Inovasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bata Beton Tembus Air

Tim dari Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membuat bata beton yang tembus air. Untuk mengatasi genangan air di badan jalan.

i infografis
infografis

TIM dari Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membuat bata beton yang tembus air. Material berpori itu berbahan dasar abu terbang (fly ash) yang berasal dari limbah batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dirintis sejak awal 2020, inovasi itu kini telah mengantongi hak paten. Penggunaannya masih terbatas untuk lantai pejalan kaki dan area taman atau pelataran parkir sepeda motor.

Ketua tim riset Agung Sumarano mengatakan yang memicu inovasi pembuatan bata beton berpori itu adalah kejadian banjir dan genangan air di berbagai lokasi. Dia melihat ada faktor material jalan, seperti aspal atau beton, yang sifatnya kedap air. Akibatnya, infiltrasi air ke dalam tanah menjadi lama. "Konsep beton berpori untuk mempercepat proses air masuk ke dalam tanah," ujarnya, Selasa, 27 April lalu.

Sebenarnya, kata Agung, pada penerapan di lapangan, bata beton berpori itu tidak menyasar khusus kawasan banjir. Pemakaiannya bisa meluas untuk mengantisipasi banjir atau adanya genangan air di dalam kompleks perumahan. Dengan penggunaan beton tembus air ini, area hunian akan bersih tanpa genangan saat hujan. "Nilai perumahan juga akan meningkat tanpa masalah itu," tutur peneliti kelahiran Samarinda pada 5 Juli 1990 itu.


Lulusan S-1 dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Mulawarman tersebut tertarik mengembangkan bata beton berpori setamat kuliah. Racikan bahan untuk pembuatan bata beton berpori itu terbuat dari semen, abu terbang, dan agregat kasar. Abu terbang menjadi komponen yang dominan dibanding bahan lain, seperti semen dan kalsium oksida. "Kemampuan mengalirkan airnya itu satu sentimeter per detik," ujar Agung.

162092499759

Pada jalur pejalan kaki atau pedestrian, taman, dan area parkir sepeda motor, bata beton berpori itu bisa langsung dipasang di atas permukaan tanah. Adapun untuk pemakaian pada tatanan infrastruktur transportasi jalan, pemasangannya harus didukung oleh drainase. "Kalau untuk jalan, tanahnya dipadatkan dulu agar tidak ambles," ucapnya. Bata beton itu juga bisa dipasang pada saluran air untuk ikut menyerap air.

Faktor lain yang perlu diperhatikan untuk penggunaan bata beton tembus air ini adalah ada-tidaknya tanah lempung di lokasi itu. Sebab, tanah jenis lempung tidak menyerap air sehingga memerlukan lapisan lagi. Menurut Agung, pemasangan bata beton berpori ini hampir mirip mekanismenya dengan pembuatan lapangan sepak bola. "Ada pori dan pipa untuk menyalurkan air dari lapangan," ujarnya.

Agung mengklaim produk inovasi ini ramah lingkungan. Dengan memakai limbah abu terbang dari PLTU, jumlah pemakaian semen bisa dikurangi. Harapannya metode itu bisa mengurangi kerusakan lingkungan akibat eksploitasi gunung kapur sebagai bahan baku semen. Penggunaan abu terbang itu juga memanfaatkan limbah yang selama ini menumpuk di pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. "Limbahnya pasti sangat besar. Daripada susah dibuang, mending dimanfaatkan," katanya.

Saat ini ada beberapa pihak yang menyatakan tertarik untuk memakai inovasi ini di perumahan. Agung mengatakan dia dan timnya membuka peluang kemitraan untuk penggunaan dan produksinya. Agung mengaku belum menghitung potensi ekonominya. Saat ini ada produsen yang menawarkan produk sejenis dengan harga Rp 400 ribu per meter persegi. "Kami bisa bersaing di angka Rp 200-300 ribu per meter persegi. Apalagi kami memanfaatkan limbah abu terbang," tuturnya.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=162092499759


banjir Inovasi

Inovasi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.