Sinema 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Chloe Zhao: Perempuan Kedua dalam 93 Tahun Oscar

Chloe Zhao meraih piala Oscar tahun ini sebagai Sutradara Terbaik lewat film arahannya, Nomadland.

i Chloé Zhao saat menerima penghargaan Best Picture dalam Penghargaan Piala Oscar ke 93, di Los Angeles, California, Amerika Serikat, 25 April 2021. POOL
Chloé Zhao saat menerima penghargaan film terbaik Piala Oscar ke-93 di Los Angeles, California, Amerika Serikat, 25 April 2021. POOL

JIKA kemenangan film Parasite karya  sutradara Korea Selatan, Bong Joon-ho, menjadi perayaan spektakuler di negara asalnya, kemenangan Chloé Zhao di tanah kelahirannya disambut  datar belaka. Jika semua episode dan pemenang piala Oscar menjadi trending di berbagai media sosial—yang diblokir di Cina—kemenangan Zhao, meski disebut di media sosial Weibo, toh tidak sampai mencapai trending.

Tentu saja ada perbedaan di antara keduanya. Bong Joon-ho adalah sutradara Korea Selatan yang membuat film Korea dalam bahasa Korea dengan setting di Seoul. Sementara itu, Chloe Zhao, sutradara kelahiran Beijing, sudah lama meninggalkan Beijing sejak usia 14 tahun untuk menempuh pendidikan di Inggris, lalu dilanjutkan ke New York University, dan kini menetap di Ojay, California, Amerika Serikat. Ketiga film Zhao, termasuk Nomadland yang baru dinobatkan sebagai Film Terbaik Academy Awards tahun ini, adalah film yang sangat “Amerika”, tentang Amerika, dengan setting Amerika, dan tentu saja berbahasa Inggris. Yang menyamakan mereka: keduanya sutradara non-Amerika yang memenangi nominasi Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.

Perbedaan kedua sutradara ini adalah reaksi tanah airnya. Itu disebabkan wawancara Zhao pada 2013 yang dianggap kontroversial. Dia menyatakan bahwa “di masa saya masih muda, begitu banyak informasi di mana-mana yang merupakan kebohongan.” Dan akibatnya, menurut Zhao, dia  menjadi remaja pemberontak.

Lahir di Zhào Ting, Beijing, 39 tahun lalu, ayah Zhào Yuji (nam aslinya) adalah bagian dari  generasi yang membawa suksesnya industrialisasi  di Cina. Dia memimpin perusahaan baja terkemuka Shougang Group. Ibu Zhao adalah seorang pekerja di rumah sakit.

Pada usia 14 tahun, Zhao dikirim ke asrama di Inggris untuk menempuh pendidikan menengah. “Itu masa-masa teenage angst, masa remaja galau,” ujarnya. Namun kegalauan itu cepat tergerus oleh kesibukan kuliah political science di Massachusetts, Amerika. Tak lama kemudian Zhao pindah ke New York untuk belajar film di New York University Tisch School.

Di sinilah penentu karier Zhao. Pertama, dia bertemu dengan kawan, yang menjadi pacar, sesama mahasiswa film bernama Joshua James Richards. Richards kelak menjadi sinematografer Zhao untuk tiga filmnya. Kedua, pada 2015, film debut Zhao berjudul Song My Brothers Taught Me kemudian memberikan jejak sinematiknya di Sundance Film festival Independent Spirit Award. Zhao sudah memperlihatkan gaya yang unik: storytelling yang hiper-realis sekaligus menampilkan “realisme” dengan menggunakan non-aktor. Dua tahun kemudian, film The Rider mendapatkan pujian kritikus dan dinominasikan sebagai Film Terbaik di Independent Spirit Award.

Pertemuannya dengan aktris Frances McDormand yang akhirnya memasukkan nama Zhao ke arena mainstream. McDormand menemui Zhao di antara kesibukan festival film sembari menyodorkan buku nonfiksi Nomadland: Surviving America in the Twenty-First Century karya Jessica Bruder. Ini adalah sebuah laporan jurnalistik tentang mereka yang hidup berkelana dengan kendaraan van akibat resesi 2007.

Tanpa banyak debat, Zhao bersama kekasihnya, Richards, mengikuti jejak Jessica Bruder. Selama musim panas 2018, mereka mengendarai van selama empat bulan, hidup sebagai nomad di wilayah barat Amerika (Colorado, Arizona, New Mexico, Oregon, dan Nevada) sekaligus menyeleksi lokasi dan berkenalan dengan nomad sesungguhnya. Selebihnya adalah sejarah.

Zhao menjadi perempuan kedua yang diberi gelar sutradara terbaik—setelah Katheryn Bigelow yang menyutradarai Hurt Locker—karena keberhasilannya menyutradarai Nomadland. Jadi, dalam 93 tahun sejarah Academy Awards, tampaknya dua perempuan inilah yang baru bisa dianggap sutradara terbaik. Itu pun ada jarak 11 tahun antara Bigelow dan Zhao.

Bagi Zhao, seperti yang dia sampaikan kepada sutradara Bong Joon-ho, menyutradarai adalah “sebuah pengalaman mengupas kulit kita dari identitas yang selama ini kita pikul, lalu mengenakan sepatu orang lain.” Mungkin itu sebabnya seseorang yang lahir di Beijing dan berpendidikan formal di Inggris dan Amerika bisa menyutradarai sebuah film yang sangat berkarakter Amerika, seperti Nomadland, dengan pas karena Zhao berhasil “mengupas kulitnya”.

Itu pula yang menyebabkan Zhao mampu beradaptasi dan tidak ngotot harus terus-menerus menyutradarai film yang sunyi seperti ketiga filmnya. Film berikutnya adalah jagat Marvel berjudul Eternals produksi Disney yang dibintangi, antara lain, oleh Angelina Jolie.

Sebagai pengagum beberapa sutradara, senior seperti Terrence Malick dan Werner Herzog, Zhao mengaku bahwa: “jika ada yang salah di lapangan, saya berpikir, apa yang akan dilakukan Werner Herzog?”

Zhao (dan Katheryn Bigelow) mungkin sudah membuka jalan bagi sutradara perempuan hebat lain sehingga tak perlu menanti satu dekade untuk menyadari bahwa banyak perempuan yang menghasilkan film dahsyat.

LEILA S. CHUDORI

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=162091769297


Festival Film Film

Sinema 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.