Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Lanskap-lanskap Ipe Ma’aruf

Di usianya yang sepuh, 82 tahun, Ipe Ma’aruf mengadakan pameran tunggal di Balai Budaya Jakarta. Di masa pandemi ini ia banyak membuat lukisan-lukisan lanskap warna-warni.

i Karya Ipe Ma'ruf berjudul Bukit Jiwa. TEMPO/Nurdiansah
Karya Ipe Ma'ruf berjudul Bukit Jiwa. Tempo/Nurdiansah

TIGA lukisan itu berukuran sedang. Judulnya: Bukit Jiwa (54,8 cm x 43,5cm), Lembah Kehidupan (69 cm x 46 cm), dan Bunga-bungaan Jiwa (65 cm x 65 cm). Bila kita amati, lukisan itu menampilkan sebuah lanskap. Sebuah perbukitan. Sebuah belukar bunga. Namun itu bukanlah perbukitan atau belukar dalam arti fisik atau empirik. Lebih berupa kesan. Atau perasaan yang hablur tentang sebuah obyek. Perbukitan itu tak dapat jelas ditangkap mata karena obyek ditimpa pendar cahaya lembut yang saling meresap.

Sekitar 136 lukisan karya Ipe Ma’aruf dipamerkan di Balai Budaya, Jakarta Pusat. Mayoritas lukisan berukuran kecil. Ukuran paling besar adalah tiga lukisan di atas. Pameran ini menyuguhkan gabungan antara karya lama dan baru. Ipe Ma’aruf dikenal sebagai seorang seniman dengan karya-karya sketsa kuat. Ia identik dengan sketsa figuratif. Sketsa di tangan Ipe bukanlah sebuah gambar rancangan atau rengrengan untuk mewujudkan sebuah lukisan. Sketsanya dapat dinikmati secara otonom. Ipe terkenal dalam membuat sketsa—cepat, spontan, garisnya bersih, efisien tanpa putus, dan tanpa ditimpa-timpa, diulang-ulangi, atau diperbaiki—tanpa tersendat.

Cover Majalah Si Kuncung no 8 th XVIII 1975 yang dibuat oleh Ipe Maaruf. Dok. Pribadi

Namun pada pameran kali ini sedikit sekali sketsa-sketsa Ipe yang tersohor itu disajikan. “Kami sengaja ingin memamerkan karya Ipe yang lain,” ucap Aisul Yanto, mantan anggota komite seni rupa Dewan Kesenian Jakarta yang sekarang aktif menghidupkan program-program pameran Balai Budaya. Diketahui sejak 1960-an pun, di samping membuat sketsa, Ipe melukis. Sebuah karakter yang mungkin berbeda. Dalam menghasilkan sketsa, Ipe diharuskan on the spot, menghadapi peristiwa sehari-hari secara konkret atau sosok-sosok secara langsung, kemudian menuangkannya ke atas kertas secara spontan dan kilat. Tatkala melukis ia tidak harus berhadapan vis a vis dengan obyek. Ia bisa hanya mengandalkan imajinasi dan perasaan.

Dan ternyata selama masa pandemi, di umur yang sepuh, ia tak berhenti berkarya. Kita melihat lukisan baru yang dibuat dengan akrilik selama era wabah ini cenderung cerah warna-warni. Tidak secerah atau seriang karya Arie Smith tentunya. Tapi kita menangkap melalui karyanya Ipe tampak memelihara perasaan-perasaan bahagia yang sendu. Lihatlah puluhan lukisan lanskap, panorama—suasana pohon-pohon langit biru, tanah kuning, oranye, perbukitan batu, gumuk-gumuk, dan semak-semak pepohonan. Banyak dari karyanya itu dihasilkan Ipe dengan sedikit bereksperimen. Ia mula-mula menuangkan akrilik warna-warni di lantai atau atas tatakan. Lalu ia menangkupkan kertas putih. Ketika kertas diangkat, akan muncul bentuk-bentuk tertentu pada kertas. Ipe lalu mengikuti bentuk-bentuk yang muncul apa adanya, tanpa menindihnya dengan gagasan visual yang sudah direncanakan sebelumnya. “Pak Ipe merespons apa yang muncul di kertas. Saya lihat biasanya hasil tangkupan kertas itu kemudian menjadi bagian atas lukisan,” tutur Aisul.

Lihatlah lukisannya yang berjudul Ngarai yang Damai, Jiwa Mengalir, Senja di Ngarai, Di Antara Rumbia, Alam dan Kehidupan, Bukit Kebahagiaan, Hijau di Lembah Teduh, Hati yang Gembira, Harmoni Alur Jiwa, Alunan Alam, Aliran Jiwa, Alur Air, Ikuti Saja, dan Alur yang Akur. Perhatikan efek-efek yang dihasilkan karena teknik itu. Dua judul terakhir, Ikuti Saja dan Alur yang Akur, menyiratkan proses bekerja Ipe. Ia mengikuti alur yang muncul dan mengikuti saja, mengalir dengan rasa harmoni.



