Kesehatan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

Viagra Atasi Jetlag

Pil biru alias Viagra tak hanya membantu pria meraih keperkasaan di ranjang. Di masa depan, zat aktif obat ini, sildenafil, berpotensi dikembangkan sebagai obat pengusir jetlag. Penelitian awal pada sejumlah hamster menunjukkan, suntikan zat ini mampu membuat binatang ini lebih cepat pulih dari jetlag hingga 50 persen dibanding yang tak disuntik.

Ini adalah penemuan Patricia Agostino, Santiago Plano, dan Diego Golombek dari Universitas Nasional Argentina, Buenos Aires. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam The National Academy of Sciences, Amerika Serikat, pekan lalu. "Untuk mengusir jetlag pada manusia, dosisnya dibuat lebih kecil dibanding saat sildenafil dipakai mengobati disfungsi ereksi," kata mereka, seperti dikutip Reuters.


Jetlag biasa terjadi setelah melakukan penerbangan jarak jauh. Karena ada perbedaan waktu antara tempat keberangkatan dan daerah tujuan, tubuh pun dipaksa menyesuaikan diri-lazim disebut irama circadian. Salah satu keluhan yang muncul akibat jetlag adalah kacaunya irama tidur tubuh. Untuk menormalkan irama tidur inilah, Agostino dan kawan-kawan memberikan sildenafil kepada hamster.

161820124670

Hepatitis C Bisa Disembuhkan

Ada kabar gembira bagi penderita hepatitis C. Penelitian terakhir menunjukkan, virus ini bisa dibasmi dengan terapi peginterferon (pegylated interferon). Peginterferon adalah generasi terbaru obat hepatitis C, interferon. Penggunaan peginterferon ini bisa dilakukan sendirian atau digabung dengan obat hepatitis C lain, ribavirin. Hal ini diungkap dalam konferensi The 38th Annual Digestive Disease Week di California, Amerika Serikat, pekan lalu.

"Penelitian yang sangat mengesankan. Untuk pertama kali hepatitis C dinyatakan sebagai penyakit yang bisa disembuhkan," kata Mitchell Shiffman, ketua peneliti sekaligus profesor di Virginia Commonwealth University School of Medicine, AS. Selama ini infeksi hepatitis C merupakan biang terjadinya sirosis (jaringan parut) dan kanker hati. Bahkan tak jarang penderitanya mesti menjalani transplantasi hati untuk mempertahankan hidup.

Dalam penelitian, Shiffman dan kawan-kawan melibatkan 997 pasien pengidap hepatitis C dan pengidap hepatitis C plus HIV. Sebagian diberi peginterferon saja, dan sebagian lagi diitambah ribavirin. Hasilnya, seperti dilansir situs HealthDay, 99,6 persen pasien tak lagi terjangkiti virus hepatitis C. Kondisi seperti itu bisa dipertahankan hingga tujuh tahun pascaterapi. Selama ini, hepatitis C diobati dengan interferon alfa-2b dan ribavirin. Cuma, daya sembuhnya tak sehebat peginterferon.

Sleep Apnea Picu Tabrakan

Penderita sleep apnea atau berhenti napas sesaat ketika tidur disarankan agar tidak sering mengemudi. Penelitian paling anyar membuktikan mereka berisiko mengalami kecelakaan dua kali lipat lebih besar.

Alan Mulgrew dari University of British Columbia Sleep Disorders Program, Kanada, bersama koleganya meneliti 800 orang pengidap sleep apnea dan 800 orang sebagai pembanding. Hasilnya, selama tiga tahun, kelompok pertama mengalami kecelakaan sampai 250 kali, dan yang lain hanya 123 kali. Hasil penelitian itu diumumkan Mulgrew dalam konferensi The American Thoracic Society's International, di San Francisco, pekan lalu.

Tidur mendengkur merupakan salah satu tanda penderita sleep apnea. Jika serangan berhenti napas terjadi, dengkuran pun berhenti mendadak. Lalu orang itu terbangun, dan menarik napas dengan berat. Akibat gangguan ini, tidur mereka jadi tidak berkualitas sehingga sering muncul keluhan seperti lemas dan mengantuk pada siang hari. Kondisi itulah yang memicu terjadinya tabrakan. Untuk mengatasi kelainan ini, sejumlah terapi bisa dilakukan, antara lain pemasangan implan di bagian belakang jaringan lunak di tenggorokan agar tak lagi bergetar dan menutup jalan napas.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161820124670



Kesehatan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.