Kisah Kisruh Dua Bank - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 7/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kisah Kisruh Dua Bank

Bank Indonesia menutup Bank Dagang Bali dan Bank Asiatic karena malpraktek. Pemiliknya kini buron.

i

HARIMAU mati meninggalkan belang, bank ditutup siapa yang ketahuan belangnya? Pertanyaan itulah yang kini bergelayut di sekitar penutupan Bank Dagang Bali dan Bank Asiatic, dua pekan lalu. Kendati berukuran kecil?aset Bank Dagang Bali Rp 1,85 triliun, sedangkan aset Bank Asiatic Rp 1,72 triliun?kedua bank ternyata menyimpan setumpuk masalah.

Penyebabnya adalah tindakan pemilik yang melakukan praktek tercela dalam mengelola bank, dan sebetulnya sudah tercium sejak pertengahan 2001. Sabar Anton Torihoran, Direktur Pengawasan Bank II Bank Indonesia, menuturkan ketika itu pemeriksaan oleh anak buahnya atas Bank Dagang Bali menemukan pengucuran kredit yang melanggar batas maksimum sebesar Rp 240 miliar. Tak hanya itu, ada pula rekayasa pembelian obligasi repo senilai Rp 250 miliar.

Terkejut melihat praktek tersebut, Sabar, yang bertanggung jawab memelototi kinerja bank-bank swasta, langsung memasukkan Bank Dagang Bali dalam pengawasan intensif bank sentral. Ia juga memerintahkan agar masalah tersebut diselesaikan paling lambat Oktober 2001. Namun, bukannya beres, penyelewengan justru kian meriah.


Setahun kemudian, Kepala Kantor Bank Indonesia Denpasar, Lukman Boenjamin, menemukan borok baru berupa kredit fiktif di Bank Dagang Bali. Modusnya berupa penyaluran kredit ke sejumlah perusahaan siluman. Tercatat sebagai pemilik perusahaan-perusahaan itu adalah anggota keluarga I Gusti Made Oka, pendiri sekaligus pemilik Bank Dagang Bali.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTE6Mzk6MDAiXQ

"Bahkan nama petugas satpam ikut dicatut sebagai pemilik salah satu perusahaan," ujar Lukman. Padahal, setelah dicek ke lapangan, perusahaan itu tak pernah ada. Waktu itu kredit fiktif semacam ini telah mencapai 41 buah. BI Denpasar juga menemukan pengucuran kredit kepada sebuah perusahaan budidaya jamur merang yang tak disertai analisis kelayakan.

Lukman tak ayal mengultimatum Bank Dagang Bali agar segera menyelesaikan masalah kredit yang ngawur dan fiktif itu. Batas waktu yang ditetapkan: Februari 2003. Made Oka rupanya tak kurang akal. Sebelum batas waktu berakhir, ia melaporkan telah membereskan masalah itu dengan cara menerbitkan obligasi sebesar Rp 700 miliar. Dalam laporan tercatat, pembeli obligasinya adalah Bank Asiatic di Jakarta.

Tak mau kecolongan lagi, Lukman meneliti keaslian obligasi tersebut. Terlebih ia tahu, antara pemilik Bank Dagang Bali dan Bank Asiatic ada hubungan kekerabatan. Putra Made Oka, yaitu Made Budiana, menikah dengan anak perempuan Tong Muk Keung, pemilik Bank Asiatic. Bahkan Made Budiana diangkat menjadi Direktur Dana dan Pemasaran di Bank Asiatic.

Penyelidikan Lukman sempat membentur tembok. Soalnya, semua karyawan, sampai tingkat direktur, tutup mulut tiap kali ditanya soal obligasi itu. "Mungkin mereka takut atau sangat setia pada Made Oka," kata Lukman, gemas. Lantaran informasi dari dalam nihil, Lukman akhirnya menghubungi Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Lembaga itulah yang memiliki wewenang mengawasi penerbitan surat-surat berharga.

Hasilnya? "Mereka ternyata tak tahu-menahu ada obligasi yang diterbitkan Bank Dagang Bali," ujarnya. Jadi, obligasi itu terbukti fiktif. Belum tuntas masalah kredit dan obligasi fiktif, Bank Dagang Bali malah menerbitkan sertifikat deposito yang bisa dinegosiasi (negotiable certificate of deposit alias NCD). Surat utang senilai Rp 956 miliar itu lagi-lagi dibeli Bank Asiatic.

Anehnya, surat utang itu dijaminkan lagi ke bank lain untuk mendapat pinjaman. Dari sini Bank Dagang Bali berhasil mengeruk dana segar Rp 287 miliar. Penerbitan surat utang itu dilakukan enam perusahaan sekuritas. Dua di antaranya, PT Graha Lestari Investama dan PT Graha Lestari Utama, ternyata tak terdaftar di Bapepam. Akibatnya, kedua perusahaan itu kini diperiksa karena dituduh melakukan kegiatan bisnis tanpa izin.

Belum cukup, dua perusahaan lagi, yaitu PT Summit Nusantara Capital dan PT Pandurama Securities, terbukti melakukan transaksi fiktif di pasar modal. Transaksi dengan Bank Asiatic bernilai sekitar Rp 400 miliar, sedangkan dengan Bank Dagang Bali sekitar Rp 600 miliar. Sebagai hukumannya, sejak Januari lalu kedua perusahaan sekuritas itu harus mangkir sementara dari lantai bursa.

Tak aneh ketika BI kembali melakukan pemeriksaan, pada Maret 2003, penyimpangan yang ditemukan semakin membengkak. Tercatat, misalnya, pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK) kepada 16 debitor senilai Rp 451 miliar. Ada lagi pengucuran kredit dengan modus pembelian NCD sebesar Rp 130 miliar dari beberapa bank perkreditan rakyat (BPR)?yang ternyata fiktif.

Manipulasi pengucuran kredit kepada beberapa perusahaan fiktif sendiri telah mencapai Rp 137 miliar. Sedangkan penyimpangan pengucuran kredit sudah mencapai Rp 725 miliar. Pada Oktober 2003, BI menemukan manipulasi penanaman NCD Bank Asiatic senilai Rp 102 miliar yang seolah-olah bersumber dari Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pengerukan. Semua kredit itu akhirnya macet dan menggerus modal tertimbang Bank Dagang Bali. "Yang terjadi di sana cuma kebohongan yang ditutup oleh kebohongan baru," kata Lukman dengan nada kesal.

Melihat kondisi seperti itu, BI memerintahkan Made Oka mundur dari posisi direktur utama. Status Bank Dagang Bali ditingkatkan menjadi dalam pengawasan khusus alias special surveillance unit/SSU. BI juga melarang penempatan dalam bentuk apa pun ke pihak yang memiliki hubungan istimewa. Tapi Bank Dagang Bali telanjur berada di tubir jurang.

Untuk mengantisipasi penutupan, pada November 2003 BI meminta penyerahan aset pribadi pemegang saham pengendali untuk diikat. Nilainya Rp 900 miliar. Berkebalikan dengan banknya yang bangkrut semrawut, kekayaan pribadi keluarga Made Oka memang bertambah. Di Bali, Made Oka laiknya konglomerat yang memiliki berbagai bisnis, dari hotel, rumah sakit, angkutan, garmen, sampai sekolah pariwisata.

Menurut catatan Kantor Bank Indonesia Denpasar, Bank Dagang Bali juga masih memiliki dana Rp 615 miliar. Bentuknya berupa giro sejumlah Rp 18,94 miliar, tabungan Rp 135,7 miliar, deposito Rp 48,7 miliar, dan Rp 38,5 miliar berupa tagihan antarbank. Ibarat kartu domino, kejatuhan Bank Dagang Bali berimbas pada Bank Asiatic.

Bank yang berkantor di seberang gedung BI, Jakarta, itu langsung megap-megap kesulitan likuiditas setelah Bank Dagang Bali dilarang menempatkan dananya di sana. Terlebih Asiatic tak memiliki simpanan lain, misalnya di SBI atau pasar uang antar-bank (PUAB), sehingga modal tertimbangnya anjlok menjadi minus 10 persen.

Menurut sumber TEMPO, faktor lain yang membuat Bank Asiatic terjerembap adalah kegemarannya membiayai pembelian aset kredit dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Banyak aset itu ternyata bermasalah dan macet kembali. Bank Indonesia sebetulnya sudah meminta manajemen Bank Asiatic mencari investor untuk menambal modal. Sayang, penanam modal tak kunjung datang sehingga modal tertimbangnya terus tergerus menjadi minus 40,5 persen.

Alhasil, kedua bank itu akhirnya harus ditutup, dan menambah panjang daftar bank yang dibredel sejak 1997 menjadi 18 bank. Direktur Bank Dagang Bali, I Ketut Santiawan, mengaku kejatuhan banknya akibat campur tangan berlebihan orang di luar manajemen. Kendati tak menyebut nama, orang yang dimaksudkannya tak lain adalah Made Oka.

Setelah digusur BI, bankir gaek itu diam-diam rupanya masih terus ikut cawe-cawe di Bank Dagang Bali. Intervensi itu pula yang membuat Direktur Utama I Putu Indra Suratmaja mengundurkan diri. Setelah itu berturut-turut dua direktur yang lain, Ida Bagus Rai Wijana dan Putu Gde Suwarta, menyusul Suratmaja. "Saya satu-satunya direktur yang tersisa," kata Santiawan.

Made Oka sendiri kini buron dan masuk dalam daftar pencarian orang dari kepolisian. Bersamanya, ikut menghilang anak dan besannya, Tong Muk Keung. Tinggallah pemerintah yang ketiban pulung harus membayari simpanan nasabah di kedua bank tersebut.

Nugroho Dewanto, Raden Rachmadi (Denpasar), Amal Ihsan (Tempo News Room)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 11:39:00


Ekonomi dan Bisnis 7/7

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB