Selingan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Matinya si naga kecil

Sekilas tentang aktor kung fu hong kong, bruce li. kematiannya masih mengundang teka-teki. sukses, yang mengakibatkan pergeseran gaya hidup, awal kebangkrutan bruce li.

i
SEPULUH Mei 1973. Jam baru menunjukkan pukul 17.00. Sebuah ambulans meraung-raung di Kowloon Tong Street, di pinggiran Kota Hong Kong. Begitu tiba di depan Rumah Sakit Baptist, dari pintu belakang dua perawat bergegas turun, sambil mendorong kereta dengan hati-hati sekali. Terbaring di kereta adalah Bruce Lee, si Raja Kungfu. Jagoan yang suka bersiut sebelum menyarangkan tendangan ke dada lawan itu tengah sekarat. Napasnya tersengal-sengal. Pandangan matanya kosong. Wajahnya pucat. Ia sudah begitu lemah -- bahkan mengangkat telapak tangannya sendiri pun ia tidak sanggup. Di ruang tunggu, Bruce Lee disambut oleh Dokter Langford -- dokter yang tak cuma dokter, tapi juga merangkap sebagai pastor rumah sakit. Dan bagi Bruce Lee, dokter asal Tennessee, Amerika Serikat, ini bukanlah sekadar dokter pribadi. Ia satu-satunya orang kepercayaan Bruce Lee. Bagi Langford, kehadiran Bruce Lee di rumah sakit dalam keadaan seperti itu bukanlah untuk yang pertama kali. Setiap habis shooting, si Raja Kungfu itu kerap terluka, terkadang cukup berat. Tangan sobek, kaki keseleo, tubuh terbakar sudah menjadi bagian dari hidup Bruce Lee. Dan setiap kali mengalami kecelakaan, Dokter Langford-lah yang merawatnya. Kendati sudah lama mengenal Bruce Lee, setiap kali berhadapan dengan si Raja Kungfu, Dokter Langford selalu merasa "ngeri". Setelah lama mengamati pasiennya, akhirnya dokter itu mengambil kesimpulan, Bruce Lee menderita penyakit histeris. Setiap kali datang berkonsultasi, Bruce Lee selalu mengalami kesulitan untuk menerangkan yang terjadi pada dirinya. Untuk menunjukkan kecelakaan yang dialaminya, ia sering bersikeras memboyong teman-teman shooting-nya ke depan Langford. Sebagai ganti tutur kata, pasien ini merekonstruksikan adegan yang baru saja dilakukannya. Tentu saja Dokter Langford keberatan. Selain khawatir fans Bruce Lee tumplek di rumah sakit, ia juga takut menjadi korban lemparan benda tajam yang nyasar. Dengan sabar Langford berusaha meyakinkan Bruce Lee bahwa semua itu tak diperlukannya. Toh terkadang ia tak kuasa melarang Bruce Lee memperagakan seorang diri adegan yang baru saja dilakukannya, yang menyebabkan ia terluka. Biasanya, setelah itu, si Raja Kungfu lalu berteriak-teriak bersumpah akan mengirim ke neraka orang yang menyebabkan dirinya terluka. Tapi sore itu yang terjadi lain dari biasanya. Ketika tiba di rumah sakit, Bruce Lee sudah tidak bisa sesumbar lagi. Menurut keempat orang temannya yang mengantarkannya, selagi Bruce Lee bekerja di Studio Golden Harvest -- salah satu perusahaan film di Hong Kong yang banyak menghasilkan film kungfu -- tiba-tiba saja ia jatuh pingsan. Ia segera diangkut ke rumah sakit, tapi kondisi tubuh jago silat itu memburuk dengan cepat. Napasnya terputus-putus. Tekanan darahnya rendah sekali. Daya refleksnya, yang dipuji semua orang, lenyap. Ia seperti terserang demam yang sangat hebat. Sekujur tubuhnya berkeringat. Gejala-gejala yang biasanya menunjukkan penderita mengalami serangan jantung, atau penyakit traumatis. Menurut Dokter Langford, yang lama berpraktek di Asia, gejala seperti itu sering dialami oleh anak-anak muda Cina yang mengalami penyakit turunan: kelainan pada dinding jantungnya, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan luka, bahkan pendarahan di otak. Melihat keadaan Bruce Lee seperti itu, Dokter Langford tidak berani bertindak sendirian. Sementara itu, para suster yang merawat Bruce Lee juga cemas. Suatu sikap yang umum di kalangan perawat Cina bila kebagian pasien orang terkenal yang berada dalam keadaan kritis. Soalnya, mereka takut dijadikan kambing hitam bila sang pasien sampai meninggal. Untuk itulah Dokter Langford merasa perlu memanggil Dokter Cecilia Wong, ahli anestesia, dan Dokter Peter Wu, spesialis otak. Yang pertama kali dilakukan oleh Langford ialah memasang selang pernapasan pada leher Bruce Lee. Kemudian ia menyuntikkan glukose. Setelah itu, giliran Dokter Wu mengadakan pemeriksaan. Kesimpulan dia, Bruce Lee tidak terkena pendarahan melainkan mengalami pembengkakan otak. Dan itu sangat membahayakan dinding tulang tengkoraknya. Dalam kasus begini, biasanya para dokter menggunakan zat deshydratant, atau manitol, sejenis zat yang mampu merangsang si penderita terus-menerus buang air kecil, sehingga memungkinkan kokain yang terdapat di dalam tubuhnya ikut terbuang. Tapi untuk pasien yang tidak sadarkan diri, manitol justru bisa sangat berbahaya -- karena dapat menyebabkan kandung kemih pecah. Untuk mengatasi itu, Dokter Langford memasangkan pipa kecil pada penis Bruce Lee. Pada operasi yang berjalan mulus itu, Bruce Lee mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan: ia meraba-raba tangan Dokter Langford. Selesai operasi, kesadaran Bruce Lee semakin jelas. Tangannya mulai gerayangan pada meja operasi. Tapi bukan kegembiraan yang lalu dirasakan Langford. Ia justru ketakutan setengah mati. Dokter ini ingat betul ketika merawat seorang akrobat Jepang yang menderita shock. Ketika itu, ia memeriksa mata pasiennya dengan senter. Tiba-tiba saja pasien itu melompat dari tempat tidur, dan membuat gerakan menendang ke arahnya. Beberapa jam setelah operasi, Bruce Lee, "Mula-mula membuka matanya," tutur Dokter Langford. Ia mulai bisa mengenali istrinya, Linda. Ia mencoba mengucapkan beberapa patah kata. Tapi gerakan bibirnya seperti orang berkumur saja. Meski telah bisa menggerak-gerakkan tangannya, tampaknya ia belum mampu bersuara. Tak lama kemudian, Bruce Lee dipindahkan ke Santa Theresa Hospital. Menurut Dokter Wu, yang kemudian menanganinya, Bruce Lee sudah bisa mengingat-ingat kecelakaan yang menimpa dirinya. Malah ia juga berusaha tersenyum. Keesokan harinya, keadaan Bruce Lee sudah lebih maju. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, Dokter Wu menyimpulkan, Bruce Lee terkena pengaruh narkotik dalam dosis tinggi. Keesokan harinya, Wu menanyakan soal narkotik itu. Didampingi sang istri yang setia menunggu, Bruce Lee membenarkan kesimpulan Dokter Wu. Lalu, sang jagoan menuturkan jurus-jurus "musuh" yang membuat dia terkapar. Ketika itu, tuturnya, ia sedang mengalami depresi hebat. Sehabis makan siang, ia pergi ke kamar kecil, dan dengan sembunyi-sembunyi ia mengunyah sepotong hasis. Sudah lama, sebenarnya, Bruce Lee punya kebiasaan mengunyah hasis yang dibelinya dari Katmandu. Celaka, siang itu bukannya ia merasa menjadi segar seperti biasanya bila habis mengunyah candu. Yang terjadi malah sebaliknya. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas, dan ia segera ambruk, persis menimpa pintu sehingga terbuka. Kepada teman-temannya yang datang menolong, Bruce Lee masih sempat berbohong, "Saya sedang mencari kaca mata." Kepada Wu, Bruce Lee memberikan contoh hasis yang biasa dikunyahnya. Ia mengaku pertama kali mengenal hasis dari aktor Amerika terkenal, Steve McQueen, yang kini telah mendiang. Menurut Bruce Lee, Steve McQueen mengiming-iminginya dengan mengatakan, hasis tidak begitu berbahaya dibandingkan dengan jenis narkotik yang lain. Kebetulan, ketika itu, Bruce Lee memang sedang menghadapi banyak masalah. Ia sedang merencanakan proyek besar dengan Carlo Ponti. Jagoan kungfu itu sudah membayangkan, sebentar lagi, ia akan menjadi aktor paling mahal di dunia. Selama ini Bruce Lee mengerjakan segala-galanya untuk filmnya: ya, skenarionya, ya, penyutradaraannya. Dan, tentu saja, ia pun membintangi sendiri film itu. Kepada Dokter Wu, belakangan Bruce Lee mengakui, karena hasis dirinya sering menjadi hipersensitif dan alergis. "Tapi mengapa Anda tidak berhenti memakainya?" tanya Wu. Bruce Lee diam sejenak. Matanya menerawang. Kemudian ia menjawab, dan kata-katanya ini memang pantas diukirkan pada batu nisannya: "Memang, benda itulah satu-satunya yang menghentikan jarum jam." * * * "Sejak kecil, ia memang penuh dengan energi. Ia tidak bisa melakukan sesuatu tanpa banyak omong atau bergerak ke sana kemari seperti badut," tulis Linda, istrinya, tentang masa kanak-kanak suaminya. Itu dibenarkan oleh kakak Bruce Lee, Peter, yang kini bekerja di The Hong Kong Observatoire. Di dalam keluarga mereka, Bruce Lee dijuluki "Si anak yang tidak pernah duduk". Seperti kebanyakan anak yang hiperaktif, Bruce Lee juga mengalami kesulitan di sekolah. Kendati ia cukup pintar dan termasuk pecinta buku, ia tidak pernah bisa beajar dengan baik. Ia meninggalkan sekolahnya tanpa memperoleh diploma apa pun, pada usia 18 tahun. Ketika itu, ia baru kelas IV. Berbeda dengan kehidupan di sekolah, dalam kesehariannya Bruce Lee cepat sekali tanggap, apalagi kalau disuruh mempertunjukkan sesuatu. Sekali saja diberi contoh, ia langsung bisa menirukannya dengan baik. Itu semua dipupuk jauh sebelum ia menjadi jago silat. Ia sebenarnya anak yang dilahirkan di dunia panggung. Ayahnya pemain komedi terkenal di Opera Kanton. Sejak bayi, Bruce Lee sudah sering didandani seperti badut, kemudian dipotret. Linda banyak menyimpan foto Bruce Lee dalam berbagai pose lucu ketika masih berusia 3 bulan. Pada usia sekolah, ia sudah ikut manggung bersama ayahnyaa. Ia antara lain pernah memerankan anak yatim piatu, anak pedagang, anak pelarian penjara, dan anak nakal. Pada usia 18, ia sudah memerankan lebih dari 20 film, dengan nama samaran "Si Naga Kecil". Bagi Bruce Lee muda, dunia layar film dan kenyataan sehari-hari sering tak dibedakannya. Umpamanya, di restoran atau di jalan-jalan, ia sering memperagakan kejagoannya. Dan itu sungguh mencemaskan teman-temannya. Sekali waktu ia datang ke tempat teman-temannya mangkal, dan tiba-tiba menyabetkan ikat pinggangnya, yang menyambar hanya beberapa milimeter dari mata salah seorang di antara teman-teman itu. Atau kadang-kadang, tiba-tiba saja, si Raja Kungfu mendemonstrasikan tendangan kakinya 3-4 kali dengan kecepatan luar biasa. Sasarannya, salah seorang wajah teman. Maka, yang terkena giliran akan segera pucat pasi, karena hawa tendangan yang menyapu wajah, sementara antara sepatu Bruce Lee dan wajah itu cuma terpisah beberapa milimeter. Lain kali, ini tergolong yang tak berbahaya bagi keselamatan orang lain, ia mengajak teman-temannya "adu cepat" mengambil sekeping uang di telapak tangannya. Sekali dua kali, biasanya, Bruce Lee membiarkan teman-temannya menang. Tapi untuk ketiga kali dan seterusnya, ia selalu lebih cepat menutup telapak tangannya. Tak hanya itu. Bila berkenalan dengan seseorang, Bruce Lee pun sering bersikap aneh, tidak cukup hanya dengan jabat tangan. Ia minta agar teman baru itu memukul perutnya keras-keras. Bagaimanapun kerasnya, ia tidak pernah merasa sakit. "Ini baru otot," katanya bangga. Sebenarnya, sejak meningkat puber, Bruce Lee mulai tidak disukai orangtua serta gurunya. Anak muda yang bercita-cita menjadi dokter itu membentuk sebuah gang yang terdiri dari anak-anak malas. Kerja mereka berkelahi di jalan-jalan dan di atap-atap rumah. "Saya menjadi tukang pukul kecil-kecilan," kata Bruce Lee kepada majalah Black Belt, 1966. "Kami ramai-ramai mencari anak-anak yang suka bikin rusuh, dengan bersenjatakan rantai sepeda dan pulpen yang berisikan pisau kecil," tuturnya. Dan inilah awal ketenarannya. Ketika itu, pada suatu hari, ia berpikir bagaimana seandainya dia sendiri yang dikeroyok. Lalu ia pun ia belajar kungfu, dan ternyata anak panggung ini sangat berbakat. Di sekolah kungfu, tetap saja ia jadi biang kerok. Bruce Lee menjadi pemimpin gang, yang kerjanya meneror murid-murid lain. Dalam waktu singkat, gang Bruce ini segera terkenal di sekolah kungfu di sekitarnya. Dan akibatnya mudah ditebak: perang tanding antara pemimpin gang-gang itu. Dan siapa lagi bila bukan si Bruce Lee yang tak pernah dikalahkan. Bruce Lee paling suka melawan anak-anak sekolah kungfu yang keturunan Inggris. Mereka ini dijulukinya "Setan Putih". Ketidaksukaannya terhadap orang kulit putih memang tercermin di dalam film-filmnya. Tokoh yang diperankannya selalu mempunyai musuh orang Barat, dan yang selalu kalah. Itu memang merupakan tandingan atas film-film James Bond yang tidak disukainya, yang sering diejeknya. Tokoh spion Inggris itu dinilainya rasialis, karena jagoan bule itu selalu berhasil mengalahkan baik orang kulit hitam, kuning, maupun Yahudi. Sikap itulah yang menyebabkan Bruce Lee, di Hong Kong, dijuluki "Pembela orang Cina". Perkelahian antar-gang yang diprakarsai oleh Bruce Lee pada gilirannya menyebabkan dua kekuatan yang menguasai Hong Kong menjadi sebal: polisi, dan mafia lokal atau populer disebut Triad. Pada suatu hari, Henry Pang, salah seorang pemimpin mafia di Hong Kong, mengajak tamunya makan malam di Gedung Putih, sebuah tempat suci yang terlarang untuk anak muda. Tiba-tiba, Bruce Lee masuk, mengitari meja makan mereka sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya menuju ke sebuah kabin telepon di pojok ruang makan. Rupanya, ketika itu, Bruce Lee sedang dalam bahaya besar. Di luar, sekelompok bajingan bersenjatakan pisau dan besi siap mengeroyoknya. Dengan masuk ke Gedung Putih, yang merupakan sarang Henry Pang -- yang memang dikenalnya -- Bruce Lee berharap para pengeroyoknya menjadi takut. Celaka, ia salah duga. Oleh si bos, Henry Pang (dalam beberapa film tentang mafia Hong Kong, tokoh ini pernah diperankan oleh James Stewart dan Burt Lancaster), Bruce Lee malah dilemparkan ke luar. Kali ini rupanya Bruce Lee pun salah duga, tapi menguntungkan dirinya. Ternyata, gerombolan pembawa pisau itu tak ingin mengeroyoknya beramai-ramai. Mereka menantang duel. Tentu saja, akhirnya Bruce Lee-lah yang menang. Lawannya mengalami luka berat: kedua belah tangannya patah, dan sebelah kakinya keseleo. Bruce Lee sendiri akhirnya digiring ke kantor polisi. Bagi polisi, Bruce Lee bukan orang baru. Ia sudah langanan tetap. Dan kali ini polisi berniat memberi pelajaran agar ia jera. Tapi lagi-lagi ibu Bruce Lee datang, merengek-rengek kepada polisi agar anaknya dibebaskan. Mungkin rayuan ibu yang hidup dalam dunia panggung itu begitu meruntuhkan belas, akhirnya polisi setuju melepaskan Bruce Lee, dengan perjanjian. Sekali lagi ia membikin rusuh, ibunyalah yang akan dimasukkan ke dalam penjara. Sesudah kejadian terakhir itu, rupanya, ibu Bruce Lee telah merencanakan sesuatu. Suatu hari ia memberikan US$ 10 kepada si biang kerok, dan dengan bekal tersebut disuruhnya Bruce Lee merantau ke AS. Di Los Angeles, Bruce Lee ketemu jodoh. Linda Emery, gadis centil berusia 19 tahun, yang sering berkaca mata untuk menutupi pipinya yang kemerah-merahan, sungguh memikat si jago kungfu. Linda sendiri, yang kehilangan ayahnya pada usia 5 tahun, merasa bahagia sekali mendapatkan suami yang dominan. Dan bagaikan kebanyakan orang Jepang, ia menjadi istri yang sangat penurut. Begitu tunduknya, sampai-sampai Bruce Lee memujinya, "Ia jauh lebih baik daripada wanita di negara saya sendiri." Di Los Angeles, Bruce Lee boleh dikata benar-benar hidup dari dan untuk kungfu. Di samping rajin berlatih silat, ia pun sering membintangi film serial di televisi memerankan seorang jago silat. Dan yang terpenting, anak Hong Kong ini membuka perguruan kungfu -- konon, ini termasuk perguruan kungfu pertama di AS. Di antara murid-muridnya terdapat sejumlah bintang film terkenal: Steve McQueen, James Coburn, Karem Abdul-Jabbar (bekas pemimpin basket yang kemudian menjadi aktor). Berkat perguruan ini pula ia bisa berkenalan dengan para bos perusahaan film ternama, antara lain Warner Bros dan Paramount. Tapi untuk masuk ke dalam lingkaran Hollywood, bagi Bruce Lee tidaklah gampang. Stasiun televisi ABC pernah menolaknya untuk menjadi pemeran utama sebuah film silat. Alasan pihak ABC sungguh unik, "Sepanjang sejarah perfilman Hollywood, belum pernah ada aktor Cina yang tingginya cuma 160 cm menjadi bintang tenar." Akhirnya, oleh salah seorang muridnya, Stirling Sillipant, seorang sutradara film, Bruce Lee ditawari membintangi sebuah film seri televisi, Longstreet. Tak begitu sulit bagi Bruce Lee untuk memerankan tokoh ceritanya. Soalnya, antara tokoh dalam film dan dirinya banyak persamaan: guru silat ini pun memerankan seorang guru silat. Apalagi Sillipant berusaha membuat segalanya mendekati kehidupan Bruce Lee sehari-hari yang sebenarnya. Misalnya ruang latihan di dalam film itu dibuat persis dengan ruang latihan milik Bruce Lee. Begitu pula dengan segala peralatan yang ada, serta musik yang sering dikumandangkan di ruangan itu. Bila Anda sampai sekarang belum pernah mendengar ihwal film seri ini, memang hasil karya Sillipant tidak sukses. Sukses baru datang berikutnya, bukan dari AS, tapi dari kampung Bruce Lee sendiri, Hong Kong. Mula-mula, perusahaan film Run Run Shaw menawari si Raja Kungfu kontrak lima tahun dengan bayaran US$ 500 per bulan. Meski belum menjadi bintang tenar, tawaran ini bagi Bruce Lee terdengar seperti penghinaan. Maka, begitu mendengar Golden Harvest, saingan Run Run Shaw di Hong Kong, mencari bintang kungfu, Bruce Lee segera menghubungi Raymond Chow, Direktur Harvest. Nasib sedang mujur, ia langsung diterima. Singkat cerita, gebrakan besar Bruce Lee pertama ini segera dibuat di sebuah dusun di Bangkok, dengan biaya US$ 24.000. Aktor silat baru ini sendiri dibayar US$ 7.500, honorarium lumayan tinggi bagi seorang pendatang baru di layar putih dari layar televisi waktu itu. Dan The Big Boss, judul film ini, sukses besar. Bruce Lee pun terorbit. Bruce Lee seakan hidup kembali. Kehausan masyarakat Cina akan film bertemakan kekerasan yang diwarnai darah benar-benar dimanfaatkan Bruce Lee. Ia pun mulai memikirkan jurus-jurus silat yang, meski untuk perkelahian sebenarnya tak berguna, asyik ditonton di layar perak. Di sisi lain, sukses membawa pula perubahan pada diri laki-laki yang di masa mudanya dijuluki Naga Kecil ini. Bruce Lee mulai merokok dan menenggak minuman keras. Penampilannya juga berubah. Ia suka berpakaian necis, dengan setelan kebarat-baratan, dengan kaca mata hitam, dan arloji Patek-Phillipe. Tak cuma itu. Kepribadiannya pun bergeser. Misalnya, bila salah seorang temannya menawarinya main film, ia segera menyahut dengan angkuh, "Saya tidak yakin kalian mampu membayar saya." Bahkan tawaran kedua dari Stirling Sillipant sutradara yang boleh dikata pertama kali membawa si Naga Kecil ke dunia film yang agak berarti -- ia tolak. Tak jelas bagaimana upaya Silliphant kemudian, tapi akhirnya Bruce Lee mau juga berperan dalam The Iron Circle, bersama David Carradine. * * * Sukses, yang kemudian membawa perubahan watak yang mengakibatkan pula pergeseran gaya hidup, tampaknya menjadi awal kebangkrutan si Raja Kungfu. Siapa pun yang melihat Bruce Lee pada saat menjelang ajalnya pasti sependapat: tubuh guru silat ini sudah habis-habisan. Berat badannya di saat-saat terakhir tak lebih dari 54 kg. "Kamu sudah terlalu kurus, dan kekuatanmu sudah hilang," kata Danny Inosanto, salah seorang pelayannya, suatu saat. "Kekuatanku?" teriak Bruce Lee penuh amarah. "Ini!" katanya sambil meninju dada Danny. Pelayan itu pun tersungkur di pojok ruangan. Danny sebenarnya berbicara tentang kenyataan. Beberapa bulan sebelum meninggal, Bruce Lee tidak pernah berlatih lagi. Ia tinggalkan 10 km lari pagi dan senamnya. Juga olah raga angkat besinya. Dan yang paling mengherankan banyak orang, guru kungfu itu menghentikan pula latihan silatnya. Padahal, sebuah ruang olah raga komplet dengan peralatan silat, yang dibuatnya sendiri sesuai dengan ukuran tubuhnya, telah ia bangun di rumahnya. Menjelang maut menjemput, Bruce Lee lebih banyak mengurung diri di kantornya, di lantai dua. Ia menghabiskan waktunya untuk menelepon, membuat corat-coret skenario, atau ngobrol dengan teman-temannya. Ada yang disembunyikan oleh si Naga Kecil, sebenarnya. Ia mengidap paranoia. Itu sebabnya ia sering mengurung diri di rumahnya yang bergaya Jepang. Di salah satu bagian rumah yang bertingkat dua itu terdapat sebuah jembatan gantung. Di situ Bruce Lee sering membayangkan dirinya dikeroyok musuh-musuhnya, dan ia menang. Di dalam film, memang Bruce Lee dengan gagah menghadapi lawan-lawannya yang bersenjata dengan tangan kosong. Tapi, dalam hidup sehari-hari, guru silat ini sebenarnya tak begitu percaya kepada kemampuan kungfu tangan kosongnya. Ia selalu menyembunyikan berbagai senjata pada tubuhnya, berjaga-jaga bila benar-benar ketemu musuh. * * * Di balik ketenarannya, hidup Bruce Lee memang mengandung banyak hal yang sulit untuk dipuji. Salah satunya, ia orang yang sangat tak tahan terhadap kritik dan perbedaan pendapat. Ketika The Fury of the Dragon, satu-satunya film yang ditulis dan disutradarai oleh Bruce Lee sendiri, beredar, seorang wartawan menulis kritik di majalah The Bruce Lee Fans Club. "Bruce Lee sudah kehilangan kematangannya untuk menyutradarai sebuah film," tulis Wong, wartawan itu. Bruce Lee marah besar. Ia memanggil Wong untuk menemuinya di ruang kantor bos Golden Harvest. Begitu sang wartawan datang, Bruce Lee menyuruhnya duduk. Dengan mata berbinar-binar, dan gigi gemeretak menahan amarah, Bruce Lee menyebut, "Pena yang Anda goreskan tak jauh berbeda dengan pisau atau revolver. Sekali Anda salah menggoreskannya, itu bisa melukai orang lain, bahkan membuatnya mati," kata Bruce Lee