Editorial: Keganjilan Vonis Bebas Penyuap Bekas Gubernur Riau - Opini - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Vonis Lancung Penghancur Hutan

Pengadilan Pekanbaru membebaskan terdakwa suap mantan Gubernur Riau, Annas Maamun. Mahkamah Agung harus menelusuri motif vonis.

i Vonis Lancung Penghancur Hutan
Vonis Lancung Penghancur Hutan

PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia akhir-akhir ini ibarat kerakap tumbuh di batu. Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi “hidup segan mati tak mau” akibat pelemahan undang-undang, kini pengadilan pun ikut-ikut lemah semangat menghadapi para pelancung.

September lalu, pengadilan tindak pidana korupsi justru membebaskan Suheri Terta, terdakwa pemberi suap Gubernur Riau periode Februari-September 2014, Annas Maamun. Suheri dituding memberi besel Rp 3 miliar untuk mendapatkan rekomendasi pelepasan hutan di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, buat dibangun kebun sawit.

Suheri adalah pemain kakap. Ia terlibat pembakaran hutan Pelalawan, Riau, pada 2009. Diputus bersalah oleh mahkamah kasasi pada 2015, ia malah menjadi buron. Kejaksaan Tinggi Riau menangkap Suheri sebulan setelah KPK menetapkannya sebagai tersangka penyuap Annas Maamun, Mei 2019.


Suheri menyuap Annas melalui Gulat Medali Emas Manurung, orang kepercayaan Annas. Di pengadilan, Annas dan Gulat menyebut nama Suheri sebagai pemberi suap. Tapi majelis menafikan kesaksian itu. Gulat dan Annas sudah menerima hukumannya sendiri-sendiri. Anehnya, hakim tak menggubris putusan terhadap Gulat dan Annas yang menyebutkan peran Suheri. Vonis bebas terhadap Suheri membuat asal-usul suap menjadi tak jelas.

Jika Suheri tak dibebaskan, penyidik sebetulnya punya kesempatan menelusuri kasus ini ke hulu. Surya Darmadi, pengusaha sawit yang diduga menyiapkan besel, hingga kini masih menjadi buron. KPK juga dapat menelisik peran mantan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, yang mengaku pernah ditemui Surya soal izin kebun sawit di Riau.

Peralihan hutan menjadi perkebunan sawit punya efek gila-gilaan. Pembukaan lahan sawit memapas habitat satwa dan tumbuhan liar di hutan. Kebun sawit juga mengurangi unsur hara dan volume air tanah. Peneliti Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Azwar Maas, menyebutkan, untuk membentuk 1 kilogram biji sawit, pohon membutuhkan 400 liter air dalam sehari. Pembukaan kebun sawit kerap menggusur masyarakat adat. Bencana asap pun kerap muncul karena pengusaha nakal membuka perkebunan sawit dengan membakar hutan untuk menghemat biaya operasional.

PT Duta Palma, bagian dari grup PT Darmex Agro yang membawahkan empat perusahaan penyuap Annas Maamun, saat ini menguasai 40 ribu hektare kebun sawit di Riau. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat Riau sebagai daerah dengan kawasan sawit terluas di Indonesia—4,2 juta hektare pada akhir tahun lalu. Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Riau menemukan sekitar 1,8 juta hektare di antaranya tak berizin alias berada di kawasan yang masih berstatus hutan.

Nasib keadilan kini di tangan Mahkamah Agung. Jaksa penuntut telah mengajukan permohonan kasasi. Majelis tak boleh menutup mata terhadap fakta yang memberatkan Suheri. Pengawasan terhadap hakim harus makin ketat. Badan Pengawasan MA dan Komisi Yudisial harus bekerja keras menemukan motif hakim dalam membebaskan tersangka. Suheri menjadi tersangka keempat KPK yang lolos di pengadilan. Di luar itu, terdapat 21 koruptor yang menerima diskon masa hukuman dari Mahkamah Agung.

Di tengah kerusakan lingkungan dan bencana asap akibat alih fungsi hutan menjadi kebun sawit, koruptor dan pengusaha hitam kini asyik berpesta pora.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-22 07:39:51

Hakim Tindak Pidana Korupsi Komisi Pembarantasan Korupsi Mahkamah Agung

Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB