Kalau Wasit Punya Mau - Olahraga - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Olahraga 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kalau Wasit Punya Mau

Perebutan gelar juara tinju kelas Welter versi OBF antara Wongsosuseno, 30 dengan Sanghyun Kim, 21, dari korea selatan di Istora Senayan. Kemenangan Wongso lebih ditentukan oleh peran wasit dan hakim.

i
"SEKARANG saya berada dalam kondisi paling fit selama karir saya di dunia tinju". Pengakuan itu diucapkan Wongsosuseno, 30 tahun, juara kelas Welter Junior Orient Boxing Federation OBF), menjelang pertarungan perebutan gelar lawan petinju Korea Selatan, Sanghyun Kim (21 tahun) di Istora Senayan - Senin malam 24 Januari yang lalu. Ia juga mengatakan bahwa langgam permainannya pun telah berubah. Dari gaya fighter menjadi boxer - tipe permainan Mohammad Ali. Di dalam ring, ternyata tak semua perubahan dalam diri Wongso menemui bentuk prima. Gerakan-gerakan yang dilakukannya kini tampak lebih lamban dan terlalu penuh perhitungan, malah. Sikap hati-hatinya sering mematikan inisiatifnya dalam memegang kendali permainan. Suatu hal yang jarang dilakukan seorang hoxer. Tertelentang Pencarian bentuk dalam permainan Wongso itu kelihatan dengan cepat dibaca oleh Kim. Ia mulai menggiring sang juara ke dalam langgam yang diinginkannya, setelah ronde pertama diraihnya dengan angka tipis. Meski Wongso mencoba merebut kembali kendali permainan dengan merangsek lawan ke tali, usaha itu hampir tak banyak memberi hasil. Kim selalu lihai mengelak dan sekaligus menarik Wongso ke tengah. Dalam gebrakan di tempat yang lapang itu, permainan Wongso nyaris tak ada artinya. Sekalipun sekali-sekali berhasil mencuri peluang, piutang pukulan itu selalu dibayar lebih oleh Kim dengan pukulan hook atau straight kiri yang telak. Malah di ujung ronde ke tujuh segalanya nyaris berakhir di tangan Kim, ketika straight kirinya menemui sasaran di dagu lawan dan membuat Wongso tertelentang di kanvas. Menurut Wongso kejatuhan itu bukan disebabkan oleh pukulan, tapi lantaran posisi kakinya yang salah. Benar atau tidak, yang pasti ia memang bangkit sebelum wasit Manoch menghabisi hitungan sampai sepuluh. Jangan Kaget Memasuki ronde kesembilan, Wongso berusaha menebus kejatuhan itu. Tak sepenuhnya berhasil. Ia hanya kelihatan mengungguli lawan dalam 3 ronde terakhir dari 12 ronde yang ditetapkan, Berdasar perhitungan sementara pengamat tinju, tak syak lagi gelar Wongso lepas sudah. Cuma kenyataannya tidak begitu. Wasit Manoch serta hakim Schneider dan Jorghi memberikan angka kemenangan buat Wongso masing-masing 57-55, 57-55, dan 57-56. Alasan mereka: pukulan yang dilancarkan Wongso mendekati pukulan yang bisa membuat lawan knock-down atau KO. Kebenaran dasar penilaian itu bisa diperdebatkan, memang. Bukankah yang terkapar di kanvas akibat pukulan adalah Wongso sendiri? Tidakkah itu menunjukkan pukulan Kim juga pukulan yang membahayakan? Jika peran wasit dan hakim model trio Manoch-Schneider-Jorghi ini diterapkan di kandang lawan, jangan kaget bila petinju prof Indonesia tak berhasil nanti.
2020-08-11 13:30:48


Olahraga 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.