maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Penjelasan Menteri Pertanian Soal Sengkarut Proyek Food Estate

Wawancara Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tentang proyek food estate. Kementerian Pertanian berfokus menanam komoditas selain singkong, yang menjadi garapan Kementerian Pertahanan.

arsip tempo : 172168954097.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo. TEMPO/Subekti. tempo : 172168954097.

DI Kementerian Pertanian, ada aturan telepon seluler tak boleh dibawa ketika mewawancarai menterinya. Petugas menyita ponsel para wartawan Tempo dan The Gecko Project yang datang untuk mewawancarai Menteri Syahrul Yasin Limpo tentang proyek food estate di Sumatera, Sumba, dan Kalimantan pada Kamis, 30 September lalu. Petugas hanya mengizinkan satu telepon digunakan untuk merekam.

Syahrul menerima Tempo di ruang kerjanya yang jembar di lantai 2 gedung Kementerian Pertanian di Ragunan, Jakarta Selatan. Ditemani para pejabat eselon I dan II Kementerian yang memainkan ponsel sepanjang wawancara, mantan Gubernur Sulawesi Selatan dari Partai NasDem ini menjelaskan sengkarut proyek food estate. Ia taktis menerangkan proyek ini, masalahnya, dan hubungannya dengan Kementerian Pertahanan yang mengerjakan proyek serupa, memakai slide dan video. 

Apa konsep proyek food estate?
Food estate itu multikomoditas. Proyeknya di Kalimantan Tengah, Humbang Hasundutan di Sumatera Utara, serta Sumba di Nusa Tenggara Timur. Dalam satu hamparan yang luasnya 1.000-10.000 hektare tidak hanya ada padi dan jagung, tapi juga kelapa, jeruk, serta peternakan. Kami lakukan dari hulu sampai hilir memakai mekanisasi. Jadi bukan hanya budi daya, kami ajari juga petani tentang korporasi serta jadwal penanaman. 

Seberapa mendesak proyek food estate?
Pertanian rentan dengan cuaca, ancaman kekeringan besar sekali. Di sisi lain, alih fungsi lahan pertanian besar sekali, sekitar 100 ribu hektare per tahun. Kalau seperti itu terus, ke depan bakal menjadi persoalan karena jumlah penduduk bertambah, sementara lahan pertanian terus turun. Maka kami perlu mencari daerah baru di luar Jawa. 

Apa kendala di lapangan?
Masing-masing daerah berbeda. Di Kalimantan Tengah kekurangan orang. Selain itu, tingkat keasaman menjadi soal. Meningkatkan pH tanah bukan hal mudah. 

Apakah singkong cocok ditanam di lahan gambut?
Kalau secara teori, semua tempat cocok. Tapi, menurut pengalaman saya sebagai kepala daerah, bisa juga tidak cocok. Misalnya jika singkong ditanam di aspal. 

Apa solusinya?
Mendatangkan orang lokal dan dari luar untuk mengolah. Kalau orang Bugis lihat lahan seluas itu, keluar air liurnya. 

Setelah setahun, apakah food estate berhasil?
Apakah 100 persen berhasil, saya tidak berani klaim. Bahwa di atas 80-90 persen, iya. Di Humbang Hasundutan yang berhasil kentang, bawang merah oke, bawang putih baru belajar. Sebab, walaupun ketinggian lahannya sama dengan di Cina, kelembapannya berbeda. Itu yang membuat bawang putih gagal. 

Kenapa hasil panen di Humbang Hasundutan tak sesuai dengan target?
Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto:
Produktivitas kentang lumayan, 10 ton per hektare di lahan yang baru pertama kali digunakan. Bawang merah 5,6 ton per hektare, sedangkan bawang putih 2,5-3 ton per hektare. Tapi memang salah satu kendalanya soal sumber daya manusia. Ada petani yang rajin, tapi banyak yang enggak rajin. Bahkan kami sudah mengolah lahannya, sudah menanam, tinggal merawat, itu saja susah. Banyak yang enggak dirawat. 

Omong-omong, siapa pemimpin proyek food estate? Mengapa ada Kementerian Pertahanan?
Saya yang bertanggung jawab. Kementerian Pertahanan punya program sendiri untuk membangun ketahanan pangan. Mereka khusus singkong, saya tidak berfokus di sana. 

Apa perintah dan arahan presiden?
Jujur, saya enggak tahu jawabannya. Yang saya tahu, presiden concern dan sangat peka terhadap food security. Kalau buat kepentingan rakyat, dia peka. 

Anda mengetahui proyek singkong di Kalimantan yang digarap Kementerian Pertahanan?
Aku berkonsentrasi di sini. Biarkan Kementerian Pertahanan jalan. 

Apakah ada komunikasi dengan Menteri Pertahanan?
Ya, sesama menteri harus, lah. 

Apakah kerja sama PT Agro Industri Nasional dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Pertanian masih berjalan?
Belum saya dengar. Eh, jawabannya salah. Nanti saya cek ke Litbang.  

Anda menghindar kalau bicara proyek food estate di Kementerian Pertahanan….
Aku baik soalnya. He-he-he….

Di edisi cetak, wawancara ini terbit di bawah judul "Saya yang Bertanggung Jawab". Artikel ini diproduksi Tempo bersama The Gecko Project didukung Rainforest Investigations Network Pulitzer Center, Internews Earth Journalism Network, dan Greenpeace Indonesia

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 21 Juli 2024

  • 14 Juli 2024

  • 7 Juli 2024

  • 30 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan