Nasional 2/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Cendana di Tengah Keriuhan Pilkada

Anak-anak Soeharto memperingati 51 tahun Supersemar. Ahok dicoret dari daftar undangan.

i

SITI Hediati Hariyadi berdiri di mimbar ruang tengah Masjid At-Tin di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, pada Sabtu malam dua pekan lalu. Bersuara sedikit serak, dia membuka peringatan 51 tahun Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar, yang menjadi tonggak kekuasaan ayahnya, Presiden Soeharto, mendirikan Orde Baru.

Meski bertajuk "Zikir dan Doa Bersama", pidato delapan menit pembukaan acara itu bermuatan politik. Titiek-panggilan anak keempat Soeharto itu-membeberkan keberhasilan rezim ayahnya selama 32 tahun hingga 21 Mei 1998. "Enak zaman Soeharto. Aman, gampang cari makan, dan gampang cari pekerjaan," katanya. "Banyak yang merindukan dan mendoakan Soeharto."

Pidato Titiek itu mendapat respons negatif di media sosial. Banyak orang mengutip pidato itu tapi untuk membandingkannya dengan banyaknya pelanggaran hak asasi manusia di zaman Soeharto. Banyak video yang mengutip "gampang cari makan tapi juga gampang nyawa hilang" dengan sederet pembunuhan masyarakat oleh negara, seperti penembakan misterius dan penghilangan paksa para aktivis.


Orang yang hadir agaknya mengabaikan fakta-fakta itu. Panitia menghitung ada sekitar seratus ribu orang tumplek dalam acara tersebut. Masjid At-Tin, yang namanya diambil dari nama istri Soeharto, Hartinah, yang berkapasitas 25 ribu, sesak oleh jemaah. Massa meluber hingga pelataran Museum Purna Bhakti Pertiwi, yang menyimpan cenderamata Soeharto, di selatan masjid. Mulai pukul 18.00, lalu lintas di Jalan Taman Mini I dan Mabes Hankam tak bergerak. Kemacetan mengular hingga jalan tol lingkar timur dan Jagorawi.

161835338068

Anak-anak Soeharto duduk di panggung. Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut dan Hutomo Mandala Putra alias Tommy manggut-manggut menyimak pidato Titiek. Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamiek sibuk mengurus konsumsi di balik panggung bersama pedangdut Camelia Malik. Adapun Sigit Harjojudanto dan Bambang Trihatmodjo tidak hadir.

Di sebelah Tommy, ada Prabowo Subianto, mantan suami Titiek dan kini memimpin Partai Gerindra. Anies Baswedan duduk di sebelahnya. Calon Gubernur Jakarta dari Gerindra ini datang sendiri karena Sandiaga Uno, calon wakil gubernur, baru tiba pukul 21.00.

Acara ini berlangsung setelah pengumuman Tommy Soeharto sebagai calon presiden 2019. Tommy, 54 tahun, menjadi calon presiden Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo), yang sedang menjalani verifikasi faktual di Komisi Pemilihan Umum. Parsindo juga menggandeng Partai Berkarya, yang berdiri tahun lalu dan mendudukkan Tommy di majelis tinggi.

Menurut Abdul Rohman, panitia peringatan 51 tahun Supersemar, lima anak Soeharto rutin memperingati 11 Maret setiap tahun dengan pelbagai acara. Tahun lalu mereka menggelar Fun Run di Yogyakarta. "Tahun ini diadakan besar-besaran karena sekaligus sosialisasi Maret sebagai bulan Pak Harto," kata Rohman, pemimpin umum majalah Cendana dan situs Cendana News.

Cendana adalah sebutan untuk keluarga Soeharto yang merujuk pada jalan rumah penguasa Orde Baru ini di Menteng, Jakarta Pusat. Rohman menjelaskan bahwa banyak peristiwa penting yang melibatkan Soeharto pada bulan Maret.

Selain Surat Perintah Sebelas Maret, ada Serangan Umum 1 Maret 1949 dan pembubaran Partai Komunis Indonesia pada 12 Maret 1966. Majelis Permusyawaratan Rakyat melantik Soeharto sebagai presiden pada 27 Maret 1968, setelah 1 tahun 15 hari menjadi pejabat presiden. "Keluarga tidak memakai bulan kelahiran, karena Juni berimpitan dengan ’Bulan Bung Karno’," ujar Rohman kepada Tempo, pekan lalu.

Menurut Rohman, Titiek yang memimpin panitia dalam peringatan 11 Maret tahun ini. Ia pula yang memutuskan pengisi acara dan tamu undangan. Pengajian di Masjid At-Tin menghadirkan Rizieq Syihab, pemimpin Front Pembela Islam; Arifin Ilham; Abdullah Gymnastiar; dan Syech Assegaf. Titiek, kata Rohman, adalah peserta pengajian Assegaf dalam beberapa tahun terakhir.

Karena itu, Assegaf kerap mengisi acara pengajian Cendana. Adapun Rizieq, menurut Rohman, memang baru pertama kali diundang untuk acara ini. Kehadiran Rizieq menuai keriuhan karena Titiek dituding mendekatkan Rizieq, yang ingin Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ditangkap dan dipenjarakan, dengan Anies, yang menjadi rival Basuki dalam pemilihan gubernur tahun ini.

Rohman mengatakan semua calon Gubernur Jakarta diundang ke pengajian tersebut. Agus Harimurti dan Sylviana Murni diundang tapi mereka tak mau hadir. Adapun Basuki tak dicantumkan sebagai undangan karena namanya dicoret Titiek. Alasan lain adalah Basuki seorang penganut Kristen, yang tak cocok dengan acara pengajian. "Kalau nanti disoraki, bagaimana?" kata Rohman menirukan Titiek.

Maka undangan hanya dikirim untuk Djarot Saiful Hidayat, calon Wakil Gubernur Jakarta, yang menjadi pasangan Basuki alias Ahok. Namun peserta pengajian meneriaki Djarot dan mengusirnya begitu ia tiba di Masjid At-Tin menjelang magrib. Djarot meninggalkan masjid setelah salat Isya.

Anies menerima undangan Peringatan Supersemar bulan lalu. Dia dan Sandiaga memenuhi undangan makan malam Prabowo di rumah Titiek. Foto mereka berempat tersebar luas dengan embel-embel undangan acara 11 Maret 2017 itu. Anies dan Sandi disebut sebagai tamu dalam rilis panitia.

Tersebarnya foto itu membuat Partai Golkar marah. Partai menyurati Titiek karena Golkar mendukung Basuki dalam pemilihan Gubernur Jakarta tahun ini. Titiek mengatakan lebih takut kepada Tuhan ketimbang partai.

Dalam ceramahnya, Rizieq yang tiba paling akhir pada pukul 22.00 menyinggung bahaya kebangkitan Partai Komunis Indonesia seraya memuji Soeharto, yang membubarkan partai ini pada 1966 berbekal Supersemar itu. "Jika PKI bangkit lagi, siap angkat senjata? Siap bela NKRI?" ujarnya.

Meski mengundang semua calon gubernur dan berpidato mengenang zaman Soeharto, Titiek menolak acaranya disebut sebagai pertemuan politik. "Di setiap rapat, Bu Titiek selalu mewanti-wanti bahwa acara ini adalah doa bersama, tidak ada hubungannya dengan pilkada dan politik," kata Rohman.

Soal ceramah para pembicara yang bolak-balik melarang muslim memilih pemimpin yang tidak seiman, Anies Baswedan menilainya sebagai hal lumrah dan tidak menganggapnya sebagai dukungan kepadanya. "Di tempat lain, ada yang justru mengajak sebaliknya," ucapnya.

Acara berakhir pukul 23.15. Titiek dan anak-anak lain Soeharto menjamu para tamu istimewa dan pembicara di lantai dasar Masjid At-Tin. Lukisan wajah tersenyum Soeharto berukuran 2 x 1,5 meter terpampang di tengah aula. Rizieq duduk diapit Hutomo dan Anies. Camelia Malik hilir-mudik memastikan semua undangan tidak kekurangan santapan.

Jamuan kelar lewat tengah malam. Mereka keluar satu per satu diapit barisan Front Pembela Islam dan pesilat Betawi. Anies pulang paling akhir. Setelah berbincang dengan kerumunan wartawan bersama Sandiaga, dia terjerembap karena tersandung anak tangga.

Reza Maulana | Friski Riana | Fransisco Rosarians | Chitra Paramaesti


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835338068



Nasional 2/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.