Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Nasirun dalam Sepotong Undangan

Perupa Yogyakarta yang sedang moncer di pasar seni, Nasirun, memamerkan seribu kartu undangan yang dia corat-coret. Merespons warna dan bentuk yang terberikan.

i

Kartu-kartu undangan berbagai pameran seni rupa itu mengalir ke rumah dan studio Nasirun yang asri di kompleks Bayeman Indah, Yogyakarta. Undangan itu dikirim teman-temannya dan berbagai galeri di Yogyakarta, Jakarta, Hong Kong, Singapura, Beijing, dan kota lain.

Nasirun mengumpulkan kartu-kartu itu sejak 1994. Sahabatnya, penyair Afrizal Malna, menjuluki tumpukan kartu itu uwuh (sampah dalam bahasa Jawa). Tapi tangan Nasirun rupanya gatal juga dan suka mencorat-coret sampah itu. Dia melukis dengan cat akrilik berbagai bentuk yang merespons "potret" atau "pemandangan" di kartu itu menjadi suatu karya baru. Kini seribu lembar kartu hasil polesannya itu dipajang dalam pameran "Uwuh Seni" di Galeri Salihara sejak Sabtu dua pekan lalu hingga 25 November mendatang.

Asikin Hasan, kurator pameran, membagi dua ruang pameran. Bagian pertama adalah kartu-kartu yang ditempel di sepanjang dinding galeri. Bagian kedua adalah sebuah "instalasi" di tengah ruang, berupa kaca-kaca dengan kartu-kartu menempel di sana. Kaca ini memungkinkan orang melihat sisi belakang kartu tersebut, yang tak kena coretan.


Proses kerja Nasirun dalam membuatnya begini. Ketika ada undangan, seniman kelahiran Cilacap pada 1 Oktober 1965 itu menetapkan satu tema. Warna dan komposisi pada kartu itu merangsangnya memberi tanggapan tertentu dengan menarik sejumlah garis atau menyapunya dengan warna tertentu. Kadang dia menambahkan apa yang sudah ada, ada kalanya menimpanya dengan sesuatu yang sama sekali lain.

161832938929

Nasirun mengakui bahwa menyesuaikan warna yang ada tidak mudah. Apalagi ia terbiasa melukis pada media besar, bukan kecil-kecil seperti kartu undangan, yang ukurannya kebanyakan sebesar buku atau majalah, kecuali beberapa jenis kartu yang dilipat.

"Ide muncul karena kenangan masa lalu," kata lulusan Jurusan Seni Lukis Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini. Karya itu, baginya, menjadi "wayang", bayangan dari kenangan masa lalunya. Kenangan, bagi Nasirun, adalah pengalaman hidupnya sebagai anak yang dibesarkan ayah yang menganut tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah dan ibu yang menganut Sunda Wiwitan—pengalamannya hidup di pedusunan Cilacap, menonton wayang kulit, jadi pembatik, dan sebagainya.

Pada karya-karya di kartu undangan itu kita masih menemukan berbagai hal yang juga muncul di lukisan-lukisannya, seperti sosok makhluk aneh, figur wayang, burak, sapuan-sapuan yang kasar, warna-warna menyala, dan warna emas. Lukisannya kadang menyatu dengan tema kartu, seperti lukisan tangan merah dengan gambar muka orang di telapaknya yang menimpa undangan pameran S. Teddy D. yang bergambar Mystery of Hand karya Teddy. Tapi lukisannya kadang menutupi seluruh bidang, sehingga jejak undangan terhapus, seperti pada lukisan 2010: 0095 yang bergambar roda bersayap dengan sebuah kepala di sampingnya dan bola api di belakangnya.

Namun, tak seperti sebuah pameran solo dengan tema tertentu, di sini kita temukan banyak tema, obyek, bentuk, dan cerita. Mungkin karena Nasirun merespons undangan ini secara spontan pada suatu waktu, hasilnya bermacam-macam. Masalahnya, mereka tak terjalin dalam satu kesatuan tertentu. Hanya fragmen-fragmen lepas. Judul "Uwuh" untuk pameran ini merujuk pada bahan yang sama seperti "plastik" atau "kardus", misalnya. Ia bukan gagasan, meski bisa ditafsir jadi suatu gagasan tertentu. Mungkin ini hanya sketsa.

Kurniawan, Evieta Fadjar


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832938929



Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.