kopi asli Indonesia makin marak, bersaing dengan kafe kopi asing. Memasarkan kopi lokal dengan gaya hidup urban.

i

SESEKALI datanglah ke Anomali Coffee di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, menjelang matahari tergelincir ke cakrawala barat. Bersamaan dengan proses sinar merah—yang menembus dinding kaca kafe—menjadi gelap, makin meruyak aroma harum biji kopi yang dipanggang di mesin pengolahnya. Seperti sengaja dipamerkan, alat untuk roasted ini ditempatkan di dekat pintu masuk kafe yang punya moto ”Kopi Asli Indonesia” itu.

Bagi siapa pun yang sedang memesan minuman dan makanan di tempat pemesanan, yang juga persis di depan pintu masuk, hawa hangat dari mesin itu pasti akan mencuri perhatian. Tak peduli dia penikmat kopi atau bukan. Pengunjung juga akan dililit aroma yang makin harum seiring proses pemanggangan. Lalu satu atau beberapa orang pasti akan bertanya kepada barista atau peramu minuman kopi tentang jenis kopi yang sedang dimasak.

Percakapan bisa panjang atau pendek. Namun, yang penting, rasa ingin tahu pelanggan—dari sekadar datang untuk berbagai keperluan yang mungkin tak berhubungan dengan menik­mati kopi—tentang kopi bisa terjawab.


”Kami olah dari awal agar fresh,” kata Mimi Alawiyah, barista senior kedai kopi itu, menjelaskan tentang biji kopi. Sebelum diolah, biji-biji itu diseleksi lebih dulu. Yang cacat, misalnya ada bekas gigitan serangga, tidak diolah lanjut.

161835473110

Biji-biji kopi yang sudah disangrai itu kemudian disimpan seminggu sebelum digiling. ”Tinggal tuang air panas jadi kopi hitam, atau diperas jadi ekstrak kopi espresso untuk variasi macam-macam jenis minuman kopi,” kata Mimi, yang tahun lalu menyabet gelar juara dua dalam kompetisi barista nasional di Jakarta.

Untuk meracik kopi, dalam pelatihan barista selalu ditekankan pentingnya menyelami proses tanaman kopi, mulai penanaman, perawatan, menunggu panen, panen, pengolahan, sampai upaya menjualnya. ”Jadi, meraciknya dengan perasaan, rasanya beda,” kata Mimi.

Proses pengolahan kopi secara langsung di kedai itu awalnya untuk menjaga kesegaran kopi. ”Kami harus pastikan harga untuk secangkir ini sesuai dengan orisinalitas kopi,” kata Muhammad Agam Agbari, salah satu pendiri Anomali Coffee. Pembeli kopi diharapkan benar-benar seperti mencecap kopi langsung di Aceh, Flores, Bali, juga Papua—kopi-kopi asli Indonesia yang disediakan.

Didirikan pada 2007, Anomali Coffee adalah salah satu kedai khusus kopi-kopi Indonesia. ”Kopi lokal itu enak. Hanya kalah gaya dengan kopi-kopi dari luar yang dijual satu paket dengan gaya hidup,” kata Agam. Maka Anomali menghidangkan kopi-kopi unggulan dari berbagai daerah dengan kemasan modern di tempat-tempat kongko kaum perkotaan. ”Prinsipnya, jangan sampai peminum kopi lokal jadi merasa turun kelas.”

Kegiatan minum kopi bagi kalangan kaum urban dewasa ini memang berkembang tidak sebatas menikmati kopi. Acara ngopi juga lekat dengan gaya hidup. Harga kopi dan hidangan lain di kafe kopi yang relatif mahal seakan memantapkan kelas sosial penikmatnya.

Tren kedai kopi kota menguat seiring dengan berkembangnya Starbucks, jaringan kedai kopi dari Amerika Serikat yang masuk Indonesia sejak 2001, juga gerai kopi asing lainnya di kota-kota besar Indonesia. Mal, tempat peristirahatan di jalan tol, hingga kawa­san perkantoran seperti tak afdal tanpa kafe-kafe kopi asing itu. Orang-orang berangkat kerja, bergegas masuk kantor, seperti kurang keren tanpa menjinjing gelas khas kopi, terbuat dari bahan daur ulang. Orang kota pun makin fasih dengan istilah espresso, coffee Americano, caffe latte, cappuccino, caffe mocha, caramel macchiato, atau brewed coffee.

Pasar gaya hidup kota untuk kedai-kedai kopi ini memang berkembang pesat, meski sajian mereka mayoritas ”tidak berkarakter kopi”. Minuman campuran hanya dengan aroma kopi, ­smoothies berbagai rasa, dan berbagai makanan yang tak berjodoh bila dinikmati dengan kopi dijajakan di kafe-kafe itu. Para pelanggan seperti tak terganggu oleh ”kekacauan” tema kafe-kafe itu, karena yang mereka beli adalah gaya hidup. Di kancah persaingan seperti inilah ikut muncul kafe yang menjual kopi-kopi asli Indonesia. Anomali Coffee tidak sendiri. Beberapa kedai kopi lokal muncul dengan strategi mengemas kopi-kopi mengikuti tren terbaru.

Bakoel Koffie merupakan salah satu kedai kopi lokal yang konsisten berdagang kopi lokal. Bakoel Koffie memiliki sejarah bisnis kopi sejak 1878 dari toko kopi Tek Sun Ho di daerah Warung Tinggi, Gambir, Jakarta Pusat. Nah, pada 2001, penerus bisnisnya, dua bersaudara Syenny Chatrine Widjaja dan Hendra Widjaja, memperluas bisnisnya menjual berbagai sajian kopi, termasuk kopi tubruk yang khas.

Bakoel Koffie pun menyajikan minuman kopi Indonesia dengan selera urban. Memasuki ruangan Bakoel Koffie di daerah Cikini, Jakarta Pusat, misalnya, kesan kita seperti memasuki museum kopi mini. Benda-benda antik berkaitan dengan pembuatan kopi menjadi pajangan utama.

Kedai-kedai kopi lokal pun tak kalah agresif membuka cabang dengan strategi investasi berbeda-beda. ”Kalau Anomali, sementara dengan modal sendiri seadanya,” kata Agam. Tanpa menggunakan kredit perbankan, dalam empat tahun berjalan kedai ini sudah mendirikan tiga cabang berikut kedai pertamanya.

Beda dengan Anomali, Coffee Toffee, kedai kopi lokal yang mengusung slogan ”Go Local All the Way”, menerapkan sistem waralaba. Walhasil, sejak berdiri pada 2005, kini sedikitnya 100 gerai kopi Coffee Toffee tersebar di Jakarta dan sekitarnya, Surabaya, serta kota-kota luar Jawa.

Yang menarik, gagasan kedai ­Coffee Toffee menjual kopi-kopi Indonesia ini justru berawal dari pengetahuan di luar negeri. Pasangan Odi Anindito dan Rakhma Sinseria, yang merintisnya dari Surabaya, mengetahui kualitas kopi Tanah Air justru dari pengalaman saat belajar di Melbourne, Australia. Saat itu Odi sempat bekerja paruh waktu di kedai kopi setempat. ”Kopi enak-enak yang dijual kebanyakan dari Indonesia,” katanya.

Dari Yogyakarta ada Warung Kopi Sruput, yang dibuka pertengahan Juli lalu. Kopi-kopi unggulan, seperti kopi Aceh Gayo Organic, Bali Kintamani, Sumatra Mandailing, Java Estate, Toraja Kalosi, Flores Bajawa, dan Papua Wamena, ditawarkan di kedai ini.

Warung kopi yang berlokasi di salah satu kawasan gaul itu juga menyajikan kopi dengan campuran palawija, serai, atau jahe untuk yang ingin bernostalgia ke zaman baheula. Ada juga varian lain yang ”modern”, dengan campuran antara lain caramel brulee, tiramisu, dan avocado. Suasana kedai kopi juga penting. ”Aroma kopi harus menempel di sofa, dinding-dinding,” kata Kinanthi Haksari, Manajer Pemasaran dan Promosi Warung Kopi Sruput.

Kedai kopi ala kota itu juga mendidik konsumen kopi yang masih awam dengan kopi asli serta karakternya. Kadang mereka mengadakan acara ­cupping, atau menggambarkan rasa kopi sesuai dengan keasaman, kekentalan, aroma, dan lain-lain.

Kedai kopi di kota juga memberikan tip gratis cara benar menikmati kopi. Misalnya untuk kopi tubruk. Setelah air yang sudah dididihkan—dibiarkan sebentar—dituangkan ke bubuk kopi di cangkir, diamkan dulu sekitar tiga menit sebelum diaduk. Bisa dinikmati dengan atau tanpa gula, bergantung pada selera Anda.

Harun Mahbub


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835473110



Intermezzo 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.