Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dua Penulis Selatan

Dua penulis dari Amerika Latin menyambangi Indonesia membicarakan agama, pembunuhan di Kolombia, sampai narkotik.

i

DI lobi Hotel Indonesia Kempinski yang lengang dan temaram, Héctor Abad Faciolince, penulis asal Kolombia, memperlihatkan sebuah foto surat yang ditulis di atas secarik kertas yang telah menguning. Di bagian atasnya terdapat kop Hotel Indonesia. "Ini surat dari ayah saya yang ia tulis persis di hotel ini pada 1965," kata Héctor, Senin dua pekan lalu.

Dalam surat itu, sang ayah bercerita bahwa ia tinggal selama enam bulan di Hotel Indonesia sepanjang menjalankan tugas sebagai utusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jakarta. Selama di sini, dia membuat program pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan pengadaan air bersih. Héctor Abad, yang kala itu masih berusia enam tahun dan tinggal di Medellin, Kolombia, selalu menanti surat sang ayah dan membalasnya dengan bersemangat. "Surat-surat itu adalah pelajaran menulis pertama bagi saya karena Ayah pasti akan mengoreksi kalimat yang saya tulis," ujar Héctor, kini 59 tahun.

Héctor berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri dua festival literasi yang diadakan berdekatan, Literature and Ideas Festival Salihara dan Ubud Writers Festival. Selain Héctor, sejumlah penulis dari Amerika Selatan lain turut hadir, seperti Carmen Boullosa dari Meksiko serta Victor Heringer dan Veronica Stigger dari Brasil.


Pada kunjungan pertamanya ke Indonesia ini, Héctor begitu bersemangat menapaktilasi jejak ayahnya. Selain ke Hotel Indonesia, ia menyempatkan diri berkunjung ke tempat-tempat yang pernah dideskripsikan sang ayah dalam korespondensi mereka, seperti Kota Tua. "Perjalanan ini membuat saya merasa seperti sedang bercakap-cakap dengan Ayah," ucapnya.

161820911477

Sang ayah meninggal 30 tahun lalu. Héctor Abad senior tewas di jalanan Kota Medellin, dibunuh kelompok paramiliter Kolombia karena kegiatannya sebagai aktivis hak asasi manusia. Salah satu buku yang disebut-sebut sebagai karya terbaik sepanjang karier kepenulisan Héctor adalah memoar tentang ayahnya, El Olvido que Seremos (Oblivion: A Memoir), yang terbit pada 2006.

Oblivion tak hanya berisi tentang memorinya dengan sang ayah, tapi juga rekonstruksi Héctor akan konflik sosial di Kolombia yang memakan korban masyarakat sipil tak berdaya seperti keluarganya sendiri. "Lewat buku ini, saya ingin suara Ayah yang dulu begitu memperjuangkan kemanusiaan kembali terdengar," ujarnya.

Héctor Abad Faciolince adalah salah satu penulis paling mumpuni di antara generasi kontemporer literatur Amerika Latin. Ia muncul setelah boom sastra Amerika Latin yang bercirikan realisme magis dan diwakili antara lain oleh Jorge Luis Borges, Juan Rulfo, Isabel Allende, dan tentu saja Gabriel García Márquez. Ia menulis sejak berusia 13 tahun. Héctor memulai dengan menulis puisi. Ia sering membuat sajak dengan seorang teman di atap rumahnya dalam aksara ciptaan mereka sendiri. Selanjutnya, ia banyak menulis prosa dan cerita pendek. Pada usia 21 tahun, Héctor memenangi kompetisi menulis nasional di Kolombia untuk cerpennya, Stones of Silence, tentang pekerja tambang yang terjebak di bawah tanah.

Karya-karya Héctor cenderung menggali kedalaman karakter manusia serta kaya akan riset sosial dan sejarah. Saat berkuliah di Universidad Pontificia Bolivariana, Héctor dikeluarkan karena menulis artikel yang menentang paus. Buku pertamanya, Malos Pensamientos, diterbitkan di Italia pada 1991 saat ia mencari perlindungan di negara itu seusai pembunuhan ayahnya. Buku ini menceritakan kehidupan sehari-hari di Medellin pada 1980-an dengan sangat detail dan dekat. Karya terkenal Héctor lainnya adalah Angosta, yang terbit pada 2004. Angosta bergenre hiper-realisme yang berbau fantasi, tapi berdasarkan konflik kekerasan di Kolombia.

n n n

BICARA tentang konflik kekerasan di Amerika Latin, Carmen Boullosa bereaksi paling keras. Ia menolak anggapan umum yang sering mengaitkan negara-negara di selatan Amerika dengan narkotik dan kekerasan. "Perang narkotik diciptakan Amerika Serikat, bukan kami," ucapnya.

Pada usianya yang menginjak 63 tahun, Carmen menyatakan, di negara asalnya, Meksiko, masih banyak pekerjaan harus dilakukan untuk mencapai kesetaraan gender. "Menjadi feminis adalah cara saya bertahan hidup di tengah dunia yang macho," ujarnya.

Tema utama dari karya-karya Carmen adalah erotisisme, sejarah, dan otobiografi. Pilihan ini dipengaruhi pemberontakan Carmen akan kehidupan masa kecilnya yang sangat kental akan nilai Katolik tradisional. "Selama bertahun-tahun saya harus ke gereja setiap pagi, mengenakan penutup kepala, dan mengucapkan doa dalam bahasa Latin yang sama sekali tak saya pahami," kata Carmen.

Saat itu pula ia berhadapan dengan dunia amat patriarkis yang tak membolehkan seorang perempuan sepertinya menjadi pastor. Pengalaman itu membuat Carmen tak percaya lagi pada agama dan memilih beriman pada "kemanusiaan universal" saja.

Carmen mulai menulis pada usia 15 tahun setelah ibunya meninggal. Menurut Carmen, menulis adalah penyelamat hidupnya. Sebab, setelah kematian sang ibu, hidup Carmen menjadi kacau-balau. "Ayahku menikah lagi dengan gadis 18 tahun yang egois, tamak, kejam, dan bodoh," katanya blakblakan.

Carmen menulis novel, puisi, esai, serta naskah drama. Bukunya yang paling populer, Antes (Before), meraih Xavier Villarutia Prize untuk Best Mexican Novel. Narator dalam buku ini adalah seorang gadis kecil yang dihantui rasa takut. Novel They’re Cows, We’re Pigs (1997) berkisah tentang bajak laut Karibia dari abad ke-17. Adapun Llanto mengangkat kisah Montezuma, penguasa Aztec yang ditaklukkan bangsa Spanyol. "Dunia literatur Amerika Latin adalah sebuah jagat raya," ujar Carmen.

Moyang Kasih Dewimerdeka


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161820911477



Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.