Pilih Golput karena Seteru - Indonesiana - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Indonesiana 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

WARGA Desa Pandean, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur, mendadak geger dan terheran-heran. Keluarga Prayit- no, yang beranggotakan tujuh orang, menolak ikut memilih dalam pemilu kemarin. Lo, itu kan biasa di era demokrasi ini. Tapi, ada tapinya.

Meski sudah bertekad ikut golongan putih alias golput, Prayitno datang juga ke tempat pemungutan suara (TPS)—tapi dengan membawa amarah. Memaksa menemui panitia pemungutan suara, ia mendesak agar TPS dipindahkan ke "tempat netral". Ia malah mengancam, "Kalau tidak dipindahkan, kami sekeluarga tidak akan nyoblos." Nah lu!

Protes Prayitno ini sempat menghentikan proses pemungutan suara, karena panitia harus melayaninya. Petugas berusaha membujuknya, bahkan juga kepala desa setempat, agar mau mengendalikan amarahnya dan membatalkan ancamannya. Pemindahan lokasi pencoblosan, selain repot dan memakan waktu, kata panitia, lokasi tersebut sudah disetujui Komisi Pemilihan Umum (KPU) Situbondo.


Namun, bujukan itu tidak mempan. Sambil marah-marah, Prayitno meninggalkan lokasi pencoblosan. "Dhina lah, golput la golput tak nyoblos tak pa apa tak kera e okom (Biar saja, golput ya golput, tak mungkin saya dipenjara)," demikian ia mengomel dalam bahasa Madura.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTI6NDM6MjAiXQ

Tapi, apa pasal? Ternyata gara-gara TPS itu berada di halangan rumah Agus Siyanto, yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah Prayitno. Tapi lelaki ini menolak menjelaskan alasan permusuhan mereka—sampai tidak saling menyapa—yang sudah berlangsung tiga tahun. "Pokoknya persoalan keluarga," tuturnya.

Agus juga merahasiakan penyebab pertikaian mereka. "Pokoknya, kami memang soker (bermusuhan) sejak lama," ujarnya.

Pemilu Kalah, Paving Dibelah

POLITIK uang dalam pemilihan umum kini berubah bentuk menjadi "politik paving block". Dan ini hanya ada di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Bedanya, sementara uang mudah amblas begitu diserahkan, balok-balok semen untuk trotoar atau jalan lingkungan itu ternyata masih dapat dibongkar kembali jika "sogokan" itu tak berhasil mendongkrak suara si pemberi.

Itulah yang menimpa K.H. Hasan Subechi, pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Nahdlatul Hasan Kademangan, Kota Probolinggo. November lalu, anggota Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Probolinggo ini ketamuan Buchori, Ketua PDI Perjuangan setempat yang mencalonkan diri sebagai wali kota. Sebelum pulang, Buchori memerintahkan Sulaiman, kader PDI Perjuangan yang menyertainya, memasang paving block di halaman musala dan rumah Kiai.

Usai pemilu, ternyata perolehan suara partai moncong putih (PDIP) di wilayah tersebut jeblok, yang berbuah kegagalan Sulaiman mendapat jatah kursi Dewan. Empat hari kemudian seorang utusan datang ke rumah Kiai Hasan menyampaikan pesan dari Sulaiman. "Keluarga Sulaiman meminta kembali paving-nya," kata si utusan.

Terperanjat dan tersinggung, Kiai Hasan langsung memerintahkan puluhan santri, dengan memakai kaus PKB, melepas paving seluas 180 meter persegi yang sudah enam bulan terpasang itu. Paving itu langsung dikirim ke rumah Sulaiman. "Untung bantuannya paving, jadi bisa dibongkar. Bagaimana saya harus membongkar kalau bantuannya tembok?" kata bapak tujuh anak itu.

Eh, esoknya Kiai Hasan mendapat kiriman paving baru lengkap dengan pasirnya. Dari Sulaiman? Bukan! Itu sumbangan Banadi Eko, mantan Wali Kota Probolinggo, yang digulingkan Buchori dalam pemilihan wali kota. "Saya enggak minta, tahu-tahu sudah ada yang mengganti dan memasangkan," kata Kiai, enteng.

Menurut Sulaiman, penarikan bantuannya bukan karena kekalahan PDI Perjuangan. Lalu apa? Selama kampanye, katanya, Kiai Hasan selalu menjelek-jelekkan partai pimpinan Mbak Mega itu. "Ya sudah, kami minta semua paving itu," kata Sulaiman.

Mahbub Junaidi (Situbondo), Bibin Bintariadi (Probolinggo)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:43:21


Indonesiana 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB