maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Indonesiana

Mangku ketut suradana,47, dukun dari desa sanggulan, tabanan, bali mengaku bisa mengobati berbagai penyakit. sebelum melakukan pengobatan, ia semedi, bersujud panca agama, dan minum baygon. is minuman pejantan pernah diiklankan di tv yang dilukiskan sampai menimbulkan gempa segala. barangkali iklan serupa bisa pula dibuat untuk racun serangga baygon. sebab di bali ada dukun yang beroleh energi justru sehabis menenggak cairan racun serangga ini. namanya: mangku ketut suradana, 47 tahun, dukun dari desa sanggulan, tabanan, 17 km dari denpasar. ia mengaku sudah 30 tahun mengobati aneka penyakit, seperti kanker payudara, paru-paru basah, stroke, patah tulang, kencing batu, sampai penyakit akibat santet. tiga tahun terakhir, pasien yang tercatat datang dari bali, jawa, juga dari prancis, italia, dan belgia. suradana buka pintu tiap hari rabu, jumat, dan minggu. bangun pagi pukul 03.00, lelaki keturunan warih dalem, pemangku di puri dalem klungkung abad ix, ini menghaturkan sesaji di rumahnya, lalu salat subuh. istirahat sampai pukul 07.30, ia berdoa kepada para leluhur dengan tata cara hindu. ganti pakaian lagi ala para wali dengan jubah dan tutup kepala serbaputih, ia melakukan sujud panca agama, entah bagaimana wujudnya. lalu dia menginjak-injak api. puncaknya, suradana melakukan sujud memanggil kekuatan supranatural, dan menenggak obat nyamuk baygon hampir sepertiga liter. "setelah minum baygon itu, saya seperti memperoleh energi dan mantap melakukan tugas," katanya kepada kelik m. nugroho dari tempo. kebiasaannya ini, menurut suradana, sudah berlangsung empat tahun, setelah menerima bisikan gaib. "kalau setelah minum lalu mati, saya pasrah saja," tuturnya. kebutuhannya meminum racun serangga itu timbul terutama ketika harus melayani pasien berpenyakit berat. "saya nggak pernah beli sendiri. pasien-pasien yang sudah tahu selalu membawa baygon," katanya. ia mengaku menolak bayaran, dan menampik pula dijuluki dukun. kebolehannya mengobati orang merupakan pusaka turunan, di samping ia pernah belajar ilmu batin dari seorang kiai di lombok barat. juga belajar silat pada seorang kiai di madura. ia mendapat sertifikat dari persatuan hindu dharma indonesia denpasar untuk jadi pemangku (sesepuh) di pura gunung tiang batu denpasar, 30 tahun lalu. para tetangga, murid, dan pasiennya menjulukinya ratu aji, juru dukun, pemangku, juga wak aji. tetap menduda setelah istrinya meninggal, suradana tinggal di rumah sederhana 15 meter x 15 meter. tak ada perabot mewah di dalamnya. ruang tamu terisi dua set meja kursi kayu dan anyaman bambu. ada tv 20 inci dan bekas kompor aqua yang lusuh di salah satu sudut. di sudut lain ada meja sesaji dengan patung-patung kecil berupa manusia dan rusa. ada sebuah kamar 2 meter x 2 meter, tempat suradana mengobati pasiennya dengan cara tradisional, dan peralatan berupa pisau, gunting, dan alat penyedot. meski ia sudah diakui ampuh oleh banyak kalangan, termasuk para dokter di rsup sanglah denpasar yang sering memintanya menangani penyakit khusus, toh ada juga yang sangsi. suatu saat seorang pria yang membawa istrinya yang sakit sangsi pada keaslian baygon yang diminum sang dukun. ia lalu mencicipi setitik. kelimpungan. lalu ada lagi yang usil, yakni memberinya sekaleng baygon, tapi isinya diganti bensin dan alkohol. "akhirnya, orang itu saya dengar mati ditabrak mobil," begitu cerita suradana. benar apa tidak dua kejadian itu ada hubungan, agaknya ini soal lain lagi. ed zoelverdi

Baca Selengkapnya

Berita Lainnya

Majalah Edisi Lainnya

  • 25 September 2022

  • 18 September 2022

  • 10 September 2022

  • 3 September 2022

  • 27 Agustus 2022

  • 20 Agustus 2022

Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan