Obituari Masmimar Mangiang, Legenda Jurnalis dan Pakar Bahasa - Obituari - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jurnalis Jujur Penjaga Bahasa

Menghabiskan usia sebagai jurnalis dan dosen, Masmimar Mangiang adalah ahli bahasa yang tekun dan teliti. Ia pengajar “killer” yang uniknya justru menjadi favorit murid-muridnya.

i Ahli bahasa jurnalistik, Masmimar Mangiang, sebagai saksi ahli  di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin, 10 Mei 2004./ TEMPO/ Tommy Satria]
Ahli bahasa jurnalistik, Masmimar Mangiang, sebagai saksi ahli di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin, 10 Mei 2004./ TEMPO/ Tommy Satria]
  • Masmimar Mangiang menghabiskan sebagian besar usianya sebagai jurnalis dan dosen. Ia berkali-kali berhadapan dengan kekuasaan. .
  • Sejak muda, hidup Masmimar dipenuhi upaya menegakkan kritik dan pengawasan terhadap kekuasaan.
  • Masmimar memilih meninggalkan kuliah hukum karena godaan jurnalisme lebih menarik baginya. .

BELUM lama memegang mikrofon, suara Masmimar Mangiang tiba-tiba bergetar. Terlihat ia berupaya keras menahan perasaan. Bang Mimar—begitu saya biasa menyebut—akhirnya kalah. Air matanya mengalir, suaranya makin berat sebelum akhirnya kata-kata hilang sepenuhnya. Yang muncul sesenggukan, disusul pecahnya tangis yang terdengar jelas hingga ke sudut ruangan.

Hari itu saya masih ingat benar, Jumat, 19 Desember 2014, saya dan Bang Mimar sedang berada di aula Gedung Vokasi Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Kami hadir menemani mahasiswa UI memutar dan mendiskusikan film Senyap (The Looks of Silence) karya dokumenter Joshua Oppenheimer. Bang Mimar menjadi pembicara utama diskusi.

Tangis Bang Mimar sungguh tak terduga. Beberapa dosen UI, yang sebagian pernah menjadi mahasiswanya, terlihat kaget. Mereka yang duduk di baris depan ada yang terdiam mematung, yang lain saling berpandangan dengan wajah bingung. Aula hening, yang terdengar hanya suara tangis Bang Mimar.


Saya, yang berada di meja podium tepat di sebelahnya, berinisiatif mengambil alih pembicaraan, meski suara saya pun jadi terdengar sedikit panik. Maklum, bertahun mengenal Bang Mimar, baru kali itu saya melihat ia gagal mengontrol emosi.

Setelah suara tangisnya mereda, saya persilakan ia kembali berbicara. Tapi, rupanya, kesedihan belum benar-benar usai. Dengan isyarat tangan, ia meminta saya melanjutkan saja.

Ketika akhirnya ia siap, ia sudah kembali terlihat seperti Masmimar yang selama ini dikenal, melontarkan analisis tajam dan kaya data yang disampaikan dengan jelas melalui suara basnya yang empuk di telinga. Hadirin pun seolah-olah lupa insiden tangisan tadi. Diskusi ramai membahas analisisnya dan muatan film Senyap yang hari-hari itu sedang menjadi pembicaraan.

Tapi, buat saya, tangis Bang Mimar memancing penasaran. Seusai diskusi, saat ngopi bersama, saya menyinggung soal itu. “Film itu bagus, Kris. Saya jadi teringat almarhum ayah,” katanya. Senyap berkisah tentang pria paruh baya yang di masa kecilnya kehilangan kakak laki-lakinya, yang terakhir kali terlihat dijemput beberapa orang di masa terjadi pembantaian kejam terhadap mereka yang dituduh komunis pada sekitar 1965.

Masmimar ternyata juga kehilangan ayahnya, Muhammad Sain, dengan cara serupa. “Saya jadi teringat saat Ayah dijemput beberapa orang. Waktu itu dia memakai baju putih, tersenyum memandang saya, lalu berbalik pergi bersama mereka yang menjemputnya. Itulah terakhir kali saya melihat dia,” ujar Bang Mimar. Ia masih sangat belia ketika itu. “Punggung Ayah saat berbalik masih terus teringat jelas di ingatan saya, Kris.” Kesedihan terlihat lagi di wajahnya.

Kerinduan pada sang ayah, yang hilang saat terjadi konflik antara pemerintah pusat dan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat pada 1958-1961, itulah yang rupanya menjelma menjadi tangis emosional. Tapi ini pula yang mungkin bisa menjelaskan mengapa sepanjang hidupnya ia menjadi begitu peka terhadap kekuasaan yang tanpa kritik, yang mampu mewujud pada penghilangan manusia seperti ayahnya, kakak tokoh dalam Senyap, dan ribuan orang lain dalam sejarah negeri ini.

Sejak muda, hidupnya dipenuhi upaya menegakkan kritik dan pengawasan terhadap kekuasaan. Ia tahu banyak bagian dari sejarah bangsa ini penuh ruang gelap tak terjelaskan, yang bahkan sengaja dibiarkan tak terang. Masmimar percaya jurnalisme bisa membuka jalan untuk memberi terang pada ruang-ruang gelap itu. Atau setidaknya mencegah hadirnya ruang gelap baru.

Selepas sekolah rakyat dan sekolah menengah pertama di kota kelahirannya, Payakumbuh, Sumatera Barat, Masmimar melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bukittinggi hingga tamat pada 1968. Ia meneruskan pendidikan ke Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia. Namun godaan jurnalisme lebih menarik baginya.

Saat kuliah, ia sudah menjadi wartawan Harian KAMI (1971-1972), lalu wartawan Harian Pedoman yang dipimpin Rosihan Anwar hingga koran itu tutup pada 1974. Alih-alih menyelesaikan kuliah, ia memilih menekuni pendidikan jurnalistik karena memperoleh beasiswa jurnalisme dari International Institute for Journalism, Berlin, Jerman, pada 1976.

Sepulang dari Jerman, ia terjun sepenuhnya ke dunia jurnalistik dan namanya menghiasi banyak terbitan penting nasional. Ia tercatat menjadi anggota dewan redaksi jurnal Prisma, LP3ES (1977-1982), redaktur pelaksana majalah berita mingguan Fokus (1982-1983), dan anggota sidang redaksi majalah Tempo (1984). Ia kembali ke Prisma menjadi wakil pemimpin redaksi (1985-1989), lalu menjadi redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi harian ekonomi Neraca (1991-2005).

Selama menjadi jurnalis, Masmimar berkali-kali berhadapan dengan kekuasaan, misalnya hambatan tentara ketika ia sebagai reporter Pedoman meliput kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka di Bandar Udara Halim Perdanakusuma sehari sebelum peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974. “Saya dapat bogem mentah meski sudah bawa tanda pengenal wartawan Istana,” katanya.

Juga ketika harian Pedoman akhirnya dibredel karena pemberitaan peristiwa Malari itu. Atau saat ia sebagai anggota redaksi Prisma harus menerima tekanan dan kecurigaan Orde Baru hanya karena menerbitkan edisi “Manusia dalam Kemelut Sejarah”, yang menampilkan Bung Karno di sampul muka. Tapi tak ada yang bisa menyebabkan Masmimar patah semangat dari jurnalisme.

Mungkin ini juga bagian dari doa orang tua sejak memberinya nama. Masmimar ternyata akronim dari “masa (Mas) mempertahankan (m) Indonesia (i) mardeka (mar)”. Konon, nama itu merujuk pada suasana bangsa sebelum Konferensi Meja Bundar, masa kelahiran Masmimar.

Kepada saya, dia bercerita bahwa nama belakangnya ia ambil dari nama ayahnya yang bergelar Datuk Manggung Mangiang. Konon, nama Mangiang tak boleh dipakai hanya sepotong. “Bakal ada nasib buruk kalau memakai Mangiang saja,” ujarnya. Tapi apalah arti ancaman semacam itu baginya. Jadilah Masmimar Mangiang nama “resmi” pria kelahiran 10 September 1948 ini.

Ia berpandangan kerja jurnalistik bermula jauh sebelum wartawan terjun ke lapangan dan berakhir jauh setelahnya ketika jurnalis melahirkan laporan sempurna. Akurasi baginya bukan sekadar akurasi data atau fakta, tapi juga pada pilihan kata yang menjamin maksud wartawan tidak dibaca berbeda. Maka wartawan mutlak memiliki kemampuan berbahasa yang baik.

Inilah yang menyebabkan Masmimar kemudian lebih dikenal sebagai guru “logika berbahasa” bagi para wartawan. Mungkin karena itu pula, pada 1980, saat diminta UI menjadi pengajar di jurusan komunikasi, ia bersemangat mempersiapkan materi pengajaran. Ia tahu akan membidani lahirnya generasi baru jurnalis.

Di kampus, Masmimar disebut mahasiswa sebagai dosen yang membuat gentar. Bukan karena mudah marah, tapi karena ia rajin memberi tugas dan lebih rajin membedah kelemahan berbahasa pada tugas-tugas itu. “Bang Mimar bisa membahas tugas seluruh kelas dengan tajam dan lengkap dalam satu kali perkuliahan. Semua kebagian kritik yang bikin muka merah, tapi terasa banget kita belajar,” kata seorang mahasiswanya.

Meski membuat deg-degan, ia justru menjadi dosen favorit. Banyak mahasiswa memilih duduk di baris depan, tak ingin kehilangan cerita. Bang Mimar memang pembicara yang memikat. Banyak mahasiswa yang sebelumnya lebih tertarik pada jurusan iklan atau hubungan masyarakat, setelah mendengarkan kuliahnya, jatuh cinta dan beralih menekuni jurnalisme.

Ia juga mewariskan pengetahuannya melalui Lembaga Pendidikan Pers Dr Soetomo dan ratusan pelatihan yang ia berikan kepada wartawan. Ia juga terus aktif membagikan pengetahuannya di berbagai milis, kanal diskusi, hingga grup WhatsApp peminat bahasa Indonesia.

Tapi, lebih dari kemampuan berbahasa, integritas dan kejujuran jurnalis selalu jauh lebih penting baginya. “Jauh lebih bagus tulisan orang bodoh daripada tulisan orang pintar tapi munafik,” ujarnya, sering kali. Ia tahu persis selingkuh kaum intelektual dengan kekuasaan akan menghasilkan kejahatan luar biasa.

Perjalanan panjang Masmimar sebagai jurnalis dan dosen, juga aktivis sosial, menyebabkan hidupnya menyentuh begitu banyak orang. Saya, yang beberapa tahun terakhir rutin ngobrol ngalor-ngidul dan ngopi bersama di kedai favoritnya di Cikini, Jakarta Pusat, menyaksikan sendiri selalu saja ada banyak orang mampir di meja kami, karena ingin menyapa atau ngobrol dengannya.

Tapi pukul 18.50, Senin, 29 Juni lalu, Masmimar pergi meninggalkan semuanya. Ia meninggal pada usia 71 tahun di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, karena tumor di kepala dan sebaran tumor di paru-paru.

Sudah lama, lewat chat, Bang Mimar sering menggoda bahwa ia bermimpi bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal. “Sepertinya sudah dekat giliran saya.” Pada pertemuan terakhir Lebaran lalu, ia juga mengulangi, “Saya sudah siap, tak ada yang saya sesali,” katanya. Tetap saja kepergian Masmimar meninggalkan lubang pada jurnalisme Indonesia, yang kehilangan salah satu penjaganya.

Adapun Masmimar, yang dimakamkan di liang lahad yang sama dengan ibunya, Sitti Rugaiyah, sudah tenang. Ia mungkin kini sedang asyik bercakap dengan ayah yang selama ini dirindukannya.

KRISNADI YULIAWAN SAPTADI, JURNALIS, PERNAH MENGAJAR DI UNIVERSITAS INDONESIA

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-25 23:12:16

Obituari Jurnalis dan permasalahannya Universitas Indonesia | UI

Obituari 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB