Luar Negeri 2/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Perang thatcher lawan spycatcher

Pm margaret thatcher menuntut australia supaya buku "spycatcher" yang mengungkap kebobrokan dinas kontraspionase inggris, m15, dilarang terbit. australia justru tidak keberatan buku itu terbit.

i
MELURUSKAN sejarah, agaknya, penting. Karena itu, pengadilan Sydney, pekan silam, akhirnya, memenangkan Peter Wright, 71, yang bekerja 21 tahun pada dinas kontraspionase Inggris, MI5. Menurut UU Inggris, agen rahasia termasuk Wright, yang kini pensiun terikat sumpah seumur hidup untuk tidak membocorkan rahasia negara. Justru perbuatan terlarang itu yang dilakukan Wright dengan menulis buku Spycatcher. London sengaja mengutus sekretaris kabinet Sir Robert Armstrong ke Sydney, November tahun lalu, khusus menyampaikan tuntutan agar buku itu dilarang terbit. Mengapa? Spycatcher, yang diterbitkan oleh Heinemann, Australia, mengungkapkan beberapa aib, misalnya bahwa Mendiang Sir Roger Hollis, Direktur MI5 selama 9 tahun (1959-1965), ternyata merangkap sebagai agen ganda untuk Uni Soviet. Buku itu juga berkisah tentang sekelompok perwira MI5 yang berusaha menjatuhkan Kabinet Harold Wilson ( 1974-1976). Kendati beberapa agen Inggris membelot jadi agen KGB, seperti Kim Philby, Guy Burgess, Donald Maclean, pengkhianatan seperti yang dilakukan Sir Roger Hollis kalau memang benar -- bagaimanapun mencabik-cabik kehormatan negara. Soalnya, Hollis adalah Direktur MI5. Tidak heran jika pemerintahan Thatcher berusaha keras agar Spycatcher diberangus. Usaha ke arah itu sudah dilakukan sejak dua tahun silam. Dengan dalih "demi keamanan nasional", Inggris berhasil untuk sementara menunda peredaran buku itu September 1985. Kemudian, Juli 1986, pemerintah diberi hak melarang pers Inggris untuk menyebarluaskan petikannya. Pada tahap akhir, Inggris mengutus Sir Robert Armstrong ke Sydney untuk memperjuangkan -- lewat pengadilan -- agar Spycatcher sama sekali dilarang terbit. Dan kali ini mereka gagal. Pengadilan Sydney mengakui hak Wright untuk menerbitkan bukunya -- suatu kejutan yang cukup menggemparkan London, pekan silam. Atas nama pemerintah Inggris, Armstrong meminta agar diberi kesempatan dua minggu untuk membaca berkas vonis setebal 275 halaman, sebelum naik banding. Hakim Agung Philip Powell, sebelumnya, mendesak pihak Inggris agar menyerahkan sejumlah dokumen rahasia sebagai bukti bahwa buku itu memang mengancam keamanan nasional Inggris, sebagaimana yang dikhawatirkan Thatcher. Tapi Armstrong menolak, dengan alasan, "Tindakan ini akan membocorkan pula rahasia intel negara negara sekutu kami." Peter Wright, 71, melewati masa pensiunnya di Tasmania, Australia, sambil menulis kumpulan biografi yang materinya dipetik dari pengalamannya bertugas pada dinas MI5. "Tujuan utama saya menulis buku ini agar masyarakat sadar dan waspada terhadap adanya penetrasi agen rahasia Soviet," katanya. Wright yakin bukunya bisa merupakan dokumen penting sejarah Inggris. Di samping aib Hollis, di situdi beberkan pula adanya dinas rahasia dengan sandi MI6. "Mereka pernah berniat membunuh Presiden Nasser (almarhum) dari Mesir," tulis Wright. Dalam tanya jawab di pengadilan, Armstrong selalu menyangkal adanya dinas intel dengan sandi M16. Tapi Pengacara Malcolm Turnbull terus mendesak. Setelah 90 menit tanya jawab, akhirnya Armstrong mengakui adanya dinas intel dengan nama sandi MI6. Tapi ini tidak menghalangi PM Margaret Thatcher berjuang keras untuk menggagalkan penerbitan buku itu. Maklum, tahun 1981, Thatcher pernah menyangkal keterlibatan Sir Roger Hollis di hadapan sidang parlemen Inggris. Hakim Powell sebaliknya berpendapat tidak ada alasan melarang Spycatcher, karena MI5 yang ingin dilindungi Inggris sudah kebocoran seperti jala. Mengapa pemerintah Inggris ribut-ribut mempersoalkan Spycactcher karya Wright padahal sebelumnya ada buku Their Trade is Treachery karya Wartawan Chapman Pincher, yang juga menelanjangi keborokan MI5 ? Pincher memperoleh bahan justru dari Peter Wright, yang pernah menjabat staf pribadi Sir Michael Hanley, Direktur MI5 (1973-1976). Anehnya, buku Pincher mendapat izin terbit, buku Wright coba dilarang. Alasannya, seperti kata Thatcher, "Mereka yang bekerja pada dinas rahasia tidak berhak menulis memoar." Pihak oposisi ramai menganjurkan agar Inggris tarik diri saja dari sidang pengadilan. Tapi Thatcher berkata, "Kita semua memerlukan sistem keamanan yang baik. Tak ada salahnya kalau kita naik banding." Wanita besi ini rupanya siap untuk "adu kuat" lawan Australia, padahal kasus Spycatcher semakin memojokkan kedudukannya. Dalam pengumpulan pendapat, popularitas Partai Konservatif yang dipimpinnya melorot sampai 37%. Partai Buruh Oposisi meningkat (41%) dan Partai Liberal/SDP 22%. Yulia S. Madjid, Laporan Adi P. (London) & Dewi A. (Melbourne)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831027151



Luar Negeri 2/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.