Televisi 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Terbang dengan Dora dan Spongebob

Stasiun TV memanjangkan jam siaran untuk anak. Anak konsumen yang amat layak diperhitungkan.

i

Hari itu seperti hari sebelumnya. Azahra Fauzia sudah terjaga seusai azan subuh. Anak perempuan yang belum lagi mendekati usia 5 tahun itu punya aktivitas rutin. Tangannya menggapai remote control, menyalakan TV di kamar. Dan pukul 04.30, ia sudah ditemani aksi animasi Blues Clues, lantas Dora the Explorer, lalu Spongebob Squarepants. Pagi itu ia menghabiskan tiga setengah jam tanpa beringsut dari stasiun TV swasta yang menyodorkan lima acara serupa. Ibunya mulai marah ketika acara nonton pagi tersebut perlahan menggusur rutinitas selama ini: mandi, sarapan, pakai seragam, dan siap berangkat ke sekolah.

Inilah dunia televisi kita pada 2005. Sebuah stasiun TV swasta yang memberi porsi melimpah pada acara-acara animasi untuk bocah seusia Azahra. Pagi dari 05.00 hingga 09.00, dan siang dari 13.30 sampai 18.00.

Selama ini televisi kita adalah televisi yang tak begitu ambil pusing pada anak. Anak sosok yang terjepit. Pagi menjelang siang, aroma kekerasan mendesak masuk ke ruang-ruang keluarga. Sore hari, giliran aneka reality show mempertunjukkan hal-hal dramatis dari kehidupan nyata. Malam menjelang isya, hantu-hantu muncul, juga acara-acara khusus yang membungkus pesan-pelajaran religius dengan berbagai adegan mengerikan.


Ya, Lativi, stasiun TV yang menempatkan anak sebagai konsumen istimewanya, sedikit menyimpang dari tren. Spongebob Squarepants dan kawan-kawan menyapa lima kali sehari—secara total, minimal tujuh jam sehari. Dan kartun produk Nickelodeon ini diakui pihak marketing Lativi mendatangkan banyak iklan. Raldy Doy, Manajer Humas Lativi, menolak menyebut angka, tapi diakuinya iklan yang masuk sekarang, ”Lebih baik dari pertama kali tayang.” Televisi adalah dunia yang bergerak, dan kesempatan menangguk emas seperti ini memang tak akan datang setiap saat. Pihak pemasaran pun memanfaatkan momen ini dengan menambah kegiatan promosi di luar studio, seperti ”Lomba Mejeng Mirip Dora”, ”Spongebob Movie”, dan acara spesial seperti ”Wisata Anak” dan kunjungan ke sekolah-sekolah.

162052012088

Sebenarnya bukan cuma stasiun milik pengusaha Abdul Latief, bekas Menteri Tenaga Kerja, itu yang memanjakan anak. ANTV juga menampilkan tayangan anak dua kali dalam satu hari: pagi dan sore. Pilihannya kartun klasik. Dimulai pukul 06.00 dengan kartun Scooby Doo, Woody Woodpecker, dan Barney. Dilanjutkan lagi sore, 17.30 sampai 18.00, kartun Woody dan kartun Casper. Mereka belajar banyak dan itulah sebuah koreksi. Sebelum ini, ANTV pernah menyajikan serial kartun Scooby Doo pada jam tayang yang kini diyakini salah, pukul 19.30. Dan akibatnya cukup runyam: Scooby Doo tak mampu bersaing baik dengan produk jam utama stasiun lain yang lebih meriah, yakni sinetron remaja atau sinetron drama.

”Ini hasil masukan dari pemirsa agar kartun ditonton sore hari,” kata Lusi Listiana dari bagian perencanaan dan jadwal acara ANTV.

Lativi sukses. Tapi sebuah masalah baru mungkin sudah menunggu di ujung sukses stasiun tersebut. Seorang ibu mengeluh: anak-anaknya terus menancap di depan televisi karena merasa itu acara buat mereka. Sang ibu tak terganggu dengan klaim akan ”hak” anak, tapi ia cemas. Ia khawatir putra-putrinya menomorsatukan Spongebob, Dora the Explorer, dan lain-lain serta menomorduakan kewajiban seperti belajar, membuat pekerjaan rumah. Ya, kemungkinan konflik orang tua versus anak muncul.

”Aku enggak boleh nonton TV malam. Kata ibu, besok malas bangun pagi,” keluh Fausia sambil cemberut. Di layar televisi ada The Wild Thornberry, Hey Arnold, Rugrats, Spongebob Squarepants, Fairy Odd Parents, dan Dora the Explorer yang amat memukau. Tapi ibunda Fausia memegang kendali. Bagaimana dengan ibu lain yang entah karena sibuk atau ”kalah kuat” menghadapi anak akhirnya tak bisa memegang kontrol?

Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, punya jawaban. ”Lebih baik TV diberlakukan seperti komputer atau buku ensiklopedi, dibuka ketika perlu,” ujarnya tegas. Ketergantungan anak yang luar biasa pada layar kaca ini, menurut Seto, perlu dikritik. Kontrol dilakukan baik oleh televisi maupun oleh orang tua di rumah. ”Mereka terlalu menjadikan televisi sebagai primadona,” Seto Mulyadi mengkritik para orang tua yang menyerahkan segalanya yang menyangkut anak ke tangan babysitter, sehari 24 jam.

Pesan Seto tajam, menuntut perhatian khusus orang tua: jangan menempatkan televisi sebagai satu-satunya alternatif. Meletakkan televisi di ruang keluarga sering membuat kotak berlayar bening itu menyala sepanjang hari, dan ini tak memberi anak pilihan. Ada banyak cara yang menghibur tapi juga mampu mengembangkan kecerdasan moral, sosial, dan spiritual anak. Ya, kreativitas tetap terjaga bilamana si anak bermain, mengembangkan imajinasinya sendiri, atau mendengarkan orang tuanya mendongeng.

Evieta Fadjar P.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052012088



Televisi 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.