Kota-kota di Pesisir Indonesia yang Terancam Tenggelam oleh Rob - Lingkungan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hilang Pesisir Ditelan Banjir

Peneliti ITB memperkirakan lebih dari 100 kabupaten dan kota di pesisir berpotensi hilang ditelan banjir laut. Climate Central memprediksi 23 juta penduduk pesisir Indonesia terkena rob akibat naiknya permukaan laut pada 2050.

 


i Seorang pria mengumpulkan sisa material dari rumahnya yang rusak akibat rob di pesisir Desa Sriwulan, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Januari 2018. ANTARA/Aji Styawan
Seorang pria mengumpulkan sisa material dari rumahnya yang rusak akibat rob di pesisir Desa Sriwulan, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Januari 2018. ANTARA/Aji Styawan
  • Penelitian Tim Geodesi Institut Teknologi Bandung memperkirakan lebih dari 100 kota dan kabupaten di pesisir berpotensi tenggelam oleh banjir laut. .
  • Laporan Climate Central memprediksi 23 juta penduduk Indonesia terkena dampak banjir laut akibat naiknya permukaan laut pada 2050.
  • Pemicu banjir laut di Indonesia lebih disumbang laju penurunan tanah ketimbang kenaikan permukaan air laut. .

MENELITI potensi banjir laut yang mengancam Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Heri Andreas gundah karena minimnya masyarakat yang menyadari ancaman tersebut. Anggota Tim Geodesi Institut Teknologi Bandung itu telah membuat model banjir laut alias rob yang rutin menggenangi kota tersebut sepuluh tahun belakangan. “Karena terjadi di ujung tahun sehingga tampak seperti fenomena alam yang umum. Genangannya pun baru 20 sentimeter,” kata Heri, menduga penyebab ketidakpedulian masyarakat.

Menurut Heri, Kota Pontianak tidak langsung berada di bibir pantai, melainkan agak masuk ke daratan. Namun posisinya tak terlalu jauh dari laut, kurang dari 10 kilometer. Rob masuk ke kota tersebut melalui Sungai Kapuas ketika terjadi pasang atau gelombang tinggi air laut. “Dulu belum terasa karena tanahnya masih tinggi, lama-lama tanahnya turun sehingga baru mulai terasa. Terutama di sekitar Sungai Kapuas, dekat daerah muaranya,” ujar pengajar di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB itu, Sabtu, 2 Mei lalu.

Untuk membikin model rob Pontianak, Heri dan tim melakukan survei lapangan pada Januari lalu. Mereka kemudian mengolah data berupa citra satelit dan global positioning system untuk mengukur penurunan tanah (land subsidence) secara berkala. “Ketemu nilai land subsidence 2-4 sentimeter per tahun,” tutur Heri. Dia merasa beruntung memperoleh data light detection and ranging untuk topografi Pontianak yang sudah landai, yakni 1-5 meter di atas permukaan laut.


Melihat tren laju ambles tanah ditambah topografi yang sudah landai itu, Heri mengatakan banjir rob bakal menjadi ancaman serius bagi Pontianak dan wilayah pesisir lain di Kalimantan Barat. Saat ini saja, desa-desa yang lebih dekat ke laut, seperti di Mempawah dan Sungai Kakap, mengalami rob setiap pagi meskipun genangan menghilang siangnya. “Gubernur maunya merelokasi penduduk karena kalau ditanggul lebih repot,” ucap Heri.

Pada Desember 2019, Climate Central—organisasi saintis dan jurnalis independen yang berbasis di Princeton, Amerika Serikat—merilis laporan bertajuk “Flooded Future: Global vulnerability to sea level rise worse than previously understood”. Laporan itu menyebutkan sekitar 23 juta penduduk pesisir di Indonesia terancam banjir laut tahunan pada 2050 akibat naiknya muka air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Jumlah itu naik 4,6 kali lipat dari perkiraan sebelumnya yang sebanyak 5 juta jiwa.

Menurut riset Heri, pemicu banjir laut di Pontianak dan kebanyakan pesisir Indonesia lebih disumbang laju ambles tanah ketimbang naiknya permukaan air laut. “Kenaikan muka air laut di Indonesia itu sekitar 1 sentimeter per tahun. Sedangkan penurunan tanah berkisar 1-20 sentimeter per tahun,” ujarnya. Dia memberikan contoh, di pantai utara Jawa ada daerah yang ambles sampai 10 sentimeter per tahun, sementara muka air lautnya naik 6 milimeter per tahun.

Heri menjelaskan, terdapat tujuh faktor pemicu amblesnya tanah, dari pemadatan atau kompaksi alami, eksploitasi air tanah, eksploitasi minyak dan gas, pengeringan lahan gambut, geotermal, tektonis, hingga beban urukan. “Lahan Pontianak berjenis gambut dan tanah lunak sehingga pengeringan lahan dan beban bangunan kota membuat penurunan tanah. Di beberapa titik ada pengambilan air tanah, seperti di lokasi kolam renang,” katanya.

Jika penurunan muka tanah terus berlangsung bertahun-tahun tanpa ada usaha pencegahan, Heri melanjutkan, makin luas kawasan yang terendam rob. Heri merujuk pada kejadian di Jakarta saat ini, ketika rob sudah masuk hingga 1-2 kilometer, terjauh sampai ke Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Menurut dia, yang lebih parah adalah Pekalongan karena rob masuk ke kota sampai 5 kilometer dan Kabupaten Demak lantaran rob menyelusup sejauh 8 kilometer dari pantai.

Heri memperkirakan lebih dari 100 kabupaten dan kota yang berada di pesisir Indonesia terancam tenggelam dan daratannya hilang. Di Sumatera, daerah di pesisir timur, dari Aceh sampai Lampung, berpotensi tenggelam. Begitu pula di Kalimantan, dari pesisir barat di Singkawang hingga timur di Samarinda. Di Sulawesi, daerah yang terancam adalah Donggala dan Mamuju. Sedangkan di Papua dari Sorong dan Kaimana hingga Asmat dan Merauke.

Menurut Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Rokhis Khomarudin, kebanyakan kota besar di Indonesia berada di dekat pantai sehingga sangat dimungkinkan bila kota-kota tersebut terkena dampak banjir, baik dari laut maupun dari hulu sungai. “Namun kajian terkait land subsidence perlu dilakukan secara mendalam untuk memastikan tingkat dampak yang ditimbulkan,” tutur Rokhis menjawab surat elektronik Tempo, Selasa, 5 Mei lalu.

Menurut Rokhis, lembaganya tengah mengkaji data satelit synthetic aperture radar (SAR) untuk menghasilkan model penurunan tanah. Kajian itu juga akan menghasilkan informasi penurunan tanah di lima kawasan perkotaan di pantai utara, yaitu Jakarta-Tangerang-Bekasi, Cirebon Raya, Pekalongan Raya, Kendal-Demak-Ungaran-Salatiga-Semarang-Purwodadi, dan Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan. “Itu permintaan Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) sesuai dengan Program Nasional Pengamanan Kawasan Pesisir Perkotaan di Pulau Jawa,” ucap Rokhis.

Rokhis menjelaskan, dengan menggunakan data satelit pengindraan jauh seperti SAR, dampak rob bisa dilihat melalui identifikasi area-area yang tergenang rob ketika kejadian masih berlangsung dan sesaat setelah kejadian. Menurut dia, tidak hanya luas area yang terkena dampak, nilai kerugian dari rusaknya bangunan dan infrastruktur juga bisa ditaksir. Kelebihan teknologi pengindraan jauh itu, kata dia, adalah dapat meliput area yang lebar dan memantau secara periodik. “Jadi setiap perubahan fisik dapat diamati, termasuk abrasi, akresi, dan kerusakan ekosistem pesisir,” ujarnya.

DODY HIDAYAT, ANWAR SISWADI (BANDUNG)

2020-08-05 06:08:46

Banjir Pantura banjir ITB Kota Pontianak

Lingkungan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.