Bagaimana Ledakan Besar di Beirut Memperburuk Krisis Ekonomi Libanon - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Cendawan Merah di Langit Beirut

Ledakan di gudang amonium nitrat di pelabuhan Beirut menyebabkan ratusan orang tewas dan ribuan lainnya terluka. Memperburuk kondisi ekonomi Libanon.

i Suasana Pelabuhan Beirut, sesaat usai terjadinya ledakan, 4 Agustus 2020./ Reuters/Mohamed Azakir
Suasana Pelabuhan Beirut, sesaat usai terjadinya ledakan, 4 Agustus 2020./ Reuters/Mohamed Azakir
  • Gudang amonium nitrat di pelabuhan Beirut, Libanon, meledak dan menyebabkan ratusan orang tewas dan ribuan terluka. .
  • Ledakan seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan selama perang sipil di sana.
  • Bencana ini memperburuk kondisi ekonomi Libanon, yang mengalami krisis sejak Oktober 2019. .

IRFAN Afendi, mahasiswa semester V jurusan studi Islam dan bahasa Arab di Dawaa University College, Beirut, sedang mengobrol santai bersama delapan kawan sekampusnya pada Selasa sore, 4 Agustus lalu. Universitas sedang libur dan pemerintah Libanon mengetatkan kembali pembatasan sosial. Irfan pun mengajak kawan-kawan menghabiskan waktu di kamarnya di lantai lima sebuah asrama di kawasan Mar Elias, sekitar 3,5 kilometer dari pelabuhan Beirut.

Suara dentuman dari arah pelabuhan memotong obrolan mereka. Keras sekali. “Apa itu?” Irfan bertanya. Mereka bergegas ke balkon untuk memeriksa apa yang terjadi. “Kepulan asap tebal menjulang tinggi dari pelabuhan,” kata pemuda asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah, itu kepada Tempo, Rabu malam, 5 Agustus lalu.

Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 18.00, ledakan kedua terjadi. “Terasa seperti gempa,” ujar Irfan. Ledakan ini disusul dengan suara dentuman keras diiringi suara pecahan kaca di mana-mana. “Kami mengira ada serangan selain di tempat itu. Ternyata asap yang tadi kami lihat itu bertambah besar dan berwarna merah.”


Menyangka itu ledakan bom, penduduk di sekitar asrama seketika histeris. “Suara seperti itu membuat mereka mengalami trauma,” kata Irfan. Warga Libanon memang punya pengalaman buruk dalam perang saudara selama bertahun-tahun.

Irfan dan teman-temannya memutuskan bertahan di dalam bangunan. “Kami tetap berdiam di asrama karena ini tempat teraman seandainya ledakan tersebut benar-benar bom,” ujarnya. Berdasarkan kabar yang diterimanya, semua mahasiswa Indonesia di Beirut, yang jumlahnya 65 orang, selamat.

Guncangan tersebut bukan karena letusan bom. Charbel Haj, yang bekerja di pelabuhan, mengatakan kejadian dimulai dengan sebuah ledakan kecil seperti petasan, yang disusul ledakan besar yang membuatnya terlempar. Dentuman tersebut menguarkan asap seperti cendawan merah raksasa. Hingga beberapa kilometer dari pelabuhan, balkon-balkon gedung patah, jendela remuk, serta jalanan penuh pecahan kaca, batu bata, dan mobil rusak.

Menurut pusat geosains Jerman, GFZ, dentuman itu memicu gempa berkekuatan 3,5 magnitudo dan terasa hingga ke Siprus, lebih dari 200 kilometer di seberang Laut Mediterania. Hingga Kamis, 6 Agustus lalu, Kementerian Kesehatan Libanon menyatakan kejadian itu merenggut nyawa 135 orang dan menyebabkan lebih dari 5.000 orang luka-luka. Salah satu yang tewas adalah Nizar Najarian, Sekretaris Jenderal Kataeb (Phalange), partai Kristen di sana. Gubernur Beirut Marwan Abboud menyatakan 300 ribu orang kehilangan tempat tinggal karena ledakan meluluhlantakkan bangunan dalam radius beberapa kilometer dari pusat kejadian.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Libanon kepada Tempo menyatakan seorang warga negara Indonesia terluka terkena pecahan kaca, tapi kondisinya stabil dan sudah pulang ke apartemennya setelah dirawat di rumah sakit. Sebuah rumah warga negara Indonesia di kawasan itu rusak berat, tapi penghuninya selamat. Menurut Kedutaan, ada 1.447 orang Indonesia di Libanon dan 1.234 di antaranya anggota Kontingen Garuda, bagian dari pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas di sana. “Secara umum kondisi WNI dalam keadaan aman,” kata Duta Besar RI untuk Libanon, Hajriyanto Y. Thohari.

Asap ledakan yang berasal dari gudang amonium nitrat, di dekat Pelabuhan Beirut, Libanon, 4 Agustus 2020./ Talal Traboulsi/via REUTERS

Sekretaris Jenderal Komisi Bantuan Tinggi Libanon Mayor Jenderal Mohammed Khair membandingkan bencana ini dengan perang sipil negeri itu. “Dalam semua perang sipil dan dalam 30 tahun terakhir, peristiwa kemarin tak pernah terjadi sebelumnya,” ucapnya.

Penyebab ledakan masih belum dipastikan. Menurut Perdana Menteri Hassan Diab, ledakan terjadi di gudang penyimpanan 2.750 metrik ton amonium nitrat, bahan dasar pupuk pertanian yang juga dapat diracik menjadi bom. Namun, dalam keadaan normal dan tanpa panas yang sangat tinggi, bahan kimia tersebut sulit meledak.

“Jika melihat video ledakan, Anda melihat asap hitam dan merah. Itu adalah reaksi (kimia) yang tak sempurna,” kata Jimmie Oxley, guru besar kimia di University of Rhode Island, kepada AFP. “Saya menduga ada ledakan kecil yang memicu reaksi berantai amonium nitrat. Apakah ledakan kecil itu kecelakaan atau sesuatu dengan tujuan tertentu, saya belum tahu.”

Amonium nitrat mudah terbakar. Itu sebabnya ada aturan penyimpanannya. Misalnya harus dijauhkan dari bahan bakar dan sumber-sumber panas lain. Bila dikombinasikan dengan bahan bakar, senyawa kimia ini menjadi peledak yang kerap digunakan dalam proyek konstruksi, yang juga dipakai kelompok bersenjata seperti Taliban.

Hassan Diab berjanji menuntut siapa pun yang bertanggung jawab atas ledakan ini. “Saya berjanji bahwa bencana ini tak akan berlalu tanpa pertanggungjawaban. Siapa yang bertanggung jawab harus membayarnya,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa, 4 Agustus malam lalu. “Fakta-fakta tentang gudang berbahaya yang sudah ada di sana sejak 2014 akan diumumkan, tapi saya tak akan mendahului hasil investigasi.”

Sehari seusai ledakan, Presiden Michel Aoun mengumumkan keadaan darurat selama dua pekan di Beirut. Ia juga menggelontorkan dana 100 miliar pound atau sekitar Rp 970 miliar untuk membantu para korban. Dalam rapat kabinet, Hassan Diab ditunjuk sebagai ketua komite penyelidik kasus ini.

Pada hari yang sama, para bekas perdana menteri—Najib Mikati, Fouad Siniora, Saad Hariri, dan Tammam Salam—menggelar rapat membahas situasi ini. Seusai pertemuan, Siniora membacakan pernyataan bersama. Mereka mempertanyakan kewaspadaan petugas keamanan dan pengelola pelabuhan. Mereka pun menuntut tanggung jawab pihak-pihak yang tidak mengambil langkah hukum dan administratif dalam menanggulangi bencana ini. “Para mantan perdana menteri menimbang bahwa PBB atau Liga Arab perlu membentuk komite penyelidik internasional atau komite yang terdiri atas hakim dan penyelidik yang profesional dan imparsial untuk mengungkap masalah dan penyebab bencana yang terjadi di Libanon,” katanya.

Pemimpin Partai Sosialis Progresif, Walid Jumblatt, juga tak percaya terhadap komite penyelidik pemerintah dan menyerukan peran penyelidik internasional. Dia menekankan bahwa partainya akan tetap di parlemen karena, “Bila kami mundur, ini hanya akan memberi ruang bagi kubu Hizbullah-FPM untuk mengendalikan parlemen.” Gerakan Patriotik Merdeka (FPM) adalah partai pimpinan Michel Aoun.

Bencana ini juga membuat Pengadilan Khusus Libanon, yang rencananya menggelar sidang putusan kasus pengeboman yang terjadi 15 tahun lalu pada Jumat, 7 Agustus lalu, menundanya hingga 18 Agustus untuk menghormati masa berkabung di negara itu. Pengadilan yang disokong PBB tersebut digelar di Belanda dan mengadili secara in absentia empat terdakwa pengeboman pada 2005 yang menewaskan Rafik al-Hariri, Perdana Menteri Libanon masa itu, dan 21 orang lainnya. Para terdakwa adalah Salim Jamil Ayyash, Hassan Habib Merhi, Hussein Hassan Oneissi, dan Assad Hassan Sabra. Mereka punya hubungan dengan kelompok Hizbullah di Libanon.

Nasser Yassin, guru besar di American University of Beirut, ragu terhadap kemampuan pemerintah untuk menanggulangi bencana ini sendirian. Dia meminta komunitas internasional mengulurkan bantuan karena pasokan pangan Libanon terkena dampak ledakan. Lumbung gandum utama negara itu ikut hancur dan isi gudang tersebut menjadi gundukan sampah. Sekitar 80 persen pasokan gandum Libanon diimpor dari berbagai negara.

Libanon jatuh ke dalam krisis ekonomi sejak Oktober 2019. Negara itu berutang lebih dari US$ 90 miliar, setara dengan 170 persen produk domestik brutonya. Pandemi Covid-19 memperburuk kondisi tersebut. Perdana Menteri Saad al-Hariri akhirnya mundur dan digantikan Hassan Diab. Kabinet baru mencoba mengundang Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu pemulihan ekonomi, tapi rencana itu mandek di parlemen. Hingga Juli lalu, sebagian anggota parlemen masih menolak campur tangan IMF.

“Kita telah menyaksikan bagaimana pemerintah Libanon tidak mengambil keputusan yang tepat di bidang ekonomi, keuangan, dan sosial,” tutur Nasser Yassin kepada Al Jazeera. “Bencana ini harus ditangani oleh rakyat Libanon sendiri—bersandar pada diri sendiri dan sokongan masyarakat.”

IWAN KURNIAWAN (ALAHED NEWS, NNA, AL JAZEERA, ASSOCIATED PRESS)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-30 04:14:22

Libanon Krisis Ekonomi Timur Tengah

Internasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB