Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mimpi Lama Mobil Listrik

Pemerintah kembali menggulirkan program mobil listrik. Perlu kebijakan yang komprehensif dan konsisten agar ambisi ini tak lagi amblas.

i Mimpi Lama Mobil Listrik
Mimpi Lama Mobil Listrik

PEMERINTAH tak boleh menyia-nyiakan minat banyak pengembang mobil listrik dunia yang kini getol melirik Indonesia. Transformasi industri otomotif dari kendaraan berbahan bakar minyak ke listrik adalah keniscayaan. Dengan kandungan nikel terbesar di dunia, negeri ini punya modal untuk menjadi pemain utama. Dampak berganda dari keberadaan industri otomotif masa depan ini buat ekonomi Indonesia pasti signifikan.

Ini sebenarnya ambisi lama. Program serupa, dalam wujud berbeda, pernah dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kala itu, pemerintah berencana memulai produksi massal mobil listrik nasional pada 2014. Namun, akibat inkonsistensi kebijakan pemerintah, rencana itu tak terwujud hingga kini.

Presiden Joko Widodo dan para menterinya harus belajar dari kesalahan itu. Apalagi sudah ada kepastian investasi dari LG Energy Solution Ltd, Korea Selatan, yang diumumkan secara resmi pada pekan lalu. Anak usaha konglomerasi LG Group itu berkomitmen menanamkan modal US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 142 triliun untuk membangun pusat produksi baterai litium terintegrasi di Indonesia.


Industri mobil listrik memang sedang naik daun. Berbagai pabrik otomotif dunia gencar meluncurkan produk mobil listrik mereka. Di Indonesia, Toyota tahun ini berencana menyusul Hyundai, yang sejak 2019 memulai pembangunan fasilitas produksi senilai lebih dari Rp 20 triliun di Cikarang, Jawa Barat. Yang terbaru, pemerintah menyatakan sedang menunggu kedatangan delegasi Tesla Inc, produsen mobil listrik Amerika Serikat, yang diklaim berniat menjajaki investasi serupa.

161876977967

Cetak biru rencana pemerintah membangun ekosistem industri mobil listrik, dari hulu ke hilir, di Indonesia sudah ada di jalur yang tepat. Sejak Presiden Jokowi meluncurkan program percepatan program mobil listrik pada Agustus 2019, berbagai kebijakan terkait mulai disiapkan. Targetnya, produksi kendaraan rendah emisi karbon (LCEV) bisa mencapai 20 persen dari proyeksi produksi 2 juta unit roda empat pada 2025.

Salah satu kunci keberhasilan percepatan itu ada di hulu industri: cadangan nikel 21 juta ton, terbesar di dunia. Bahan baku utama baterai, komponen paling vital dalam produksi mobil listrik, inilah yang menarik minat LG Group dan banyak perusahaan mobil listrik lain untuk masuk ke Indonesia. Untuk itu, pemerintah harus memastikan tambang dan smelter nikel bisa beroperasi dengan aman dan berkesinambungan.

Dari sisi permintaan, Indonesia jelas pasar yang masih sangat terbuka lebar bagi pemasaran mobil listrik. Rasio kepemilikan mobil di Indonesia baru 99 unit per 1.000 penduduk, jauh lebih rendah dibanding sejumlah negara tetangga.

Tantangan terberatnya sekarang tinggal memastikan iklim bisnis di Indonesia cukup sehat bagi pengembangan mobil listrik. Apalagi masalah utama yang menghambat investasi di Indonesia adalah inkonsistensi kebijakan. Di sektor perpajakan, misalnya, pemerintah belum juga mengubah aturan lama yang tak memberi insentif untuk penjual dan pembeli mobil listrik.

Pemerintah juga masih punya tugas berat lain. Konsumen harus diyakinkan bahwa mobil listrik tak hanya bertujuan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak, tapi juga untuk menciptakan bumi yang lebih sehat. Masalahnya, bagaimana pemerintah bisa mengkampanyekan penggunaan mobil ramah lingkungan jika kebijakan kelistrikan nasional masih belum bergeser dari penggunaan batu bara, yang tak kalah berbahaya? Alih-alih mendorong, pemerintah bisa-bisa justru menghambat kemajuan energi baru dan terbarukan lagi-lagi karena regulasi yang tak konsisten.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161876977967


Mobil Listrik

Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.