maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Lakon Sang Pengarang 'Penakut'

Senin, 14 April 2014

JEJAK pengarang serba bisa yang 11 April lalu genap 70 tahun ini terserak di mana-mana. Putu Wijaya aktif sebagai sastrawan, jurnalis, penulis cerita pendek, pegiat teater, dan terakhir pelukis. Sepanjang hidupnya, ia membuat setidaknya 30 novel, 40 lakon drama, ratusan naskah sinetron, dan ribuan cerita pendek. Di usia senja, "penemu" kata "dangdut" ini masih aktif menulis dan menyutradarai pertunjukan teater. Deraan stroke yang membuatnya terbaring di rumah sakit pun tak menghambatnya untuk tetap berkarya.

Untuk merayakan ulang tahunnya, serangkaian kegiatan digelar. Lakon Bila Malam Bertambah Malam, Hah, dan Jepret! dimainkan di Teater Salihara oleh kelompok Teater Mandiri. Lukisannya dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta. Di Galeri Indonesia Kaya digelar lomba monolog dan pembacaan puisi karyanya. Sebuah buku biografi pun akan diterbitkan. Putu konsisten terhadap tema yang diusungnya sejak awal berkarya: bertolak dari yang ada dan teror mental. Kepada Ananda Badudu dari Tempo, I Gusti Ngurah Putu Wijaya bercerita panjang-lebar soal hidupnya, termasuk soal stroke yang belakangan dideritanya.

. tempo : 167066728519

GURU-guru di Sekolah Rakyat dulu keras dan berdisiplin tinggi. Mereka selalu membawa stik rotan untuk memukul murid yang nakal. Kalau belum bunyi bel, tidak ada siswa yang berani keluar dari kelas. Ketika duduk di kelas III Sekolah Rakyat, Tabanan, Bali, saya pernah tak sengaja berak di celana karena takut minta izin ke luar kelas. Tidak ada yang tahu saya berak di celana, hanya baunya yang menyebar di kelas.

Kejadian itu baru ketahuan ketika sa

...
Kuota Artikel Gratis Anda Sudah Habis

Silahkan berlangganan untuk menikmati akses penuh artikel eksklusif Tempo sejak tahun 1971

PAKET TERPOPULER

12 BULAN

696.000

Rp 594.000

  • *Anda hemat -Rp 102.000
  • *Update hingga 52 edisi Majalah Tempo

Pilihan Terbaik

Berlangganan

1 BULAN

Rp 54.945

  • *GRATIS untuk bulan pertama menggunakan Kartu Kredit

Lihat Paket Lainnya

Daftar Tempo ID . Sudah punya akun? Klik Disini

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 4 Desember 2022

  • 27 November 2022

  • 20 November 2022

  • 13 November 2022


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan