Kisah Rianto dan Otniel - Layar - majalah.tempo.co

Layar 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kisah Rianto dan Otniel


Pentas lengger kontemporer memadukan lengger dengan kesenian lain. Dari tari kontemporer Jepang hingga dangdut pantura.

Tempo

Edisi : 28 September 2018
i Rianto dibopong penari lain saat pentas di Festival Kendalisada, Banyumas, 15 September lalu. -TEMPO/Shinta Maharani
Rianto dibopong penari lain saat pentas di Festival Kendalisada, Banyumas, 15 September lalu. -TEMPO/Shinta Maharani

PENARI lengger lanang Rianto pingsan. Dia kerasukan. Lalu ia duduk bersimpuh. Kepalanya yang bergelung dan berhias bunga menggeleng-geleng. Tubuhnya terguncang-guncang. Rianto, yang berkacamata hitam, tak lama kemudian sadar dan kembali berdiri. Ia menari bersama delapan penari lengger lanang lain.

Semua penari laki-laki itu mengenakan kostum penari perempuan. Kemben dan selendang yang mereka kenakan berwarna cerah. Ada yang merah, kuning, biru, dan hijau.

Sembilan penari lengger lanang itu mengajak penonton berjoget dengan iringan musik dangdut pantura. Para penari mengalungkan sampurnya kepada penonton yang maju ke panggung. Pentas mereka berlangsung pada malam kedua Festival Kendalisada, 14-16 September lalu, di Bukit Kendalisada, Banyumas, Jawa Tengah.

Malam itu Rianto, koreografer asal Banyumas yang piawai menari lengger, mementaskan karyanya yang berjudul Lengger Sintren bersama penari lengger lanang Banyumas-Purwokerto. Dia menggabungkan kesenian lengger dan sintren. ”Lengger Sintren karya garapan saya tahun 2009. Biasanya saya menarikan karya ini seorang diri,” kata Rianto seusai pentas.

Gending selawatan Lir-ilir, Turun Sintren, Renggong Manis, dan Eling-eling mengiringi tarian lengger lanang. Rianto menggunakan gending gaya pantura atau dangdut untuk mengajak penonton berjoget.

Lengger Seblaka Sesutane dan Otniel Tasman di Festival Kendalisada, 14 September lalu. -TEMPO/Shinta Maharani

Rianto dikenal sebagai penari lengger asal Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, yang punya jaringan luas di tingkat internasional. Ia kini bermukim di Jepang dan menikah dengan orang Jepang. Rianto menjadi Direktur Artistik Kelompok Tari Dewandaru di Jepang.

Dia belajar tari di Institut Seni Indonesia Surakarta dan mendalami tari tradisi lengger Banyumas sejak bocah. Ia belajar menari sejak umur 15 tahun. Rianto berkeliling Desa Kaliori. Ia sering menggelar pentas di Kalibagor, Cilacap, dan Purwokerto. ”Saya diundang kalau ada upacara bersih desa atau upacara adat,” ujarnya.

Untuk menjadi penari lengger, menurut Rianto, umumnya ada persyaratan tertentu, misalnya puasa sebagai laku prihatin dan mandi di sumur-sumur tua. Dia mengaku menjalani ritual puasa. Kiprah Rianto sebagai penari lengger telah diakui kalangan internasional. Ia sering berkolaborasi dengan koreografer tari dari Jepang, di antaranya Akiko Kitamura.

Rianto menampilkan karya berjudul Medium dalam Indonesian Dance Festival di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta, pada 2016. Koreografi ini merupakan perjalanan tubuh Rianto dari tubuh personal hingga sosial. Medium menggunakan garapan dramaturgi dari sutradara Garin Nugroho.

Pada 2018, Garin menciptakan film berjudul Memories of My Body (Kucumbu Tubuh Indahku) yang terinspirasi dari Rianto. ”Garin membuat film soal perjalanan ketubuhan saya yang mengalami diskriminasi,” kata Rianto. Garin tertarik membuat narasi tentang Rianto kecil hingga dewasa. Film dengan tokoh-tokoh fiksi itu berbicara tentang perjalanan tubuh Rianto yang maskulin dan feminin dalam satu tubuh.

Film itu menggambarkan Rianto yang mengalami banyak tekanan dan tragedi, misalnya berbagai bentuk kekerasan. ”Garin menggambarkan situasi yang dialami Rianto-Rianto di Indonesia. Penari lengger lanang kurang mendapat tempat di Indonesia,” ucap Rianto.

Sebelum Rianto dan delapan penari lengger lanang tampil, panggung diisi oleh penampilan Lengger Seblaka Sesutane dan Otniel Tasman. Otniel menampilkan tari lengger yang menggunakan gending-gending lawas Gunung Sari Kalibagoran. ”Ini semacam repertoar gending lawas yang kami garap kembali,” katanya.

Otniel tampil bersama seorang penari lengger lanang dan enam penari lengger perempuan. Mereka menampilkan lengger kontemporer dengan vokal khas Banyumasan. Semua penari mengenakan pakaian lengger yang sama, yakni kemben merah, selendang putih dan merah-kuning, serta jarit cokelat kombinasi putih.

Di tengah-tengah penampilan mereka terdapat senggakan-senggakan penuh humor untuk mencairkan suasana. Sama seperti penampilan Rianto dan penari lengger lanang lain, Otniel mengajak penonton menari di akhir pentas.

Otniel dikenal menciptakan tari kontemporer dari tradisi lengger Banyumasan. Pada 2018, ia menampilkan tari bertajuk Cablaka di Teater Salihara, Jakarta. Alumnus Institut Seni Indonesia Surakarta ini tampil dengan musik dangdut tanpa menghilangkan musik calung serta cengkok dan karakteristik Banyumasan.

Otniel juga membuat Lengger Laut, yang berkisah tentang penari lengger laki-laki terakhir, Dariah. Konsep Lengger Laut adalah menghidupkan sekaligus mengembangkan lengger lanang. Lengger Laut menampilkan enam penari lengger lanang.

Otniel mengatakan ia pernah tampil bersama Dariah di Taman Budaya Surakarta dalam Lengger Laut. ”Mbok Dariah tampil di bagian akhir pertunjukan. Dia membuat penonton menangis. Energinya luar biasa,” ujarnya.

Dariah, kata Otniel, memegang kehidupan lengger yang sesungguhnya. Ia menjadi panutan dan idola masyarakat Banyumas. Dari pertunjukan itu, Otniel optimistis telah menginspirasi sejumlah penari lengger lanang Banyumas. Di Banyumas kini mulai muncul penari lengger lanang muda. Selain Rianto dan Otniel, ada Agnes dari Binangun. Nama asli Agnes adalah Agus Widodo. Dia pernah tampil bersama Dariah di petilasan Manggisari, Desa Somokaton, Somagede, Banyumas, pada 2014.

Malam itu, di Festival Kendalisada, Agnes tampil bersama seorang penari lengger lanang yang juga tampil atraktif dengan mengajak penonton berinteraksi. Seorang penari laki-laki yang berpakaian laki-laki mengiringi dua penari lengger laki-laki di tengah pertunjukan. Penari lengger yang lebih muda dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Banyumas tampil penuh energi dan menghibur.

Penari lengger dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Banyumas di Festival Kendalisada, 15 September lalu. -TEMPO/Shinta Maharani

Pentas lengger lanang pada malam kedua festival dipenuhi sebagian penonton yang datang dari sejumlah negara, di antaranya Jepang, Amerika Serikat, dan Italia. Seorang penonton asal Amerika, Ari Rudenko, turut berjoget ketika Otniel tampil.

Rudenko, seniman asal Negeri Abang Sam, dikenal sering tampil di sejumlah festival di Indonesia, antara lain Jogja International Arts Festival pada 2017. Bagi dia, nama Rianto dan Otniel tidak asing. Rudenko pernah menyaksikan pentas Otniel pada beberapa pertunjukan sebelumnya. ”Malam ini Otniel tampak bahagia saat pentas,” ujarnya. Penonton asal Jepang, Taka Takiguchi, mengatakan tak mengenal sejarah lengger lanang. Ia belum menemukan literatur tentang lengger lanang dalam bahasa Inggris. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah penari lengger lanang Agnes. ”Dia tampil ekspresif,” katanya.

SHINTA MAHARANI

2020-02-24 09:58:09

Kesenian

Layar 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.