maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Budaya Thrifting, Menyelamatkan Bumi

Gaya hidup thrifting bisa menjadi solusi menekan sampah sisa pakaian. Baju bekas dalam negeri tak kalah menggoda. 

 

arsip tempo : 171872618996.

Budaya Thrifting, Menyelamatkan Bumi. tempo : 171872618996.

MERENGEK-RENGEK kepada pemerintah agar impor pakaian bekas ditebas habis adalah perbuatan percuma. Sudah lama terbit pelbagai peraturan yang melarang, tapi pakaian bekas dari luar negeri terus saja membanjiri pasar Indonesia.

Pemerintah menggelar razia besar-besaran pakaian bekas impor sejak dua pekan lalu. Langkah itu dilakukan setelah Presiden Joko Widodo berpidato mengecam kebiasaan membeli pakaian bekas impor atau yang sering disebut thrifting mengganggu industri tekstil dalam negeri.

Tudingan Presiden itu jelas salah sasaran. Bukan baju bekas yang menggerogoti industri tekstil dan garmen dalam negeri, melainkan inefisiensi, seperti biaya modal yang mahal, ketinggalan teknologi dan mode, serta impor tekstil dan garmen.

Daripada timbul-tenggelam melarang sandang seken impor, lebih baik pemerintah menunggangi perkembangan gaya hidup thrifting alias hemat yang sedang menjangkiti anak-anak muda kita. Laku thrifting dalam bentuk konsumsi pakaian bekas impor dapat digeser ke pakaian bekas dalam negeri.

Pergeseran ini bisa membunuh dua masalah sekaligus. Pertama, banyaknya pakaian bekas impor yang berpotensi membawa penyakit dan sampah. Dalam satu bal pakaian bekas impor, setidaknya sepertiga masuk kategori tak layak pakai dan berakhir menjadi sampah.

Sampah dari produk sandang telah menjadi masalah besar bagi industri mode. Dalam proses produksi saja, industri ini telah menghasilkan 10 persen emisi karbon global per tahun, lebih besar dari emisi industri penerbangan dan maritim. Sebagai gambaran, satu produk garmen baru menghasilkan 8 kilogram karbon dioksida. Bayangkan, ada 100 miliar produk garmen baru yang diproduksi saban tahun di seluruh dunia. Ketika sudah tak layak pakai, ia menjadi sampah. Dobel daya rusaknya terhadap bumi.

Masalah kedua yang bisa diselesaikan adalah pendeknya usia pakai sandang kita. Pakaian sebetulnya berumur panjang, hanya selera konsumen yang pendek. Selera umumnya dibentuk tren terbaru, baik yang dibuat oleh produsen maupun nafsu kita sendiri. 

Laku hemat berpakaian juga seirama dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 12: menjamin pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Sebetulnya produsen mode yang ketiban tanggung jawab melaksanakan prinsip tersebut. Mereka semestinya memproduksi sandang dari bahan daur ulang atau mudah terurai.

Namun produsen tak pernah sadar. Di mata produsen, yang nomor satu adalah efisiensi. Ujungnya laba sebesar-besarnya. Itu sebabnya serat sintetis yang lebih murah dan tak ramah lingkungan, seperti poliester, dry fit, parasut, nilon, spandeks, dan rayon, masih banyak dipakai sebagai bahan baku pakaian.  


Baca liputan:

Jika produsen bebal, sudah semestinya konsumen turun tangan mengubah pasar. Caranya: menjadikan pakaian bekas layak pakai produksi dalam negeri sebagai barang konsumsi kelas satu. Ia bisa menghemat kantong sekaligus menyelamatkan bumi.

Kendati demikian, laku thrifting punya sisi lain. Ia berlawanan dengan prinsip pertumbuhan ekonomi, keuntungan, pembukaan lapangan kerja, dan sejenisnya. Masalahnya, untuk menyelamatkan bumi, pilihan dan daya tawar kita tidak banyak. Manusia yang memaksa terus tumbuh atau bumi yang menyerah. Harus ada jalan tengah. 

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 16 Juni 2024

  • 9 Juni 2024

  • 2 Juni 2024

  • 26 Mei 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan