maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Timah Habis, Manusia dan Alam Binasa

Penambangan timah membuat lingkungan Bangka Belitung rusak parah. Jumlah anak penyandang tunagrahita dan autisme meningkat.

arsip tempo : 171835930617.

Timah Habis, Manusia dan Alam Binasa. tempo : 171835930617.

PENGUSUTAN korupsi tambang timah ilegal di Bangka Belitung yang berpotensi merugikan negara senilai Rp 271 triliun makin membuka borok kekacauan pengelolaan komoditas pertambangan kita selama ini. Bukan semata urusan ekonomi, ancaman besar yang tak kalah mengkhawatirkan adalah terjadinya degradasi kualitas manusia akibat pencemaran logam berat.

Kejaksaan Agung membongkar praktik lancung penambangan timah di Bangka Belitung, yang sejatinya sudah lama terjadi. Provinsi muda dengan luas wilayah daratan 1,64 juta hektare dan lautan 6,53 juta hektare itu sudah berpuluh-puluh tahun dikepung tambang timah. Jaksa mencatat potensi kerugian negara Rp 271 triliun merupakan akumulasi dampak kerusakan lingkungan hidup, ekonomi, dan biaya pemulihan dari penambangan ilegal.

Nilai kerugian itu hanya sebagian dari masifnya dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh penambangan timah tersebut. Sebab, penyidik hanya mencermati aktivitas tambang di daratan dan tidak menghitung pertambangan di lautan, yang nilainya lebih besar. Sudah lama penggangsiran timah menggunakan kapal isap dan ponton isap bisa sampai kedalaman 40 meter.

Metode penambangan itu sangat destruktif. Hasil analisis citra satelit oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Bangka Belitung pada 2017 menaksir terumbu karang yang tersisa hanya 12.470 hektare, menyusut drastis dari 82.250 ribu hektare pada 2015. Aktivitas penambangan yang brutal tersebut juga memicu hilangnya hutan mangrove di pesisir Bangka Belitung. Dalam 20 tahun terakhir, kawasan mangrove seluas 240.460 hektare lenyap.

Hilangnya mangrove menimbulkan konflik antara manusia dan buaya yang kehilangan habitat. Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan, dalam kurun lima tahun terakhir terjadi 127 kasus serangan buaya di Kepulauan Bangka Belitung.

Nilai kerugian juga tak mencakup isu kesehatan manusia akibat berseraknya 12.600 lubang tambang dengan total luas 15.580 hektare. Air yang menggenangi lubang bercampur tailing dan mengandung bermacam unsur logam itu dikonsumsi secara langsung ataupun tak langsung oleh masyarakat sekitar. 

Kerugian versi jaksa juga tidak menghitung pekerja pencucian pasir timah yang meninggal terpapar debu silika yang memicu silikosis—penyakit paru-paru. Yang terbaru, survei Badan Pengelola Belitong UNESCO Global Geopark menunjukkan tingginya jumlah penyandang tunagrahita dan autisme di Sekolah Luar Biasa Negeri Manggar, Belitung Timur. Dari total 123 siswa, terdapat 65 anak tunagrahita ringan, 10 tunagrahita sedang, dan 17 anak dengan autisme. Mayoritas anak tersebut berasal dari keluarga buruh tambang timah.

Pelbagai kerusakan tersebut merupakan konsekuensi langsung kebijakan penambangan ekstraktif yang masih dipakai pemerintah. Kebijakan sesat itu makin berkibar karena Presiden Joko Widodo begitu mengagung-agungkan penghiliran mineral. Padahal, di banyak negara, praktik lancung itu sudah lama ditinggalkan. Mereka sangat ketat dalam menerapkan aturan pemulihan lingkungan dan penanggulangan dampak pasca-tambang.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 9 Juni 2024

  • 2 Juni 2024

  • 26 Mei 2024

  • 19 Mei 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan