Peringatan dari Korea: Tak Ada Hidup Normal di Pandemi Covid-19 - Financial Times - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Financial Times 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Peringatan Dini dari Korea

Juru bicara kementerian kesehatan Korea Selatan mengatakan "satu-satunya cara" untuk mengembalikan aktivitas ekonomi di tengah pandemi adalah dengan "menyelaraskan kehidupan sehari-hari kita dengan upaya-upaya pencegahan."

i Warga mengenakan masker untuk menghindari penularan Covid-19 di Seoul, Korea Selatan, kemarin.
Warga mengenakan masker untuk menghindari penularan Covid-19 di Seoul, Korea Selatan, kemarin.

Para orang tua di Korea Selatan sedang sibuk dengan persiapan anak-anak mereka saat sekolah kembali dibuka. Lee Ji-ho (8 tahun) sudah mulai kembali ke sekolah meskipun hanya seminggu sekali. Sebelumnya, ibu Jiho sudah melengkapi formulir online yang menyertakan keterangan suhu tubuh, tanda-tanda batuk atau keluhan pernapasan lain, dan apakah ada anggota keluarga yang baru tiba di rumah setelah bepergian ke luar negeri atau sedang dalam masa karantina.

Di sekolahnya di distrik Seocho, Seoul, Jiho dan teman-teman sekelasnya duduk berjauhan beberapa meter satu sama lain, mereka tidak diizinkan untuk mengobrol - bahkan saat makan siang. Ia akan makan sendirian, terpisah dari anak-anak lain dengan meja yang dibatasi dengan pemisah plastik.   

Sejumlah siswa menggunakan masker saat akan memasuki ruangan kelasnya untuk mengikuti pelajara untuk mencegah terkena virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di sekolah dasar di Seoul, Korea Selatan, 9 Juni 2015. REUTERS/Kim Hong-Ji

 


Kesulitan yang dihadapi Ji-ho dan orang tuanya hanyalah salah satu contoh dari serangkaian pedoman, peraturan, dan regulasi yang terus berkembang yang diberlakukan di Korea Selatan oleh petugas kesehatan yang berupaya keras menghindari gelombang baru virus corona.

Sudah lebih dari tiga bulan sejak tingkat penyebaran virus corona di Korea Selatan memuncak. Para pemimpin politik dan ahli kesehatan di seluruh dunia memberi pujian pada Presiden Moon Jae-in yang memberikan pelajaran penting dalam aksi cepat pengujian masal dan pelacakan kontak yang agresif untuk menghadapi wabah Covid-19 terburuk di luar Cina.  

Namun kesulitan Seoul dalam mengontrol wabah baru memperlihatkan bahwa pemerintah membutuhkan kewaspadaan yang terus menerus dan keinginan untuk mengubah taktik jika mereka hendak membuka kembali kehidupan masyarakat, suatu keadaan yang sama sulitnya dengan penerapan kebijakan lockdown itu sendiri.

Terdapat lebih dari 12.000 kasus infeksi virus corona dan kurang dari 280 kematian yang tercatat di Korea Selatan saat negara tersebut sukses menghindari pemberlakuan pembatasan sosial. Namun, di luar dari kesuksesan mereka dalam mengurangi penyebaran virus, telah terjadi peningkatan jumlah mewabahnya virus dalam beberapa bulan terakhir di gereja, call center, kelab malam, balai pertemuan, pusat logistik, dan bahkan studio Zumba. 

“Virus corona terus menerus menyerang kelas dan ruang masyarakat rentan,” kata Walikota Seoul, Park Won-soon. “Kita harus membuang jauh-jauh impian bahwa kita bisa kembali ke kehidupan kita seperti biasanya.” 

Sejumlah Pinguin kenakan kostum Santa Claus dan pohon natal saat berparade merayakan Hari Raya Natal di taman hiburan Everland di Yongin, Korea Selatan, (18/12). REUTERS/Kim Hong-Ji

 

Apa yang dialami Seoul sama seperti yang terjadi di Madrid, Washington, dan London, dimana pemerintahnya bergerak melampaui krisis kesehatan masyarakat dan mencoba mencari celah untuk menghindari lockdown yang melumpuhkan. Pembatasan pergerakan masyarakat telah memicu pemutusan kerja massal dan mengancam ekonomi dunia untuk melakukan resesi besar-besaran.

Interaksi manusia yang lebih masif tentu saja tak bisa dihindarkan dalam upaya untuk membangkitkan perdagangan. Beberapa ahli khawatir sistem kesehatan masih akan disesaki oleh Covid-19, terutama di kota metropolitan padat penduduk seperti London dan New York.

Cina saat ini menghadapi peningkatan infeksi Covid-19 paling parah dalam beberapa bulan. Sebanyak 50 persen distrik di Beijing melaporkan kasus baru virus corona pada Senin, 15 Juni, 2020.  

Profesor epidemiologi di Hong Kong University, Ben Cowling, mengatakan pengalaman Korea Selatan menggambarkan bahwa “pemerintah harus tetap gesit” untuk masa mendatang.

Sumber: FT / Ilustrasi: Firdhy Esterina

“Saat jumlah [infeksi] meningkat lagi, kita tahu bahwa aksi dini dalam kembali melakukan pembatasan sosial sangatlah efektif, namun pemerintah tidak akan langsung bergerak setelah melakukan pelonggaran kebijakan,” kata Ben. “Kita akan menghadapi siklus dimana kita akan lebih membutuhkan langkah-langkah agresif saat jumlah kasus semakin tinggi.” 

Belajar Beradaptasi

Korea Selatan telah berupaya untuk menghindari siklus itu. Berdasarkan data resmi, tingkat infeksi harian negara tersebut pada Juni 2020 mencapai yang tertinggi dalam dua bulan. Hal ini merupakan pukulan bagi pemerintah yang baru saja merayakan nihilnya kasus infeksi lokal baru dalam beberapa hari pada bulan sebelumnya.

Kebanyakan kasus terjadi di Seoul dengan 10 juta penduduk. Kemunculan klaster-klaster ini menjadi momok bagi perencana kesehatan dan ekonomi. Para petinggi menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan karena terlalu banyak orang dibiarkan kembali berkerumun saat masih terlalu dini. 

Pejabat kota kemudian melakukan rangkaian aksi ‘putar balik’ dan memperketat kontrol. Pembukaan sekolah pun kembali ditunda. Kelab malam dan bar, yang sebelumnya tetap buka, kini telah ditutup dan akses ke sarana publik seperti museum, taman, balai pertemuan, dan fasilitas olahraga indoor ditutup.

Sejak dua minggu terakhir, tingkat infeksi per hari Korea Selatan bergerak di antara angka 25 dan 80. Seoul akan tetap mempertahankan kebijakan hingga angka infeksi turun menjadi single-digit. Kontrol di tingkat nasional juga telah diperkuat dengan kewajiban memakai masker di transportasi publik dan taksi. Sejak Rabu, 10 Juni 2020, setiap orang yang masuk salah satu dari 80.000 bar, restoran, klub malam, dan tempat hiburan lainnya di Korea Selatan, harus daftar melalui kode QR dengan tujuan mempermudah petugas untuk melacak penularan skala besar.

Peraturan diperketat meskipun tekanan untuk membuka penuh ekonomi yang menyebabkan hilangnya mata pencaharian terparah setelah krisis moneter Asia tahun 1997, terus menguat. Bank sentral Korea Selatan juga memprediksikan GDP menurun 0,2 persen tahun ini, namun kontrol yang lebih ketat menegaskan prioritas diperuntukkan bagi kesehatan masyarakat.   

Setelah mengakui adanya kemunduran, Walikota Seoul yakin bahwa kotanya sedang mendemonstrasikan kepada dunia bahwa pembukaan kembali ekonomi hanya bisa dicapai bersamaan dengan langkah-langkah pencegahan dan penahanan yang ketat, dan juga kerendahan hati untuk introspeksi dan mengakui kesalahan. 

“Orang tidak bisa tinggal sendirian di rumah selamanya...Jika kita menaati peraturan disinfeksi dan karantina, pengecekan suhu tubuh dan memakai masker, [lonjakan infeksi] ini tidak akan memunculkan wabah hebat,” kata Park. 

***

Di sebuah pusat karaoke tak jauh dari Sungai Han di Geumho-dong, Seoul, pegawai noraebang atau studio karaoke Royal Singing Room, mensterilkan setiap ruangan karaoke, termasuk mikrofon. 

Tak jauh dari pusat noraebang, di Vogue 2, warnet yang terletak di lantai basement, suhu tubuh pelanggannya dicek sebelum memasuki ruangan PC-bang dan mereka diwajibkan untuk menggunakan masker. Di area yang sama, di Matdakko, sebuah rumah makan yang menyajikan ayam goreng ala Korea dan bir, pegawainya dengan rutin menerapkan hal yang sama di setiap meja, kursi, dan gagang pintu. Pintu-pintunya dibiarkan terbuka agar ada sirkulasi udara meskipun di tengah musim panas yang pengap.

Kegiatan keagamaan pun telah disesuaikan. Rumah-rumah ibadah sebelumnya menimbulkan ancaman utama, dan seringkali membuat jamaah lansia lebih rentan terhadap penyakit. Di Gereja Palbok Presbyterian yang terletak di area perumahan yang tenang di kota pelabuhan di pinggiran Seoul, Incheon, para jemaat harus mendaftar secara elektronik sebelum menggunakan sarung tangan latex dan masker medis untuk masuk dan duduk di area bertanda putih pada bangku kayu gereja. Ibadah pun dibatasi hanya dua kali seminggu dari yang sebelumnya setiap hari.

Sumber: FT / Ilustrasi: Firdhy Esterina

Juru bicara kementerian kesehatan, Son Young-rae, mengatakan bahwa tidak diragukan lagi “satu-satunya opsi yang memungkinkan” untuk mengembalikan aktivitas ekonomi di tengah pandemi adalah dengan “menyelaraskan kehidupan sehari-hari kita dengan upaya-upaya pencegahan.”

“Kerjasama masyarakat memegang peran penting dalam mensukseskan upaya pencegahan,” kata Son. “Penting sekali bagi masyarakat, bisnis, dan institusi untuk menaati peraturan.”

Rencana Cadangan

Otoritas kota Daegu, kota terbesar keempat di Korea Selatan, mengalami kendala besar dalam melacak jemaat Gereja Yesus Shincheonji yang terpapar virus Corona pada akhir Februari 2020. Dibutuhkan dua minggu untuk menemukan dan melakukan tes terhadap 9000 jemaat sekte Kristen kuasi, yang pada waktu itu termasuk prestasi yang mengesankan menurut standar internasional.

Pada akhir Mei, unit cepat tanggap Pusat Pencegahan dan Kontrol Penyakit Korea berhasil mengidentifikasi dan melakukan tes pada 5000 pekerja di pusat logistik milik perusahaan e-commerce terbesar Korea Selatan saat mereka jatuh sakit. Tes masif tersebut dilakukan selama tiga hari. 

Hal tersebut menggambarkan betapa akurat dan cepatnya metode ‘pelacakan dan tes’ yang dilakukan Korea Selatan semenjak virus mewabah. Hal ini merupakan kemajuan dalam birokrasi yang meyakinkan para pejabat pemerintahan untuk tetap membuka sebagian besar bisnis dan institusi. 

“Pada kasus pasien pertama di klaster Shincheonji, butuh sekitar lima sampai enam hari untuk mencari tahu rencana perjalanannya. Tapi sekarang kami bisa mendapatkan data dasar hanya dalam 10-20 menit,” kata Son di kementerian kesehatan. “Jika kita harus mengetahui rencana perjalanan 40 orang yang melakukan kontak dengan pasien, kami bisa mendapatkannya dalam sehari atau seminggu. Semakin lama prosesnya, semakin banyak yang terinfeksi.” 

Sebagai perbandingan, di Inggris yang saat ini mulai melonggarkan kebijakan lockdown meskipun menurut data resmi, masih ada rata-rata 32.000 kasus baru setiap minggunya sejak akhir April, sistem pelacakan kontak manual serupa sebagian besar masih belum teruji. Sistem itu baru diluncurkan pada akhir Mei dan aplikasi terkait yang dijanjikan akan diluncurkan bulan lalu, seringkali masih terhambat masalah teknis dan penundaan.

Selain itu, di Korea, ada undang-undang yang dikeluarkan setelah bencana SARS pada 2003 dan MERS di tahun 2015, yang mengijinkan KCDC mengakses data ponsel, kartu kredit dan rekaman CCTV untuk melacak pergerakan orang. Hal ini tentu saja mempermudah kerja pemerintah Korea Selatan dibandingkan dengan negara lain yang memiliki aturan privasi yang lebih ketat. Menurut investigator Covid-19 Kota Sejong, Hwang Se-min, dengan pengalaman dan sumber yang lebih besar, kemampuan tim cepat tanggap meningkat pesat.   

