Pokok dan Tokoh 5/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Peringatan meninggalnya Sujono

Pembukaan selubung dari patung soedjono hoemardani oleh istrinya di gedung csis, jakarta menandai peringatan satu tahun meninggalnya soedjono hoemardani dihadiri para pejabat tinggi negara.

i
ADA gamelan mengalun. Ada seregu pria-wanita membawakan tembang Jawa, Kinanti Subakastawa -- jenis tembang yang biasanya berisikan suasana rawan. Tampak pula kain kuning keemasan menyelubungi patung setinggi sekitar 2 meter. Maka, Kamis malam pekan lalu itu, di lantai bawah gedung CSIS (Pusat Studi Masalah-masalah Strategis & Internasional) di Tanah Abang, Jakarta, terasa tenang tapi angker. Itulah acara peringatan satu tahun meninggalnya Soedjono Hoemardani -- tokoh Orde Baru, bekas asisten pribadi Presiden Soeharto, dan salah seorang pendiri CSIS. Setelah selubung patung karya G. Sidharta, senirupawan yang kini dosen di Seni Rupa ITB -- dibuka oleh Nyonya Soedjono Hoemardani, didampingi seorang putrinya, kembali tembang Jawa dikumandangkan. Hadirin, antara lain Pangab Jenderal L.B. Moerdani, beberapa menteri, sejumlah cendekiawan, dan beberapa pengusaha ternama, misalnya Liem Sioe Liong. Mengapa Soedjono, yang meninggal dalam usia 68 tahun, dipatunkan ? Pidato Harry Tjan Silalahi, salah seorang pimpinan CSIS, menjawab pertanyaan itu. Ketika patung Ali Moertopo, seorang pendiri CSIS yang meninggal terlebih dahulu, dipasang, Soedjono menunjuk ruang kosong di sebelah patung. "Lha yang sebelah sini masih kosong," kata Soedjono, menurut Harry Tjan. Bagi yang peka kepada isyarat, kata Harry pula, kata-kata itu merupakan kehendak Almarhum. Almarhum Soedjono memang tokoh yang khas, dengan rambut gondrong dan wajah yang seperti selalu prihatin, kurang tidur. Ia memang dikenal bersungguh-sungguh menghayati kejawen. Diceritakan oleh Harry Tjan, dalam buku untuk mengenangnya, yang malam itu dibagikan, Almarhum sudah menerima isyarat setengah tahun sebelum ia meninggal. Pada 15 September 1985, ketika Almarhum melakukan semadi bersama di Candi Trowulan, Jawa Timur, konon, Pak Djono mendapat perintah untuk mayangkara -- kata ini bisa berarti keliling dunia, tapi bisa juga memisah rohani dari jasmani. Dan makna kedua itulah tampaknya yang dimaksudkan. Di Tokyo, 12 Maret 1986, Soedjono Hoemardani meninggal.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161820159466



Pokok dan Tokoh 5/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.