sambil membuka ikat pinggangnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil, yang kemudian diarahkan pada pembuluh nadi tangan kanan Wong. "Pisau saya seperti pena Anda. Sebuah kritik bisa sangat menyakitkan." Bruce Lee memang tidak sampai melukai Wong wartawan yang sebenarnya dikenalnya baik secara pribadi. Tapi Wong benar-benar terteror. Sambil bersedekap, dan minta maaf, Wong menjelaskan, kritiknya itu sebenarnya bermaksud membangun. Sementara itu, Raymond Chow, Direktur Harvest, yang sejak tadi menyaksikan adegan itu, cuma bisa melongo. Setelah puas meneror Wong, Bruce Lee keluar dari kantor Chow sambil membanting pintu keras-keras, sehingga engselnya copot. Seperti kebanyakan anak dari keluarga Cina, Bruce Lee dibesarkan di dalam lingkungan yang ketat. Seks merupakan hal yang tabu di dalam keluarganya. Delapan tahun setelah menikah dengan Linda, Bruce Lee, dalam usia 32, seakan-akan lepas dari kendali. Ia berubah menjadi seorang playboy, yang tak malu-malu lagi main cinta dengan banyak wanita. Hari ini ia jalan dengan seorang aktris film. Besoknya ia gandengan dengan seorang peragawati. Lalu, foto-foto mereka pun muncul di koran-koran dan majalah. Dan kalau sudah begitu, Bruce Lee marah besar. Ia segera mendatangi kantor penerbitan yang memuat fotonya, minta dipertemukan dengan penanggung jawabnya. Di depan redaktur media cetak itu, Bruce Lee tak segan-segan memukul fotografer yang memotretnya. Atau, setidaknya, kamera si juru foto direnggutnya, lalu dibanting di situ juga. Pembawaan Bruce Lee yang eksplosif ini biasanya dimaklumi oleh rekan-rekan sekerjanya. Kebanyakan di antara mereka tidak mau cari penyakit. Mereka lebih suka menyerah dan mengikuti apa maunya sang jagoan. Repotnya, dalam pembuatan film, kadang-kadang Bruce Lee sendiri yang tidak berhati-hati, dan mendapat kecelakaan karenanya. Tapi tetap saja lawan mainnyalah yang disalahkannya, malah diam-diam ia sering mengancam akan membalas. Hal ini pernah dialami oleh Bob Wall, lawan mainnya dalam Enter the Dragon, film Bruce Lee yang paling sukses. Seperti yang pernah Anda lihat, Wall dalam film itu berperan sebagai bandit. Dalam sebuah adegan, ia mengejar Bruce Lee sambil menggenggam dua botol kosong. Seperti sudah ditulis dalam skenario, Bruce Lee lalu membuat gerakan memutar tubuh sambil menendang tangan Wall. Tepat, sabetan kaki itu memecahkan botol. Celakanya, tangan Bruce Lee pun ikut bereaksi, memukul pecahan botol sehingga luka cukup parah. Ketika itu, Wall langsung minta maaf, dan mengantarkannya ke Dokter Langford. Tapi belakangan terdengar desas-desus bahwa Bruce Lee ingin membunuh Bob Wall karena dendam. Wall tentu saja tidak tenang mendengar kabar burung itu. Ia segera menemui produsernya, Fred Weintraub. Mereka kemudian mencari pemecahannya: membiarkan Bruce Lee melampiaskan amarahnya dalam sebuah adegan yang difilmkan. Mula-mula Bruce Lee menyangkal keras bahwa ia mendendam terhadap Wall. Tapi Wall meminta dengan sangat agar si jagoan menumpahkan amarahnya, untuk menghapus desas-desus yang semakin santer. Akhirnya, Bruce Lee setuju. Begitu adegan itu disiapkan, Bruce Lee berteriak-teriak bahwa ia akan membunuh lawan mainnya. "Saya akan memberinya pukulan yang sangat keras yang helum pernah dirasakannya," teriaknya. Wall pun menyambut tantangan itu, ia juga bisa memukul dengan pukulan telak. Tiba-tiba, Bruce Lee menyerangnya dengan jurus yang sangat berbahaya: satu tendangan kaki kari yang begitu cepat bak sabetan ekor naga, karenanya mengandung tenaga yang luar biasa. Seorang figuran, yang tertabrak Wall sebelum jatuh, patah tangannya. Dan begitu Wall jatuh telentang, Bruce Lee melompat, mendarat di samping tubuh lawannya, kemudian delapan pukulan ia sarangkan tepat pada perut lawan. Wall mana sempat menangkis atau mengelak. Ia cuma bisa berteriak-teriak kesakitan. Untung, segera segenap awak film menghentikan adegan pura-pura tapi sebenarnya ini. Bruce Lee tampak puas melihat luka memar pada perut Wall. Dan lucunya, sejak itu, mereka bertambah akrab. Keakraban itulah yang membuat Wall bisa bercerita tentang hasis. Menurut dia, hasis bagi Bruce Lee adalah "makanan yang paling enak di dunia". Si Raja Kungfu menikmati hasis dengan cara memakannya dengan biskuit atau kue. Wall pernah ditawari Bruce Lee campuran biskuit dan hasis. "Saya menolak, dan saya perhatikan dalam 10 menit ia menelan 3-4 potong biskuit berhasis," tutur Wall. Berkat Wall pula reaksi hasis terhadap Bruce Lee diketahui. Satu jam setelah menelan biskuit berhasis, Bruce Lee bangkit dari kelesuannya. Seperti orang kesetanan, ia bicara cepat sekali, kemudian mendemonstrasikan jurus-jurus kungfu sambil melepaskan pakaiannya. Menurut Wall, "jurus-jurus hasis" Bruce Lee memang luar biasa: cepat, tak terduga, dan indah -- mungkin mirip jurus "dewa mabuk". Tak lama kemudian, si "dewa mabuk" kembali loyo. Bahkan menggerakkan bibirnya pun ia tidak bisa. Tatapan matanya sayu, seperti orang mau tidur. Kemudian ia pingsan. * * * Hingga terbitnya buku biografi Bruce Lee yang ditulis Linda, istrinya, penyebab kematian si Raja Kungfu tetap misterius. Sementara itu, disebut-sebut pula soal skandal si Raja Kungfu ini dengan bintang seks asal Taiwan yang tinggal di Hong Kong, Betty Ting-pei. Menurut buku Linda, pada 20 Juli 1973 suaminya bertamu ke apartemen Betty Ting-pei. Mereka berdiskusi dengan Raymond Chow untuk membicarakan rencana pembuatan film Game of the Death yang melibat Betty. Di tengah diskusi, Bruce Lee mengeluh bahwa kepalanya terasa sakit yang amat sangat. Diskusi dihentikan, Bruce Lee berbaring di kamar tidur Betty. Chow pulang, dan berjanji akan melanjutkan pembicaraan sore harinya. Ketika Chow pulang, Betty panik karena Bruce Lee tidak kunjung bangun kendati tubuhnya sudah diguncang-guncangkan. Chow yang dipanggil segera datang kembali, dan menemukan Bruce Lee dalam keadaan koma. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi begitu tiba di depan Rumah Sakit Queen Elizabeth, Bruce Lee mengembuskan napasnya yang terakhir. Lain lagi cerita Bob Wall, salah seorang sobat akrab si Naga kecil di bulan-bulan terakhir hidupnya. Wall tahu betul, belakangan Bruce Lee rajin nengunjungi Betty di apartemennya. Aktris muda merupakan simbol seks Hong Kong yang paling eksplosif. Dan bukan rahasia lagi, setiap orang berduit selalu berusaha mengajaknya kencan. Kepada Betty, Bruce Lee sudah berjanji akan memberikan peranan yang cukup penting di dalam film yang akan dibuatnya untuk mengangkat karier si bintang seks. Pada hari kematian itu, menurut Wall, Bruce Lee tiba di "Sarang Bercinta" -- begitu sebutan apartenen mewah Betty yang tak jauh dari rumah Bruce Lee -- sekitar pukul 15.00. Mungkin siang itu mereka bercinta, mungkin tidak. Yang jelas, setelah makan, seperti biasanya, Bruce Lee lalu menelan biskuit berhasis. Pada saat itulah ia mengeluh sakit kepala. Betty, karena tak punya persediaan obat di rumahnya, lalu pergi ke toko obat. Ia pulang membawa Equagesic dan sebutir tablet, lalu ditelan oleh Bruce Lee. Sore itu, menurut Wall, seharusnya Bruce Lee bertemu dengan Raymond Chow. Lantaran sakit kepala, ia minta Chow menyusul saja ke apartemen Betty. Chow datang pukul 21.30. Mereka berdiskusi cuma sebentar. "Saya harus tidur," kata Bruce Lee sambil beranjak ke kamar Betty. Chow kemudian melanjutkan pembicaraan dengan Betty selama 20 menit. Setelah itu, bersama-sama, mereka menengok Bruce Lee. Yang mereka saksikan, aktor silat ini terbujur tak sadarkan diri. Setelah tidak berhasil menelepon rumah sakit untuk minta pertolongan pertama, Betty memangil dokter pribadinya. Sebenarnya, dokter pribadi Bruce Lee, Langford, tinggal hanya beberapa ratus meter dari apartemen Betty. Karena takut timbul skandal, Chow tidak menelepon dia. Dokter pribadi Betty pun gagal menyadarkan yang koma. Akhirnya, ia memanggil ambulans. Bruce Lee dilarikan ke pavilyun gawat Queen ELizabeth Hospital. Menurut pengakuan suster yang membawa Bruce Lee dari apartemen Betty, ketika tiba di rumah sakit, pasiennya itu sudah tidak bernyawa lagi. Kemudian tersiar berbagai versi tentang kematian Bruce Lee, aktor silat yang waktu itu menjadi idola remaja. Pertama, disebutkan Bruce Lee mengalami serangan jantung selagi berjalan-jalan dengan istrinya di taman. Jelas, berita ini dilansir oleh produser film Operation of the Dragon, yang ingin menghindari skandal Lee-Betty, yang bisa membahayakan pemasaran film itu. Namun, pada hari pemakaman Bruce Lee, koran-koran dengan jelas menyebutkan: : Bruce Lee meninggal di apartemen Betty. Betty sendiri mencoba menghindar. Ia mencoba mencari alibi bahwa pada siang kematian aktor tersebut ia sedang berjalan-jalan bersama ibunya. Para tetangga yang memberikan kesaksian membantah alibi si bintang seks: sudah 3 bulan belakangan itu Bruce Lee sering datang ke apartemen Betty. Malah mereka hafal betul: Bruce Lee sering memarkir Mercedes merahnya tak jauh dari apartemen Betty sampai pukul 20.00. Sementara itu, berdasarkan hasil otopsi disimpulkan, otak Bruce Lee mengalami pembengkakan lantaran penuh dengan cairan. Di dalam perutnya ditemukan sisa-sisa ganja. Pada usus kecilnya ada bekas obat Equagesic. Itu semua berarti, Bruce Lee meninggal secara tidak wajar -- bukan lantaran penyakit yang sudah menahun dideritanya. Tak pelak lagi, berbagai versi lain tentang sebab kematian itu bermunculan. Ada yang menulis, Bruce Lee dihabisi oleh Triad, mafia Cina. Yang lain menyuguhkan cerita bahwa aktor silat itu menjadi korban perebutan antara dua perusahaan film: Run-Run Shaw dan Golden Harvest. Sebelum Bruce Lee meninggal, Shaw Brothers memang pernah mengadakan negosiasi dengan Raymond Chow untuk membeli Bruce Lee. Tapi yang paling menarik dari semua versi yang muncul adalah ini: Bruce Lee dibunuh sendiri oleh Raymond Chow lantaran ia sering menghina sang direktur. Dikutip dalam berita itu kata-kata istri Chow, "Kematian Bruce Lee ada baiknya buat suami saya. Selama ini suami saya mengalami depresi dan selalu dirundung sedih." Menurut istrinya, Chow sudah kehilangan wibawanya di perusahaan sendiri, jatuh di bawah bayang-bayang aktornya, yakni Bruce Lee. Karena itu, Chow sering dihina di depan umum. "Kamu tidak ada punya arti apa-apa tanpa saya. Kamu banyak berutang pada saya," kata Bruce Lee kalau sedang marah, menurut Nyonya Chow. Akhirnya, simpang-siur penyebab kematian si Raja Kungfu menarik perhatian pemerintah lokal Hong Kong. Pihak pemerintah khawatir kalau hasis disebut-sebut sebagai penyebab utamanya, sementara sang aktor menjadi idola remaja dan anak-anak muda akan mengikuti jurus hasis Bruce Lee. Beberapa minggu setelah Bruce Lee dimakamkan, sebuah komisi penyelidik dibentuk oleh pemerintah lokal Hong Kong. Sasaran lain komisi penyelidik adalah masalah asuransi. Pada Januari 1973, Bruce Lee menandatangani asuransi kematian yang ganti ruginya mencapai US$ 50.000. Tetapi bila terbukti kematian Bruce Lee akibat ia terlalu banyak menelan hasis, pihak perusahaan asuransi bebas dari kewajiban membayar ganti rugi kepada istri dan anaknya. Gampang ditebak tujuan sebenarnya komisi penyelidik ini. Yakni menghapuskan jurus hasis Bruce Lee. Padahal, menurut dokter pribadi Bruce Lee Dokter Langford, yang didukung rekannya, Dokter Wu, "Bruce Lee alergi terhadap hasis. Tingkat toleransi tubuh Bruce Lee dalam menolak hasis terlalu rendah karena tubuhnya begitu peka terhadap hasis." Ini berarti, hasis sangat mudah menyebabkan kematian bagi Bruce Lee. Menurut penyelidikan di AS, hasis yang tercampur dengan sejumlah zat kimia, seperti aspirin, bisa membawa efek yang sangat hebat pada otak. Korban akan mengalami koma dan pembengkakan otak. Selain itu, napasnya tak akan lancar tapi terputus-putus. Bila gejala seperti itu sudah nyata, dokter mana pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi -- hanya menunggu pasiennya mengembuskan napas yang terakhir. Jadi, jelas, kematian Bruce Lee lantaran hasis. Toh 13 tahun setelah si Raja Kungfu tak bisa lagi memamerkan jurus-jurusnya, termasuk jurus hasisnya, tak ada keterangan resmi mengenai penyebab kematiannya. Komisi penyelidik pemerintah Hong Kong pun tak mengumumkan hasil kerjanya. Jadi, benar jurus hasis telah merobohkan si Naga Kecil? Hanya Bruce Lee yang tahu jawabnya. Beberapa minggu sebelum ajal, ia berkata, "Tak ada sesuatu pun yang bisa menghentikan aku. Aku akan pergi sejauh mana yang aku kehendaki." Mungkin guru silat dan aktor film ini jadi contoh mereka yang menjadi korban ketenarannya sendiri. Tak semua orang bisa menanggung kemasyhuran dan kekayaan yang tiba-tiba berlimpah dengan selamat. Jurus-jurus maut Bruce Lee ternyata dengan mudah dilumpuhkan oleh uang dan nama tenar.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831340544



Selingan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.