Pendidikan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

Pada mulanya karena Fahrul Ismaeni dan teman-teman sekosnya kerepotan mengurus baju kotor yang menggunung setiap akhir pekan. Mereka berlima lalu urunan membeli satu mesin cuci. Ternyata, bukan cuma mereka yang memanfaatkannya. ”Beberapa teman lain ikut numpang mencuci,” kata Fahrul, 27 tahun.

Dari sanalah terbetik ide mendirikan usaha binatu. Apalagi potensi pasarnya terbentang di depan mata: Jalan Kober, Margonda, Depok, adalah permukiman padat kontrakan mahasiswa. Untuk modal, menurut Fahrul, mereka berlima urunan hingga terkumpul Rp 25 juta. Uang itu dihabiskan untuk membeli dua mesin cuci berkapasitas 6 kilogram, satu mesin pengering, setrika, dan sewa tempat selama setahun.

Awalnya bisnis berjalan seret. ”Dua bulan pertama hampir tidak ada yang datang,” katanya. Maklum, merekalah yang pertama mendirikan binatu kelas kos-kosan. Strategi pun diubah. Semula, Private Laundry—nama binatu itu—hanya menyewakan mesin, tanpa operator. ”Seperti di film Mr. Bean,” kata Fahrul.


Namun penyewa rupanya tidak mau repot. Mereka ingin terima beres: taruh pakaian kotor, lalu mengambilnya dalam keadaan bersih, rapi tersetrika. Mereka kemudian mempekerjakan seorang operator. Pelanggan pun membanjir. Modal impas hanya dalam delapan bulan.

161819902496

Itu cerita tujuh tahun lalu, ketika Fahrul dan empat kawannya masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saat itu Private adalah pelopor binatu kiloan: ongkos mencuci dihitung berdasar berat pakaian kotor, yakni Rp 15 ribu per 5 kilogram.

Cerita sukses Private yang beranak menjadi tiga gerai—semuanya di Depok—cepat menyebar ke mana-mana. Puluhan usaha sejenis kini bermunculan di Depok dan kota lain seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Usaha kelas kos-kosan ini memang relatif gampang dijalankan. Tengok cerita Astari, mahasiswi pascasarjana psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang berkongsi dengan Dian, teman kuliahnya. Setahun lalu mereka mendirikan binatu Spin! di Pogung, sentra kos-kosan di utara kampus UGM.

Spin! hanya mempekerjakan satu pegawai. Ketika pegawainya sakit, tanpa canggung Astari menggantikannya, mulai dari menerima pakaian kotor, menjalankan mesin cuci, hingga menyetrika. Padahal jumlah cuciannya dapat membuat pembantu mana pun keder: hingga 30 kilogram per hari. Ongkosnya, Rp 3.000 per kilogram.

Dari sisi pendapatan, binatu kelas kos ini memang tak seberapa. Menurut Fahrul, rata-rata hanya Rp 9 juta dengan laba Rp 2 hingga 3 jutaan per bulan. Spin! bahkan hanya beromzet sekitar Rp 3 juta sebulan. Toh semangat mereka tetap tinggi. Kurang dari dua tahun, Astari yakin Spin! balik modal. Sedangkan bagi Fahrul, usaha binatu hanya batu loncatan. ”Untuk menambah uang saku dan belajar berwirausaha,” katanya.

Dari Private, Fahrul dan empat temannya belajar mengelola usaha dan menguji semua teori ekonomi dan manajemen yang didapat di kuliah. Cita-cita mereka memang menjadi pengusaha. Kini usaha mereka telah berbiak: ada sebuah rumah makan, konsultan manajemen dan teknologi informasi, perusahaan perdagangan, sampai desain web. Mereka telah menjadi bos muda.

Sapto Pradityo, Heru C.N. (Yogyakarta)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819902496



Pendidikan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.