Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sri, Nasjah Jamin, dan Laila Tifah

Lukisan-lukisan Laila Tifah menyuguhkan sosok para perempuan tangguh. Membebaskan diri dari pengaruh lukisan-lukisan bapaknya, sastrawan dan pelukis Nasjah Jamin.

i Tangguh karya Laila Latifah dalam pameran bertajuk Sri di Jogja Gallery, 8 Februari 2021. TEMPO/Shinta Maharani
Tangguh karya Laila Latifah dalam pameran bertajuk Sri di Jogja Gallery, 8 Februari 2021. TEMPO/Shinta Maharani

TIGA perempuan bertelanjang kaki mengayun jerami yang telah diikat di hamparan sawah yang menguning. Berdiri kukuh dengan betis besar berotot, mereka mengempaskan kepalan batang padi pada kayu berbentuk tong. Para perempuan dalam lukisan itu tampak sedang memanen bulir-bulir padi.

Berjudul Tangguh, lukisan berukuran 180 x 200 sentimeter itu ditampilkan dalam pameran tunggal perupa Laila Tifah bertajuk “Sri” di Jogja Gallery, Yogyakarta, pada 7-17 Februari ini. Laila Tifah melukis Tangguh pada 2020. Berbahan cat akrilik di atas kanvas, Tangguh merupakan satu di antara 35 lukisan dan 20 sketsa yang dipamerkan. Hampir semua subyek dalam pameran itu menggunakan sosok perempuan. “Mengambil spirit para perempuan tangguh yang berhasil keluar dari tekanan,” ujar Laila saat ditemui di Jogja Gallery, Senin, 8 Februari lalu.

Anak ketiga dari pelukis sekaligus sastrawan Indonesia, Nasjah Djamin, itu meminjam nama Sri karena punya makna filosofis di kalangan masyarakat Jawa. Cerita rakyat Jawa mengenal Dewi Sri sebagai dewi padi atau dewi kesuburan. Sri juga berarti gelar kehormatan bagi raja atau orang besar, misalnya Sri Paduka Maha Raja. Ada juga Sri Amurwabhumi yang merujuk pada gelar pendiri Kerajaan Singasari, Ken Arok.

Tanpa Beban karya Laila Latifah. TEMPO/Shinta Maharani

Dalam sejumlah karya sastra, nama Sri menjadi simbol perempuan Jawa yang kuat. Contohnya dalam dua novelet ciptaan Umar Kayam, Sri Sumarah dan Bawuk. Karya itu berkisah tentang perjuangan perempuan Jawa yang mengalami masa sulit pada 1960-an. Sri ditinggalkan suaminya dan berjuang membesarkan anak semata wayangnya. Tragedi 1965 membuat Sri pasrah ketika anaknya diseret ke penjara dan menantunya hilang. Sri gigih dan bekerja keras merawat cucunya.

Menurut Laila, di tengah persiapan pameran selama tiga tahun, ia membaca novel karya Umar Kayam. Alumnus Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini telah membaca novel itu sejak dia belum aktif melukis, yakni pada 2004.

Tema perempuan tahan banting juga muncul pada karya berjudul Tanpa Beban yang dilukis menggunakan cat akrilik berbahan kanvas. Ibu tiga anak ini menciptakan lukisan berukuran 185 x 300 sentimeter pada 2020. Enam perempuan berkaki liat sedang berbaris menyunggi jerami yang ditumpuk. Dalam beban batang padi kering yang diterpa angin itu, petani memikulnya hingga punggung mereka terbungkuk. Di atas rumput, mereka berjalan di antara tebing-tebing hijau berawan biru dan putih. Para petani bertubuh ringkih itu mengenakan kemben dan sebagian bermasker.


Pameran tunggal karya perupa Laila Latifah bertajuk Sri di Jogja Gallery, 8 Februari 2021. TEMPO/Shinta Maharani

161867951572

Tangguh dan Tanpa Beban sekilas mengingatkan pada lukisan karya Nasjah Djamin yang banyak menampilkan tema alam dan keseharian manusia dengan perspektif gambar yang luas. Misalnya pada lukisan berjudul Panen. Karya yang dibuat pada 1994 itu menggambarkan tiga perempuan menggendong bakul di hamparan sawah yang luas. Ibunda Laila, Umi Nafiah, menyimpan lukisan itu di rumahnya di Jalan Barokah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Boleh dibilang, pengaruh Nasjah terasa kuat pada sebagian lukisan Laila. Kebanyakan lukisan bertema lanskap Nasjah juga menggambarkan sosok perempuan. Tema yang dia angkat tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Misalnya perempuan yang pulang dari pasar dengan bakul di punggung. Ini seperti karya Nasjah buatan 1994 berjudul Tiga Bakul Gendong yang menggambarkan tiga perempuan menggendong bakul di hamparan sawah yang sebagian menguning.

Tokoh Sri yang Laila gambarkan itu muncul pada sejumlah novel karya ayahnya berjudul Tiga Puntung Rokok, Hilanglah Si Anak Hilang, dan Yang Ketemu Jalan. Sri dalam novel-novel itu adalah gambaran kakak ibunda Laila yang bekerja sebagai pedagang camilan di Pasar Ngasem, Yogyakarta. Setiap subuh, bude Laila itu naik sepeda mengangkut dagangan dari Jejeran Bantul menuju Pasar Ngasem. Bude bagi Laila adalah perwujudan Sri, perempuan pekerja keras. 

Laila tak menampik penilaian bahwa sebagian karyanya mendapat pengaruh bapaknya. Subyek yang mereka angkat sebagian sama. “Ya, ada pengaruh. Bertahun-tahun saya hidup bersama karya Bapak di rumah,” ucap Laila.

Meski begitu, menurut Laila, ia berusaha keluar dari bayang-bayang karakter lukisan yang mirip karya ayahnya. Subyeknya boleh sama. Bedanya, perempuan dalam lukisan Laila tidak digambarkan dalam ukuran kecil seperti punya Nasjah. Selain itu, goresan warna lukisan Laila lebih tegas ketimbang karya ayahnya yang lembut. Misalnya pada warna hijau, kuning, cokelat, dan merah yang menyala.

Menurut Laila, Nasjah cenderung menghindari warna hitam atau gelap. Bagi Laila, warna gelap menggambarkan karakternya yang tidak sehalus bapaknya yang hampir tidak pernah marah. Berbeda dengan Laila yang sewaktu-waktu bisa marah dan meledak. “Warna gelap juga keinginan kuat untuk tidak mengekor karya ayah,” ujar Laila.

Aa Nurjaman, penulis pameran ini, menyebutkan, tak hanya Nasjah yang mempengaruhi Laila dalam berkarya, tapi juga ibundanya, Umi Nafiah. Kehidupan perempuan desa dan laku tirakat yang Umi jalani menginspirasi Laila dalam melukis. Semangat hidup orang-orang desa di tengah keterbatasan itulah yang melatari Laila menciptakan karya-karya bertema perempuan. Contohnya lukisan berjudul Tangguh. Saat masa panen, para perempuan itu begitu bergembira meskipun harus bekerja keras sepanjang waktu. “Perempuan tangguh di desa muncul dari cerita-cerita ibunya,” kata Nurjaman.

Selain mengeksplorasi perempuan kelas pekerja, Laila menciptakan lukisan-lukisan yang muncul dari kecemasannya. Misalnya pada karya berjudul Hormat Waluh. Lukisan bertarikh 2020 itu menggambarkan seorang perempuan yang sedang membungkuk dan menunduk di hadapan lautan labu. Orang Jawa menyebut labu sebagai waluh. Langit yang gelap berarak awan menjadi latar perempuan bergaun ungu bersama labu. Karya berukuran 120 x 190 sentimeter yang menggunakan bahan cat minyak di atas kanvas itu lahir dari kecemasan Laila yang menderita diabetes sejak 2004. Mendiang ayahnya hidup bersama diabetes selama 40 tahun dan menurun kepada tiga anaknya, termasuk Laila.

Nasjah Jamin. Kemdikbud

Kini Laila mengurangi makanan berkarbohidrat tinggi pemicu diabetes, seperti nasi, dan menggantinya dengan makanan lain untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Dari situlah Laila menciptakan lukisan-lukisan bertema diabetes. Ia mulai menciptakan karya-karya yang bersifat personal berangkat dari kegelisahannya akan diabetes sejak empat tahun terakhir. Tengoklah tema diabetes yang juga muncul pada lukisan berjudul Karbo I dan Karbo II yang dia ciptakan pada 2018. Lukisan Karbo I menggambarkan perempuan bertubuh tambun yang mengenakan gaun berwarna hitam. Mulut perempuan berambut panjang itu dibekap kain. Di depan perempuan itu terdapat dua lelaki berbadan gembul dan kerempeng sedang berhadap-hadapan. Mulut kedua lelaki bertelanjang dada itu disumpal kain.

Di tengah kegelisahannya karena penyakit gula, Laila tetap produktif berkarya sebagai bagian dari terapi. Perempuan berusia 49 tahun itu juga tidak mau terjebak dalam pekerjaan domestik ibu rumah tangga. Dia melukis di sela-sela kesibukan mengurus tiga anak, suami, serta memasak dan mencuci. Laila terbiasa melukis sore hari dan saat tiga anaknya terlelap, malam hingga menjelang subuh. “Berstrategi soal waktu dan rumah aku jadikan seperti kantor,” ucap Laila.

SHINTA MAHARANI


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161867951572


Seni Rupa

Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.