“Apabila seseorang positif terinfeksi, tim yang terdiri dari dua investigator akan segera melacak kontak. Kami pergi ke TKP dan memeriksa rekaman CCTV dan mengecek siapa saja orang yang melakukan kontak dengan si pasien. Kami lalu mengontak mereka untuk melakukan karantina diri dan melakukan tes pada mereka. Apabila hasil tes mereka juga positif (setelah beberapa hari), kami akan melakukan pelacakan kontak lagi. Kami akan mengecek data kartu kredit mereka dari KCDC dan rekaman CCTV. Kami biasanya akan melakukan siklus ini dan berusaha untuk menyelesaikan pelacakan kontak dalam satu hari.”  

Tim-tim investigator ini telah mengidentifikasi dan menangani sekitar 100 klaster terpisah dan melakukan tes kepada lebih dari 1 juta orang sejak Februari. 

Dalam upaya untuk meredam masalah-masalah di masa mendatang, Kota Seoul dan KCDC saat ini sedang melakukan “pooled testing” pada fasilitas-fasilitas yang diduga berisiko tinggi terjadinya penularan cepat, seperti di panti dan asrama kampus yang padat. Dengan pendekatan ini, petugas akan mengetes 5-10 orang yang ada di dalam satu fasilitas sekaligus. Apabila ditemukan satu yang positif, semua orang di lokasi yang sama juga akan dites. Sistem ini berhasil dilakukan di sejumlah panti perawatan di Daegu April lalu.       

Profesor penyakit kronis di Universitas Nasional Seoul, Cho Sung-il, mengatakan bahwa metode tersebut dapat membantu dalam melakukan prosentase tes yang lebih luas terhadap orang-orang dengan kontak sosial yang tinggi. 

Pemerintah Korea Selatan saat ini masih terbuka untuk melakukan protokol jaga jarak (social distancing) yang lebih ketat, seperti bekerja di rumah, membatasi pergerakan, dan menutup lebih banyak toko apabila diperlukan.

“Kami memiliki rencana cadangan untuk setiap fase infeksi masif,” kata Son. “Apabila jumlah kasus baru per hari melebihi 50 dalam dua minggu berturut-turut, serta porsi pasien terinfeksi melalui rute penularan yang tidak jelas meningkat menjadi lebih dari 5 persen dari kasus total, kami kemungkinan akan kembali melakukan social distancing ketat.”

Pesan Kesehatan Masyarakat

Kelelahan akibat kebijakan pembatasan sosial tentu adalah hal lumrah, terutama di negara-negara dengan ancaman terhadap sistem kesehatan masyarakat telah berkurang dan tingkat infeksi virus corona telah turun. 

Karena itu, para ahli kesehatan khawatir apabila politisi akan berusaha keras untuk menegaskan kembali kontrol yang lebih ketat pada bulan-bulan atau bahkan tahun-tahun mendatang jika tingkat infeksi kembali naik. Kondisi ini bisa dipicu kelelahan publik melakukan pembatasan sosial dan tekanan ekonomi yang akut yang dialami oleh masyarakat dan pebisnis.

Para ahli kesehatan juga khawatir kesadaran publik akan risiko Covid-19 dan imbauan untuk melakukan jaga jarak telah menurun setelah terjadinya protes besar-besaran terhadap rasisme dan ketidakadilan, Black Lives Matter, di Amerika dan banyak negara lain. 

Ahli imunologi sekaligus Dirjen Institusi Vaksin Internasional Seoul, Jerome Kim, mengatakan pemerintah perlu memiliki rencana dan ambang batas yang jelas dan untuk melakukan kembali langkah-langkah yang lebih keras, termasuk lockdown yang lebih dilokalkan dan ditargetkan, serta menemukan cara agar masyarakat sadar akan risikonya.

“Kuncinya adalah menyampaikan pesan tentang pentingnya melindungi masyarakat,” katanya. 

Namun, dr. Kim juga mengingatkan bahwa lockdown, pada satu sisi, penting dilakukan untuk “melandaikan kurva” laju infeksi, tapi juga seharusnya digunakan untuk memberi “ruang bernafas” untuk memastikan tersedianya sumber penelusuran, tes, dan peralatan perlindungan yang memadai.   

“Di negara-negara di mana hal tersebut tidak dilakukan secara tepat, mereka justru membuka risiko wabah jadi besar dan tidak terkendali.”

*)Nama Lee Ji-ho disamarkan atas permintaan orang tuanya.

Artikel ini pertama dimuat di Financial Times pada 16 Juni 2020

Penerjemah: Laila Afifa

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-09-21 22:56:57

Korea Selatan Covid-19

Financial Times 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.