•••

162092244828

PAMERAN di Balai Budaya ini mengingatkan bahwa Ipe di awal kariernya pada 1961 pernah mengadakan pameran tunggal di Balai Budaya. Tepatnya pada 23-27 Juli 1961. Balai Budaya untuk itu sesungguhnya adalah sejarah bagi riwayat estetik Ipe. Dalam pameran hampir 60 tahun lalu itu, Ipe menghadirkan karya sketsa hitam-putihnya dan lukisan cat minyak. Dan kecenderungan dua karakter—sketsa dan lukisan—bisa kita raba bila kita membaca resensi yang ditulis Oei Sian Yok pada 2 Agustus 1961 di majalah mingguan Star Weekly. Kritikus seni rupa perempuan itu memuji sketsa dan lukisan Ipe.

Karya Ipe Ma'ruf berjudul Gelisah dalam pameran Jalan Sunyi Sang Maestro di Balai Budaya, Jakarta, Jumat 11 Desember 2020. Tempo/Nurdiansah

Apakah yang sesungguhnya menarik dalam lukisan hitam putih itu? Keseimbangan antara bagian putih dan hitam, irama garis-garis dan bidang-bidang yang dibatasi oleh garis-garis itu dan permainan garis-garis dalam bidang putih… Dan sungguh Ipe Ma’aruf memiliki bakat ini. Obyek-obyeknya ditangkap dengan garis halus, subtil, dan lancar, tak ragu-ragu dan tak terputus. Wajah-wajah dengan berbagai ekspresinya semua diwujudkan dengan garis penanya yang halus serta tepat. Dengan garisnya, itu ia bisa menangkap kemurnian wajah kanak-kanak serta wajah orang-orang tua yang keriput…”

Demikian komentar Oei Sian Yok mengenai sketsa-sketsa Ipe. Sementara itu, mengenai lukisan cat minyak Ipe, Oei Sian Yok menuliskan berikut ini.

“…Selain lukisan-lukisan hitam putih yang menunjukkan sekali kecakapan pelukis muda Ma’aruf, ia juga memamerkan beberapa lukisan cat minyak. Warna-warnanya mencolok, kadang-kadang riang, kadang-kadang juga menimbulkan suasana yang tegang seperti pada (lukisan) Kawanku dengan ungunya. Pada (lukisan) Keluarga Baliku, di bagian kiri terdapat bagian berwarna indah di sekitar pohon pepaya.”

Ipe belajar melukis awalnya di Seniman Indonesia Muda (SIM) di bawah pimpinan Sudjojono. Mungkin anggota SIM yang masih hidup sekarang, selain Srihadi Soedarsono, adalah Ipe. Ipe pernah mencoba berkuliah di jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Tapi mungkin pengalaman yang sangat menempanya adalah saat ia menjadi ilustrator di majalah Si Kuncung. Si Kuncung adalah majalah anak-anak yang didirikan dan dikomandani wartawan Pedoman, Sudjati S.A. Edisi perdana Si Kuncung lahir pada 1 April 1956. Dulu majalah ini berkantor di Jalan Madura Nomor 2, Menteng, Jakarta. Saat mendirikan majalah ini, Sudjati mengajak rekan-rekan wartawan dan sastrawan yang sering menulis di Kisah, Mimbar Indonesia, dan Siasat. Termasuk Soekanto S.A. yang kemudian menjadi motor dan penulis inti Si Kuncung. Menurut penelitian Atika S. Hadi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, pada terbitan tahun pertama dan kedua, Ipe Ma’ruf sudah menjadi ilustrator Si Kuncung.

Agaknya kemampuan menggambar wajah murni anak-anak dan berbagai ragam ekspresi—seperti yang ditulis Oei Sian Yok di atas—sangat bermanfaat bagi Ipe tatkala bekerja di Si Kuncung. Gambarnya bisa memikat anak-anak. Lihatlah cover yang dibuat Ipe pada Si Kuncung edisi nomor 8 Th. XVIII 1975 (dengan harga Rp 100). Seorang anak bermain layang-layang berdesain seekor burung warna-warni. Tubuh burung itu lebih besar daripada tubuh sang anak. Warna dasar cover itu hijau menyala. Tiga anak yang hanya ditonjolkan kepalanya melongo menyaksikan rekannya memiliki layan-layang indah. Dalam Si Kuncung edisi berikutnya, nomor 9 Th. XVIII 1975, Ipe menggambar cover: seorang ibu dan anak perempuan berada dalam sebuah ruangan. Sementara itu, seorang anak laki-laki melongok dari jendela. Lihatlah betapa lembut dan cantiknya kedua perempuan itu. Cover itu didominasi warna cerah. Jingga dan ungu dengan latar biru dan hijau. Betapa pun tidak pernah menghasilkan komik yang dibukukan di Si Kuncung, Ipe pernah menggambar seri komik Anak Rimba yang kisahnya disadur dari karya Rudyard Kipling. Logo yang dibuat Ipe untuk seri ini: seorang bocah merangkul dua serigala.

Dalam pameran di Balai Budaya ini ada satu-dua sosok figur yang ditampilkan. Satu yang menurut saya kuat adalah gambar seorang berjilbab bermotif bunga tengah terpekur atau termangu. Judulnya Melamun. “Mungkin ini juga tekniknya dengan terlebih dulu mengecapkan kertas ke akrilik. Lihat warna bajunya jambon itu, seperti ada berkas-berkas ditempelkan,” ujar Aisul. Satu lagi yang kuat adalah karya hitam-putih berjudul Gelisah. Seorang perempuan dengan satu tangan seperti memilin-milin kalung memalingkan muka ke samping. Matanya redup. Tampak dia seperti kesal atau tengah dalam suasana hati kurang enak.

Ipe Ma'ruf dalam pameran Jalan Sunyi Sang Maestro di Balai Budaya, Jakarta. Dokumen ASTUMUS

Karya Ipe lain yang banyak dipajang adalah karya yang teknik menggambarnya menggunakan media gores tajam, seperti jarum, paku, dan ujung bolpoin. “Dengan menggunakan paku, Pak Ipe sering menggambar di karton-karton tebal, biasanya karton bekas boks. Setelah menggores karton, Pak Ipe kemudian menggosok-gosokkan kertas karbon hitam,” kata Aisul. Teknik demikian menghasilkan garis yang ditorehkan Ipe ke karton yang tadinya tak terlihat menjadi terlihat. Efek gambarnya seperti teknik engraving. Seri karya Ipe dengan teknik ini makin menandakan bahwa Ipe senang bereksperimen dengan materi sederhana. Ia juga menghasilkan gambar dengan korek api yang dinyalakan dan, sebelum panasnya hilang, ketika padam ujung pentul korek langsung digunakan menggambar di kertas.


•••

PAMERAN ini bermakna karena menampilkan sisi lain Ipe. Sisi yang sesungguhnya sejak pameran tunggalnya pada 1961 sudah muncul. Hitam-putih dan lukisan warna-warni. “Untuk sketsa Ipe, kami hendak menerbitkan buku. Buku itu nanti banyak diisi ilustrasi sketsa-sketsa. Ada 15 penulis yang akan menuliskan kesaksiannya,” ujar Aisul Yanto. Mungkin, untuk menangkap utuh kesenimanan Ipe lebih lengkap, semua jenis karya Ipe akan ditampilkan, dari sketsa, vinyet, sampai ilustrasi di Si Kuncung, Kawanku, atau Bobo. Yang juga penting tapi sering dilupakan adalah poster-poster yang pernah dibuat Ipe saat bekerja di Taman Ismail Marzuki. Selama ini, karya poster Ipe tak terdata dengan baik. Adakah ia pernah membuat poster pertunjukan teater atau tari? Juga cover buku sastra? Dari daftar penerbit, misalnya ilustrasi, Ipe pernah menjadi pendesain cover buku sastra karya sastrawan Titi Basino, Nur Sutan Iskandar, sampai L.K. Ara.

Pameran ini diberi judul Jalan Sunyi Seorang Maestro. Memang tepat judul ini. Karya Ipe jauh dari hiruk-pikuk pasar. Sunyi. Tapi ia memiliki dunianya sendiri, seperti sosoknya. Pada usianya yang ke-82 tahun, sebelum masa pandemi setiap Kamis ia masih sering ke Galeri Nasional untuk mengajar sketsa secara gratis. Ia sering kali menggunakan peci hitam dan berkemeja lusuh. Sangat sederhana. Bila kebetulan melihat Ipe berjalan di trotoar, orang-orang sama sekali tak menyangka dia seorang maestro. Di usianya yang sepuh—ke mana-mana tak ingin diantar—dan tak pernah memiliki telepon seluler, susah ditebak ia pergi ke mana. Dalam kesaksian di video yang diputar di Balai Budaya, meski ringkih, ia mengaku daya hidupnya tak padam. “Meskipun sekarang mata saya cepat berair kalau melukis,” ucapnya. 

SENO JOKO SUYONO

Reporter Seno Joko Suyono - profile - https://majalah.tempo.co/profile/seno-joko-suyono?seno-joko-suyono=162092244828


Seni Rupa

Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.