Yang Cemas, yang Bersyukur - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 6/7

Sebelumnya Selanjutnya
text
i
SEBUAH karangan bunga teronggok di depan kantor pusat Bank Dagang Bali. Tak seperti lazimnya, di karangan bunga itu ada tulisan: "Selamat atas ditutupnya PT Bank Dagang Bali. Karma lain menyusul." Ucapan bernada mengejek itu membuntuti terompet kematian Bank Dagang Bali, bersama kegelisahan ratusan nasabah yang silih berganti datang membanjiri kantor bank tersebut di Jalan Gajah Mada 2, Denpasar. Bank ini memang berurat-berakar di Bali. Didirikan 34 tahun silam oleh I Gusti Made Oka, kini Bank Dagang Bali (BDB) berkembang hingga memiliki 35 kantor di Bali. Tak mengherankan jika pengumuman penutupannya di Bali, Sabtu 10 April lalu, menenggelamkan riuh-rendah cerita seputar pemilihan umum. Ni Made Marini termasuk di antara ratusan nasabah yang bergegas ke kantor pusat BDB. Wanita yang sehari-hari berjualan sayur di Pasar Kumabasari, Denpasar, itu sibuk bertanya ke nasabah yang lain karena ia tak bisa baca-tulis. Selama 20 tahun, Marini setia menabung laba usahanya, yang kini telah terkumpul lebih dari Rp 100 juta. "Saya mau pakai buat membangun rumah," tuturnya lirih. Setelah dijelaskan oleh nasabah yang lain, Marini pun membujuk seorang petugas keamanan. "Saya harus ketemu Pak Oka. Berapa nomor teleponnya?" Kecemasan juga mendera Ni Wayan Kandi. Perempuan 54 tahun itu malah jatuh pingsan di rumahnya begitu mendengar BDB ditutup. Pengasong kain mulai dari Nusa Dua, Kuta, hingga Denpasar ini mengikuti program tabungan Tunjangan Hari Tua. "Masa, bangunan sebagus ini bisa bangkrut," cetus Kandi, yang bersimpuh di pelataran parkir ketika ditemui Sabtu dua pekan lalu. Namun, penutupan ini juga memanggungkan drama lain. Tak sedikit debitor bertempik sorak kala Bank Indonesia menggorok napas BDB. Karangan bunga yang mengejek itu adalah salah satu buktinya. "Ini (penutupan) mungkin sudah digariskan," ujar Pande Made Latra dengan suara bergetar. Di mata mantan Bupati Badung yang purnawirawan kolonel Angkatan Darat itu, praktek bisnis BDB tak ubahnya lintah darat. Bank tersebut ditengarai mengiming-imingi pinjaman dengan bunga sangat lunak. Begitu nasabah terjerat, bunga digenjot hingga nasabah tak mampu mencicil. Ujung-ujungnya, agunan pun disita. Pengalaman tak menyenangkan Latra, yang pernah menerbitkan beberapa media lokal di Bali, bermula pada 1990. Ketika itu ia berniat mencairkan deposito senilai US$ 70 ribu, untuk keperluan usaha. Tapi, Oka malah menyarankan mengambil kredit yang dipromosikan berbunga sangat lunak. "Ini pinjaman lunak. Cicilannya paling-paling terbayar oleh bunga dari deposito," tutur Latra, menirukan janji-janji surga Oka. Tujuh tahun kemudian, Latra merasa dirinya telah dijebak. Pasalnya, meteran utang Latra melambung hingga Rp 2,25 miliar. Tentu Latra tidak terima. Alih-alih mendapat penjelasan dari manajemen bank, ia malah harus kehilangan tanah, rumah, yang dijadikan jaminan kredit. Tak hanya itu, depositonya pun turut disita dan diblokir. Sampai sekarang, Latra masih memperjuangkan masalah ini di pengadilan tingkat kasasi. Mimpi buruk tak dialami Latra seorang. Buktinya, ketika Forum Peduli Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme didirikan empat tahun silam, tak kurang dari seribu nasabah yang merasa dirugikan BDB ikut bergabung. "Banyak agunan nasabah yang diambil semena-mena," Latra menambahkan. Dari hasil melalap agunan seperti itulah, tutur Latra, kerajaan BDB membesar. Gurita bisnis Oka juga merambah berbagai industri, seperti pariwisata (perusahaan angkutan bus dan kapal pesiar serta biro perjalanan), produsen air minum dalam kemasan, pabrik tekstil, lembaga pendidikan, hingga rumah sakit. Ketut Santiawan, yang menjabat direktur saat BDB ditutup, enggan mengomentari berbagai tudingan itu. "Saya baru delapan bulan di sini, sementara masalah sudah ada sejak dua tahun lalu. Jadi, saya tidak tahu apa-apa," Santiawan berkelit. Thomas Hadiwinata, Raden Rachmadi (Denpasar)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:03:26


Ekonomi dan Bisnis 6/7

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB