Sepuluh tahun buat "intel" - Nasional - majalah.tempo.co ‚Äč

Nasional 5/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sepuluh tahun buat "intel"


Syarifin maloko divonis 10 tahun di tuduh turut menggerakkan peristiwa tanjung priok. terbukti bersalah melakukan tindak pidana subversi. sebelum tertangkap, ia sempat bersembunyi 25 bulan. (nas)

Edisi : 27 Desember 1986
i
SYARIFIN Maloko akhirnya diganjar 10 tahun penjara potong masa tahanan Putusan bagi orang yang dituduh membakar emosi massa pada Peristiwa Priok 1984 itu diketukkan Ketua Majelis Hakim Soenjoto, Senin pekan ini. Pria Flores itu, menurut majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, terbukti bersalah melakukan tindak pidana subversi. Rangkaian perbuatan Maloko, yang dinilai dapat merongrong kewibawaan pemerintah yang sah serta dapat menyelewengkan Pancasila, dibeberkan. Perbuatan itu, antara lain, berupa enam kali ceramah di kawasan Tanjungpriok, Jakarta Utara, dari Juni higga September 1984. Salah satu ceramahnya yang dianggap dapat membakar emosi massa sehingga peristiwa berdarah Priok terjadi adalah pidatonya di Jalan Sindang, 1 September dua tahun silam. Ceramah dihadapan ribuan orang itu, antara lain, "Bila kamu berjumpa dengan manusia-manusia kafir yang memerangimu, maka haram hukumnya berpaling dari serangan yang mereka lakukan terhadap Islam." Bersama Almarhum Amir Biki, Ratono dan M. Nasir -- pembicara yang lain -- massa menggelegak emosinya yang akhirnya melakukan penyerbuan ke kantor Polres dan Kodim Jakarta Utara. Peristiwa berdarah di kawasan Jakarta Utara itu, menurut Pangab Jenderal L. B. Moerdani, menimbulkan korban 30 orang tewas. Selain itu, perbuatan Syarifin yang mengarah ke subversi itu didorong oleh rasa tak puas terhadap asas tunggal Pancasila. Menurut jaksa dalam surat dakwaannya terdahulu, lelaki berkumis dan berjanggut lebat itu, lewat ceramah di Masjid Al-Huda menyatakan, "Berkoar menepuk dada, ini gue Pancasila sejati, terus lu makan Pancasila itu sampai mampus." Nasib baik agaknya tak berada di si Maloko. Sewaktu awal persidangan, ia menghadapi kesulitan mencari pengacara yang bersedia membelanya, sebelum akhirnya didapatkan R.O. Tambunan dari Pusbadhi (Pusat Bantuan & Pengabdian Hukum Indonesia) mendampinginya. Beberapa pengacara senior, semacam Buyung Nasution, Harjono Tjitrosoebono, yang terkenal gigih membela perkara subversi tak bersedia menjadi penasihat hukumnya. Hal yang sama juga dilakukan LBH. "Kami tak yakin, dia berjuang demi keyakinannya," alasan Buyung ketika menolak mendampingi Maloko. Sebelum Syarifin Maloko tertangkap -- ia bisa bersembunyi 25 bulan sesudah kasus Priok dan malah sempat ceramah di muka umum di Merak, Jawa Barat -- memang santer terdengar bahwa ia sebenarnya intel pemerintah. Namun, kepada TEMPO Syarifin membantah keras tuduhan itu. Adalah Buyung yang mengatakan, pada waktu pengadilan Dharsono, bahwa Maloko merupakan salah satu saksi menentukan yang sengaja disembunyikan. Agaknya citra sebagai orang bermuka dua itu yang menyulitkan Maloko. Sehingga beberapa pengacara segan menjadi pembela, dan perhatian masyarakat terhadap sidang-sidangnya tak begitu banyak. Tetapi bagi Pembela R.O. Tambunan, siapa Maloko dan latar belakangnya tak terlalu penting. "Saya tak melihat siapa Syarifin," ujar Tambunan, yang menguraikan banyak perbedaan antara dia dengan kliennya itu. Misalnya, "Dalam ceramahnya, dia 'kan mencaci Golkar sedangkan saya 'kan Golkar," katanya kepada Eko Yuswanto dari TEMPO. Selain itu, "Dia tak setuju asas tunggal, saya sangat setuju." Meski begitu, Tambunan sangat menghargai kebebasan pendapat. Ia katanya tak setuju bila orang dihukum hanya karena berbeda pendapat. Karena itu, ia menilai putusan majelis hakim yang sepuluh tahun tadi, walau lebih rendah tiga tahun dari tuntutan jaksa, "Sangat berat. Sebab, Syarifin merasa benar dengan apa yang dilakukannya. Yakni kontrol sosial lewat kritik-kritik terhadap pemerintah." Hukuman bagi Maloko, sebenarnya, bisa dibilang ringan jika dibandingkan putusan yang pernah dijatuhkan kepada orang-orang yang dianggap penyulut Peristiwa Priok. Kecuali Ratono dan Rektor PTDI Usman Hamidy, yang karena uzur, hanya diputus delapan tahun. Tetapi nama-nama lain rata-rata dihukum hampir dua kali Maloko, misalnya Yayan Hendrayana (20 tahun), Salim Qadar (20 tahun), Abdul Qadir Jaelani (17 tahun). Dari beberapa nama pelaku Priok kini tinggal M. Nasir, salah satu penceramah selain Biki, Maloko, dan Ratono, pada Peristiwa Priok yang hingga kini belum jelas bagaimana nasibnya.
2020-04-05 11:29:33


Nasional 5/7

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.