Laporan Khusus



  • Ritual-ritual Kuno Penolak Wabah
    Selingan

    Ritual-ritual Kuno Penolak Wabah

    JAUH sebelum pandemi Covid-19 mengoyak bumi, berbagai daerah di Nusantara sudah beberapa kali berhadapan dengan pagebluk yang memakan korban jiwa. Kondisi itu memunculkan beragam kearifan lokal yang bertaut erat dengan tradisi untuk mencegah ataupun melawan wabah. Ritual itu tak hanya berupa perapalan mantra dan doa, tapi juga tari-tarian, syair, serta upacara tradisional yang sebagian di antaranya masih dilestarikan sampai sekarang. Di Bali, misalnya, dikenal tari sakral sanghyang yang memadukan gerak tari dan trans, juga kidung, yang dilakukan untuk mengenyahkan bala dan memohon perlindungan dewata.

    Ada pula metode penyembuhan dan ramuan tradisional yang dipercaya berkhasiat mengobati penyakit dari masa ke masa. Bermacam ritual itu termaktub dalam buku Menolak Wabah yang dirilis Penerbit Ombak bekerja sama dengan Borobudur Writers & Cultural Festival Society, akhir tahun lalu. Buku yang terbagi menjadi dua jilid itu memuat puluhan karya tulis yang menggali kearifan lokal penolak wabah, dari relief, manuskrip, sejarah rempah, hingga ritual budaya.

  • Ramuan dari Leluhur
    Selingan

    Ramuan dari Leluhur

    Masyarakat adat di Nusantara menyimpan tradisi jamu warisan nenek moyang untuk mencegah penyakit. Kementerian Kesehatan meriset tanaman obat itu untuk khalayak luas.

  • Rancage tanpa Ajip
    Selingan

    Rancage tanpa Ajip

    Anugerah Sastera Rancage digelar untuk ke-33 kali. Berharap dapat terus bertahan meski perintisnya, Ajip Rosidi, telah wafat.

  • Dari Dadan sampai Komang Berata
    Selingan

    Dari Dadan sampai Komang Berata

    Anugerah Sastera Rancage yang mengapresiasi karya-karya sastra terbaik dalam bahasa daerah kembali digelar ke-33 kalinya. Digagas Ajip Rosidi, anugerah ini memberi semangat kepada penulis daerah untuk melestarikan bahasa lokal yang makin pudar.

  • Pertama dari Indonesia
    Selingan

    Pertama dari Indonesia

    Orang-orang Bloomington masuk daftar sastra terbitan Penguin Classics. Kisahnya dinilai tak tergerus zaman.

  • Budi Darma, Orang-orang Bloomington, dan Penguin Classics
    Selingan

    Budi Darma, Orang-orang Bloomington, dan Penguin Classics

    ORANG-ORANG Bloomington tahun ini “pulang kampung” ke Amerika Serikat. Rencananya, kumpulan cerita pendek karya Budi Darma itu akan diterbitkan oleh Penguin Classics, salah satu lini penerbit terkenal dan prestisius Penguin Random House, untuk diedarkan di Amerika Serikat dan Kanada. Orang-orang Bloomington menjadi buku Indonesia pertama yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penguin Classics, yang juga merilis karya-karya penulis legendaris, dari Arthur Conan Doyle, Charles Dickens, hingga William Shakespeare.

    Terbit perdana pada 1980, Orang-orang Bloomington sudah berulang kali berganti penerbit. Terakhir, pada 2015, Noura Publishing mencetak ulang buku tersebut. Pada 2016, buku itu memikat Tiffany Tsao, dosen dan penulis yang belakangan menjadi penerjemahnya. Noura Publishing, mewakili Budi Darma, lantas menandatangani kontrak dengan Penguin Classics melalui perantara agen literasi Jacaranda pada pengujung 2020.

  • Menunggu Wajah Baru Sarinah
    Selingan

    Menunggu Wajah Baru Sarinah

    Desain baru gedung Sarinah akan mengikuti perkembangan zaman. Relief patung yang menjadi polemik bakal ditempatkan di area atrium dan menjadi center point. Relief itu kelak bisa dilihat dan dipelajari masyarakat umum.

  • Siapa Pembuat Relief Sarinah?
    Selingan

    Siapa Pembuat Relief Sarinah?

    PARA pekerja renovasi Sarinah tahun lalu “menemukan” relief zaman Sukarno berukuran 3 x 12 meter “disembunyikan” di ruang instalasi listrik gedung. Relief itu menggambarkan suasana pasar lama: ibu-ibu berkebaya bersama barang jajanan dan para lelaki bercaping membawa pikulan. Relief itu menarik karena sebagian berupa relief patung tiga dimensional yang menonjol.

    Tak ada arsip mengenai relief itu. Muncul spekulasi dari para pengamat seni rupa tentang siapa pembuat relief dan mengapa karya tersebut bisa dibuang di ruang genset yang pengap di Sarinah. Apakah relief itu sengaja dilenyapkan Orde Baru karena dianggap “kekiri-kirian” atau pihak Sarinah sendiri di masa lampau yang menganggap relief yang menggambarkan masyarakat pedesaan tersebut tidak cocok dengan modernisasi Sarinah?  

    Tempo mewawancarai anak-anak para perupa masyhur dari 1960-an untuk menggali kemungkinan-kemungkinan mengenai siapa pembuat relief tersebut. Tempo juga mewawancarai Menteri Tenaga Kerja zaman Orde Baru, Abdul Latief, yang pada awal pendirian Sarinah terlibat sebagai karyawan.

  • Desainnya Dipilih Sukarno, Pekerjanya Seniman Yogyakarta-Bandung
    Selingan

    Desainnya Dipilih Sukarno, Pekerjanya Seniman Yogyakarta-Bandung

    Abdul Latief salah satu saksi mata pendirian dan pengelolaan pertama Sarinah yang masih hidup. Kesaksiannya bermanfaat untuk mendapatkan informasi tentang lokasi awal relief di Sarinah.

  • Potret Getir Jamal, Janda Malaysia
    Selingan

    Potret Getir Jamal, Janda Malaysia

    Sutradara muda dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, Muhammad Heri Fadli, merilis film Jamal, yang menyoal problematika keluarga buruh migran. Jamal, akronim dari janda Malaysia, adalah sebutan untuk para istri yang ditinggal mati suaminya, buruh di Negeri Jiran. Ini adalah karya kedua Heri, yang sebelumnya sudah pernah menggarap film soal tenaga kerja Indonesia (TKI). Film berdurasi 14 menit itu diputar dalam Festival Film Lleida, Spanyol, awal Desember lalu. Dalam menggarap dua proyek itu, Heri melibatkan kru dan pemain yang sehari-hari terlibat proses pemberangkatan dan pengurusan TKI serta mereka yang tinggal di Dusun Aik Paek—salah satu kantong TKI di Lombok. Lewat filmnya, Heri tak hanya berbicara soal kemelaratan, tapi juga dampak psikologis bagi mereka yang ditinggalkan. Simak laporan Tempo dari Aik Paek, Lombok Tengah.

  • Jamal Adalah Cerita yang Saya Kenali dan Rasakan
    Selingan

    Jamal Adalah Cerita yang Saya Kenali dan Rasakan

    Muhammad Heri Fadli, 25 tahun, mulai mengenal produksi film saat kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Selepas kuliah, Heri pulang ke kampung halamannya di Lombok. Ia ingin membuat film seputar problematika tenaga kerja Indonesia di kampungnya. Setelah sukses menggarap dua film pendek, Sepiring Bersama dan Jamal, Heri bertekad membuat film panjang yang juga memotret nasib TKI.

  • 9 Album Rekomendasi
    Laporan Khusus

    9 Album Rekomendasi

    Inilah sembilan album yang direkomendasikan Tempo.

  • Memori Kekerasan: Antara Uruguay dan Kita
    Laporan Khusus

    Memori Kekerasan: Antara Uruguay dan Kita

    Faiza Mardzoeki membuka ruang baru dalam teater kita dengan menerjemahkan naskah Lene Therese Teigen, dramawan feminis Norwegia, menjadi lakon Waktu tanpa Buku. Dia juga mewujudkan naskah itu menjadi lima pentas yang diarahkan lima sutradara perempuan dari Aceh hingga Makassar. Naskah tentang memori kekerasan korban sepanjang periode diktator Uruguay ini menjelma menjadi lima pertunjukan yang pekat diwarnai memori kekerasan di negeri sendiri.

  • Ugo dan Laku Menggambar
    Laporan Khusus

    Ugo dan Laku Menggambar

    Di masa ketika pameran pun dipaksa berubah oleh pandemi, suguhan karya seni Ugo Untoro terasa orisinal dibanding pameran lain sepanjang 2020.

  • Cerita yang Melagu
    Laporan Khusus

    Cerita yang Melagu

    Nyanyian Nadin Amizah menyajikan kontras yang kaya. Antara gaya bertutur dan lirik yang sugestif, instrumentasi yang minimalis dengan olahan bunyi yang meruang, antara langgam pop dan pastiche yang tak terduga.

  • Seni (Sastra) dalam Realitas Baru
    Laporan Khusus

    Seni (Sastra) dalam Realitas Baru

    Pandemi membuat wajah seni kita pada 2020 menjadi berbeda. Banyak agenda seni yang tertunda, bahkan batal. Tapi, perlahan-lahan, seniman bangkit dan menolak tunduk. Mereka mulai beradaptasi dengan situasi pandemi. Di tengah keterbatasan situasi itu, para seniman terus berupaya melahirkan karya terbaik—salah satunya dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai mediumnya. Fenomena baru yang mewarnai jagat seni kita ini menjadi pertimbangan tambahan kami ketika menyeleksi dan mendiskusikan nomine sebelum memilihnya sebagai karya dan tokoh seni pilihan Tempo 2020.

  • Dari Pribadi ke Dunia, Mutan dalam Bahasa
    Laporan Khusus

    Dari Pribadi ke Dunia, Mutan dalam Bahasa

    Puisi Sapardi Djoko Damono dan Afrizal Malna bertemu sekaligus berpisah dalam pemaknaan sejarah pribadi dan dunia. Mereka memperbarui kemapanan yang telah dicapai selama ini.

  • Aib dan Nasib: Beyond Imagination
    Laporan Khusus

    Aib dan Nasib: Beyond Imagination

    Novel karya Minanto yang menjadi buku sastra pilihan Tempo 2020 kategori prosa.

  • Karya yang Membersitkan Harapan
    Laporan Khusus

    Karya yang Membersitkan Harapan

    Dea Anugrah, Cyntha Hariadi, dan Sasti Gotama mencoba menyajikan kesegaran dalam gagasan, pengucapan, dan kemahiran penceritaan. Karya mereka membersitkan harapan. Tiga buku sastra 2020 rekomendasi kami.

  • 1.100 Peraba Tak Dikenal
    Laporan Khusus

    1.100 Peraba Tak Dikenal

    PANDEMI membuat sejumlah ilmuwan Tanah Air berjibaku menghadapi virus baru bernama SARS-CoV-2. Berbagai penelitian, pengkajian literatur, serta rapat virtual berlangsung nyaris tanpa putus. Para ilmuwan dituntut mempelajari dan menguasai kemampuan baru.

    Mulanya, hampir semua ilmuwan meraba-raba dan kewalahan meneliti SARS-CoV-2 serta pembuatan vaksin Covid-19. Ibarat puzzle, satu demi satu kepingan mulai tersusun. Kini ada 293 kegiatan dalam program Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19. Program ini  melibatkan lebih dari 1.100 peneliti, perekayasa, dan dosen di seluruh Indonesia.

  • Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.